English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

Dialog 9 Malam Jilid 3

MALAM  KEENAM
Kitab Al Qur’an dan Kitab Bibel
A:     Pembicaraan kita yang berkenaan dengan dosa waris, saya rasa telah cukup.
B:     Sudah cukup jelas uraian bapak pada pertemuan yang terdahulu. Dan saya telah mencocokkan ayat-ayat Al Qur’an yang disebutkan bapak kemarin malam lalu dengan kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia kepunyaan saya, semuanya cocok baik tentang surat-suratnya maupun ayat-ayatnya. Semua yang bapak sebutkan cocok dan tepat serta kami pikir-pikir di rumah tentang ayat Bibel dan Al Qur’an yang bapak tunjukkan ayat-ayatnya ternyata dosa waris dan oper pahala dan oper dosa itu tidak mungkin ada malah tidak masuk di akal.
A:     Syukur kalau saudara telah mengakuinya, sekarang kita bicarakan soal-soal lainnya, dan saya serahkan kepada saudara saja mengenai acaranya. Terserah saudara soal yang akan diajukan.
B:     Baiklah kami mulai; kami pernah membaca ayat-ayat Al Qur’an yang tampaknya pada kami ada juga perselisihan antara satu ayat dengan ayat lainnya, sehinga menimbulkan keragu-raguan; apakah mungkin Nabi Muhammad sendiri yang keliru menyampaikan wahyu dari Allah. Kalau betul beliau seorang Nabi, tentu tidak mungkin beliau salah menerimanya atau menyampaikannya, ataukah memang ayat-ayat Al Qur’an nya yang berselisihan.
A:     Baiklah saudara terangkan saja ayat-ayat Al Qur’an yang saudara maksudkan itu.
B:     Kami telah membaca ayat-ayat Al Qur’an mengenai asal kejadian manusia dalam kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, dalam sebuah surat yang nampaknya antara satu ayat dengan ayat yang lain ada berselisihan sehingga timbul dalam pikiran saya bukan Bibel saja yang berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al Qur’an demikian juga.
A:     Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al Qur’an yang akan ditanyakan, Insya Allah yang diragukan oleh saudara itu akan terhapus.
B:     Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca.
1 .      Di kitab Al Qur’an surat Ar Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari tanah yang dibakar.
2 .      Di surat Al Hijr ayat 28 menyebutkan: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari  tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).
3 .      Disurat As Sajadah ayat 7 menyebutkan: "dan Tuhan menciptakan manusia dari Tanah"
4 .      Di surat Ash Shafaat ayat 11 menyebutkan: "Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari tanah liat"
5 .      Di surat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: "Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada tanah"
Lima ayat yang saya sebutkan ini antara satu dengan ayat yang lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat  ketiga menyebutkan dari "tanah", diayat ke empat menyebutkan daripada "tanah liat". Di ayat kelima menyebutkan dari pada "tanah". Bukankah ayat-ayat Al Qur’an nyata-nyata berselisihan antara yang satu dengan yang lain.
A:      Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.
B:     Kami ingin bertanya; yang manakah yang benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari tanah yang dibakar, apakah dari tanah kering dan lumpur, atau dari pada tanah biasa, atau dari tanah liatkah ?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al Qur’an terdapat perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dengan jelas dan tepat.
A:      Di kitab Al Qur’an ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yang hadir disini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yang saudara bacakan artinya tadi.
Pertama : Di surat Ar Rahman ayat 14:  "Dia (Allah) menjadikan manusia seperti tembikar, (tanah yang dibakar)". Yang dimaksudkan dengan kata "Shal-shal" di ayat ini ialah : Tanah kering atau setengah kering  yakni "Zat pembakar" atau Oksigen.
Kedua: Di ayat itu disebutkan juga kata "Fakhkhar", yang maksudnya ialah "Zat Arang" atau Carbonium.
Ketiga: Di surat Al Hijr, ayat 28: "dan ingatlah ketika Tuhanmu  berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari  tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa)" . Di ayat ini. Tersebut juga "shal-shal", telah saya terangkan, sedangkan kata "Hamaa-in" di ayat tersebut ialah "Zat Lemas" atau Nitrogenium.
Keempat : Di surat As Sajadah ayat 7: "Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada "tanah"". Yang dimaksud dengan kata  "thien" (tanah) di ayat ini ialah "Atom zat air" atau Hidrogenium.
Kelima: Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: "Sesungguhnya  Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada Tanah Liat". Yang dimaksud dengan kata "lazib" (tanah liat) di ayat ini ialah "Zat besi" atau ferrum.
Keenam: Di Surat Ali Imran ayat 59: " Dia (Allah) menjadikan Adam daripada tanah kemudian Allah berfirman kepadanya "jadilah engkau, lalu berbentuk manusia". Yang dimaksud dengan kata "turab" (tanah) di ayat ini ialah: "Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah" yang dinamai "zat-zat anorganis".
Ketujuh: Di surat Al Hijr ayat 28: "Maka setelah Aku  (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan ruh-Ku kepadanya (Ruh daripada-Ku)"
Ketujuh ayat Al Qur’an yang saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yang keenam tentang kata "turab" (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara "Fakhkhar" yakni Carbonium (zat arang) dengan "shal-shal" yakni Oksigenium (zat pembakar) dan "hamaa-in" yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air).
Jelasnya adalah persenyawaan  antara:
  1 .  Fachchar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman ayat 14.
  2 .  Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar Rahman ayat 14.
  3 .  Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dalam surat Al Hijr ayat 28
  4 .  Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As Sajadah, ayat 7.
Kemudian bersenyawa  dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan mangaan, yang disebut "laazib" (zat-zat anorganis) dalam surat As Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut "Turab" (zat-zat anorganis) dalam surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah "Zat Kalium", yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya "Proteinisasi", menjelmakan "proses penggantian" yang disebut "Substitusi". Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga "sebab ujud" atau Causa Formatis.
Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika.
Cukup jelas tentang ayat-ayat Al Qur’an yang saudara sangka berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya  bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia. Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al Qur’an yang saya sampaikan pada saudara? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.
B:     Sangat jelas, malah betul-betul ilmiah dan saya tidak mengira sekali bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu mengandung ilmu pengetahuan yang tinggi. Mengenai kesanggupan bapak yang akan menerangkan atau menguraikan proses asal kejadian tubuh rohani manusia itu, betul-betul menarik. Tetapi saya mohon di beri waktu yang khusus.
A:     Baiklah sekarang kita lanjutkan: Tentunya saudara pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Beliau tidak tahu tulis baca, tidak pernah belajar ilmu kepada siapapun, tidak pernah berguru dan belum pernah sama sekali bergaul dengan orang pandai.
B:     Ya, saya pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Nah, kalau Nabi Muhammad seorang yang buta huruf, tidak pernah belajar ilmu, maka dari siapakah atau dari manakah beliau mengetahui tentang kejadian manusia secara ilmiah yang pada zaman ini dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang asal kejadian manusia dari segi ilmu urai (Anatomi), Ilmu Kimia, Ilmu hayat (biologi), dan dari segi ilmu alam sampai kepada rohaniahnya.
A:     Maka dari manakah beliau belajar ilmu urai, kepada siapakah beliau belajar ilmu kimia, ilmu hayat, ilmu alam dan soal-soal kerohanian, kalau bukan wahyu dari tuhan Allah SWT. Dan tidak mungkin beliau menerima wahyu dari Allah sekiranya beliau bukan seorang Nabi dan Rasul.
B:     Tetapi ada juga orang yang tidak pernah belajar dan bersekolah, buta huruf, tetapi menjadi orang-orang besar.
A:     Coba saudara sebutkan nama-nama orang yang tidak pernah belajar (buta huruf), lalu mengaku jadi Nabi dan menerima wahyu, dan berhasil membentuk suatu masyarakat dan negara yang mengagumkan para ahli sejarah dan mempunyai pengikut beratus juta manusia setiap masa dan zaman. Sebutkan nama orang yang saudara maksudkan itu.
B:     Ya, tidak ada.
A:     Memang tidak ada, baiklah saya tanyakan, kalau saudara berpegang dengan keterangan saudara bahwa Nabi Muhammad itu bukan Nabi dan Rasul, karena ada juga orang yang buta huruf menjadi orang besar, maka kalau Yesus itu anak Tuhan, karena dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati, dilahirkan tanpa Ayah dan dipenuhi juga dengan ruhul kudus, maka selain Yesus terdapat juga orang lahir tanpa Bapak, dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati sebagaimana tersebut dalam kitab Injil. Kisah Rasul pasal 6 ayat 5, pasal 5 ayat 31; Kitab Raja-raja kedua pasal 13 ayat 21; Matius pasal 5 ayat 9; Kitab Raja-raja kedua pasal 5 ayat 10 mengapa mereka itu tidak Tuhan juga, mengapa kepada Nabi Muhammad saudara berkeberatan untuk mengakui beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, sedangkan kepada Yesus saudara tidak Berkeberatan mengakuinya sebagai Tuhan, padahal kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh Yesus, orang lain dapat juga melakukannya.
B:     Baiklah kalau begitu.
A:     Baik yang bagaimana yang saudara maksudkan.
B:     Keterangan-keterangan bapak adalah baik dan memuaskan saya dan saya diberi waktu untuk menentukan keputusan saya sampai besok malam atau malam pertemuan berikutnya.
A:     Baiklah saya serahkan sepenuhnya atas pertimbangan saudara, Kami tidak berhak memaksa saudara, atau mempengaruhi saudara. Kita hanya bermusyawarah dan bersoal jawab tentang hasilnya terserah atas pertimbangan masing-masing.
B:     Baiklah kita lanjutkan Besok Malam.


MALAM KETUJUH
Mengakui Nabi Muhammad SAW Utusan Allah
A:     Sesudah saya terangkan pada saudara tentang ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang proses asal kejadian manusia yang saudara tanyakan ayat-ayatnya kemarin malam itu, apakah terdapat pertentangan? Apakah Nabi Muhammad ada kekeliruan menyampaikan sebagaimana saudara sangka semula?
B:     Tidak ada, Bapak telah menerangkan dari segi Ilmiah yang seharusnya secara jujur saya mempercayainya.
A:     Jadi Nabi Muhammad Benar, tidak kelirukah penyampaiannya
B:     Tidak keliru, malah benar.
A:     Jadi saudara mengakui bahwa Nabi Muhammad benar sebagai Rasul Allah.
B:     Saya mengakui, karena beliau benar.
A:     Terima kasih , Saudara-saudara yang hadir menyaksikan sendiri pengakuan saudara Antonius sendiri atas ke Rasulannya Nabi Muhammad SAW, tanpa paksaan, melainkan dengan kesadarannya sendiri setelah berlangsung dengan diskusi. Betulkah saudara mengakui kerasulannya Nabi Muhammad dan mengakui Nabi Muhammad itu utusan Allah.
B:     Betul, dengan saksi Tuhan saya mengakuinya.
A:     Alhamdulillah, saudara Antonius sudah 50 % Islam. Saya katakan 50% Islam oleh karena hanya mengerti dan mempercayai atas kerasulan Nabi Muhammad, jadi masih tinggal 50% lagi, oleh karena Saudara belum meyakinkan atas ke Esaan Tuhan yang Maha Tunggal .
B:     Ya, betul begitu. Keyakinan saya terhadap Trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus) masih belum lenyap sama sekali, walaupun Bapak telah menerangkan Kitab Bibel yang tak dapat saya membantahnya. Akan tetapi dengan keterangan-keterangan bapak saya mulai ragu-ragu terhadap Trinitas itu. Sungguhpun begitu, apakah bapak masih bersedia lagi memberikan keterangan-keterangan (alasan-alasan) dalam kitab Bibel yang menyebutkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan.
A:     Sebetulnya pada pertemuan kita yang pertama telah saya sebutkan berdasarkan kitab Injil sendiri bahwa Yesus bukan Tuhan seperti telah Saudara Periksa sendiri dalam Matius pasal 1 ayat 16; Markus pasal 13 ayat 32; Ulangan pasal 4 ayat 33; Ulangan pasal 6 ayat 4; Markus pasal 12 ayat 29. Kesemuanya itu telah kita baca. Tetapi demi untuk memenuhi pengharapan saudara agar lebih meyakinkan, saya lanjutkan lagi. Silahkan baca Lukas pasal 4 ayat 1 dan 2.
B:     Baik, di sini disebutkan : "Maka Yesuspun penuhlah dengan Rohul Kudus, balik dari Yarden, lalu Roh itu membawa Dia ke padang belantara. Empat puluh hari lamanya dicobai Iblis. Selama itu suatu apapun tiada dimakannya. Setelah genap hari itu ia merasa lapar.
A:     1.    Diayat ini menyebutkan bahwa Rohul Kudus membawa Yesus ke padang belantara.
        Kalau Yesus itu tuhan, mustahil akan dapat dibawa oleh siapapun juga.
    2 .Diayat ini menyebutkan bahwa Yesus dicobai oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dicobai oleh Iblis atau wajarkah Iblis berani mencobai Tuhan.
    3 .Di ayat inipun ada menyebutkan  bahwa Yesus merasa lapar. Wajarkah Tuhan itu lapar? Kalau begitu sifat-sifat Yesus itu sama saja dengan sifat manusia biasa; bisa dibawa, bisa dicobai iblis dan merasa lapar.
Periksa lagi Matius pasal 4 ayat 5
B:     Baik , di situ menyebutkan: "Kemudian dari pada itu Iblis itupun membawa Yesus ke negeri suci, lalu ditaruhnya Dia di atas bumbung bait Allah"
A:     Di ayat ini ada menyebutkan bahwa Yesus dibawa oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis. Wajarkah Tuhan tunduk kepada kemauan Iblis sehingga dibawa kemana-mana, kesuatu tempat. pantaskah Iblis begitu berani kepada Tuhan.
Periksa lagi Matius pasal 27 ayat 1 dan 2
B:     Baik, di situ menyebutkan : "Setelah hari siang, maka segala kepala Imam dan orang tua-tua kaum pun berundinglah atas hal Yesus supaya dibunuhkan Dia. Maka diikatnya Dia serta dibawa pergi, lalu diserahkan kepada Pilatus, yaitu wakil pemerintah"
A:     Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus diikat; pantaskah Tuhan dapat diikat oleh manusia. Kalau begitu dimanakah kekuatan Tuhan, sehingga dengan rela menyerahkan dirinya kepada manusia? Periksa lagi Lukas pasal 2 ayat 21.
B:     Baik, di situ menyebutkan:  "Apabila genap delapan hari, Ia bersunat, lalu disebut namanya Yesus.."
A:     Wajarkah Tuhan itu disunat? Perlu apakah Tuhan itu disunat?
B:     Apakah ada keterangan yang lebih tegas bahwa Yesus itu benar-benar anak manusia bukan anak Tuhan?.
A:     Silahkan buka Matius pasal 26 ayat 2
B:     Baik, disitu menyebutkan bahwa: Anak manusia akan diserahkan supaya disalibkan.
A:     Yang dimaksud anak manusia di situ Yesus.  Jadi  jelaslah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Silahkan periksa di Matius pasal 5 ayat 45.
B:     Baik, di situ menyebutkan bahwa: Supaya kamu menjadi anak Bapamu ….. dan seterusnya.
A:     Di sini menyebutkan bahwa orang-orang yang taat kepada Tuhan, menurut Yesus akan menjadi anak Tuhan. Jadi bukan saya yang mengatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan yang Tunggal, melainkan anak-anak tuhan itu akan bertambah lagi jumlahnya, berdasarkan  kitab Bibel sendiri di Matius pasal 5 ayat 45 yang kita baca tadi ialah: "Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu…" Silahkan buka Matius pasal 7 ayat 21.
B:     Di situ menyebutkan: "Bukannya tiap-tiap orang yang menyeru aku Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, hanyalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga.
A:     Di Bibel sendiri jelas, bahwa Yesus menyangkal malah menolak kepada orang yang menyerukan: "Tuhan, Tuhan" kepadanya, malah orang itu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga. Apakah belum cukup bukti-bukti yang telah saya tunjukkan kepada saudara.
B:     Sudah Cukup. Terima kasih; tetapi kalau masih ada, saya minta, demi kepuasan saya
A:     Minta yang mana lagi yang saudara maksudkan.
B:     Yang menyebutkan di kitab Injil bahwa Yesus anak manusia "bukan anak tuhan"
A:     Baik, akan saya penuhi harapan saudara, silahkan saudara periksa di Matius pasal 16 ayat 27.
B:     Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: "Karena anak manusia datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya"
A:     Di ayat ini ada menyebutkan anak manusia, menurut tafsiran saudara, siapakah yang dimaksudkan dengan anak manusia di ayat ini.
B:     Ya, tentu Yesus.
A:     Jadi dikitab Injil sendiri ada menyebutkan bahwa Yesus itu adalah "anak manusia"; bukan anak Tuhan, betulkah atau tidak.
B:     Ya, betul.
A:     Nah, kalau betul, mengapa saudara menyebutkan Yesus anak Tuhan?
B:     Yesus itu Tuhan tapi diserupakan dengan manusia.
A:     Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa diperanakkan oleh manusia (Maria). Yesus berupa manusia karena diperanakkan oleh manusia (Maria). Terlalu janggal kalau manusia (Maria) memperanakkan Tuhan. Bisakah ilmu pengetahuan lahir maupun ilmu pengetahuan bathin (Kerohanian) menerima bahwa ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia? Bisakah ilmu pengetahuan exact maupun yang abstract (Exact abstract Wetenschap) menerimanya?
B:     Ya, memang mustahil ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia.
A:     Bukan itu saja, malah di kitab Injil saudara Yesus sendiri yang berkata bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan Utusan Tuhan. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayatnya pada pertemuan kita yang lalu.
B:     Betul, telah bapak sebutkan. Tetapi saya minta di ulangi lagi ayatnya, oleh karena saya agak lupa susunannya.
A:     Silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 30
B:     Di pasal dan ayat ini menyebutkan: "Suatupun tiada aku dapat berbuat menurut kehendak sendiri, melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana aku dengar, dan hukuman itu adil adanya; karenanya bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku".
A:     Ayat ini tegas sekali, jelas menunjukkan bahwa Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan. Di ayat ini Yesus memberitahukan bahwa ia tidak berbuat menurut kehendak Tuhan, maka wajarkah Tuhan tidak dapat berbuat sekehendaknya, dan pantaskah ada Tuhan disuruh (diutus) menjadi utusan.
B:     Ya, saya mengaku; Yesus sendiri mengaku bukan anak Tuhan.
A:     Demi kepuasan saudara silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13
B:     Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: "Seorangpun tidak naik ke surga, kecuali Ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia"
A:     Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang saya tunjukkan dan saudara sendiri yang memeriksa dan membacanya itu, maka sekali lagi saya bertanya: "Anak manusiakah Yesus itu atau anak tuhan"?.
B:     Ya, berdasarkan ayat-ayat tersebut saya berkata: "Yesus adalah anak manusia"
A:     Di ayat yang saudara baca tapi, Matius pasal 16 ayat 27, selain menyebutkan bahwa Yesus itu anak manusia, juga menyebutkan bahwa akan membalas tiap-tiap orang menurut perbuatannya. Betulkah begitu? silahkan periksa kembali.
B:     Ya, betul di ayat itu ada menyebutkan.
A:     Menurut susunan ayat tersebut, jelas: "Menolak adanya dosa waris", berdasarkan ayat tersebut setiap orang akan dibalas menurut perbuatannya masing-masing, jadi tidak ada penebus dosa.
B:     Ya, tentang dosa waris telah selesai kita bicarakan dan memang saya telah mengakui "tidak ada dosa waris".
A:     Betul, sudah kita bicarakan, saya hanya menambah saja, untuk lebih menguatkan lagi keterangan yang lalu.
B:     Sudah cukup jelas keterangan Bapak.
A:     Jelas bagaimana?
B:     Berdasarkan ayat-ayat Injil sendiri bahwa Yesus itu bukan anak tuhan melainkan anak manusia. Dan berdasarkan kitab Injil menyebutkan bahwa Yesus sendiri mengakui ia bukan anak Tuhan, melainkan "pesuruh (Utusan) Tuhan"
A:     Syukurlah kalau begitu. Jadi bagaimanakah kepercayaan saudara sekarang terhadap "Trinitas" (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus).
B:     Dengan sendirinya kepercayaan saya terhadap Trinitas terhapus.
A:     Alhamdulillah, jadi saudara mengakui bahwa Tuhan itu TUNGGAL.
B:    Sebelum itu saya ingin menyampaikan pertanyaan
A:     Baik, tetapi saudara telah mengakui pada pertemuan yang lalu dan saudara-saudara yang hadir juga telah ikut menyaksikan bahwa: Pertama, Saudara telah membenarkan kitab Al Qur’an. Beberapa ayat Al Qur’an yang saudara kemukakan yang pada mulanya oleh saudara dianggap berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, setelah saya terangkan dan saya tafsirkan, lalu saudara akui bahwa ayat-ayat tersebut pada hakikatnya tidak ada  perselisihannya antara yang satu dengan yang lain. Bukankah begitu pengakuan saudara.
B:     Ya, betul begitu
A:     Kedua, Pada pertemuan yang lalu saudara telah mengakui kebenaran nabi Muhammad SAW selaku Utusan Tuhan, betulkah demikian
B:     Ya, betul saya telah mengakuinya.
A:     Ketiga, Saudara telah membenarkan bahwa ayat-ayat di kitab Injil (Bibel) terdapat beberapa ayat yang berselisih antara yang satu dengan yang lain. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayat-ayatnya pada pertemuan yang lalu, benarkah pengakuan saudara itu.
B:     Ya, saya mengakui. Akan tetapi saya masih memerlukan bukti-bukti yang lain tentang ayat-ayat Injil yang ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain, demi kepuasan bagi saya, walaupun sebenarnya keterangan bapak saya pandang cukup memuaskan. Tetapi mungkin ada lagi ayat-ayat yang lain untuk meresapnya ke perasaan saya.
A:     Baiklah, saya penuhi pengharapan saudara, silahkan saudara periksa kitab Yahya pasal 8 ayat 14
B:     Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: "Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksian itu"
A:     Silahkan periksa lagi Yahya 5 ayat 31.
B:     Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: "Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku tidak benar"
A:     Nah, saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini. Di satu ayat menyebutkan: "Kesaksianku benar", sedangkan di ayat lain menyebutkan "Kesaksianku tidak benar". Dua ayat yang berselisih itu, tersebut di kitab suci. Dan yang berbicara adalah seorang. Manakah yang benar antara dua ayat ini. Wajarkah di dalam kitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.
B:     Ya, saya akui memang tidak cocok.
A:     Bukan saja tidak cocok, tetapi adalah satu selisih yang menyolok.
B:     Tetapi mungkin salah satu dari ayat tersebut salah cetak.
A:     Sekiranya salah cetak, tentunya ada ralat; tetapi di kitab ini tidak disebutkan apa-apa.
B:     Bibel ini berbahasa Indonesia, permisi sebentar, saya akan memeriksa Bibel yang berbahasa Inggris.
A:     Itu lebih baik, sayakah yang akan memeriksa ataukah saudara?
B:     Oleh karena bapak banyak hafal ayat-ayat Bibel maka saya serahkan agar bapak saja memeriksanya, sepaya lebih cepat.
A:     Baiklah; harap saudara memperhatikan juga saudara-saudara yang hadir, kitab yang saya pegang ini adalah Bibel berbahasa Inggris ialah "The Holy Bible", "Containing the Old and New Testaments (American Bible Society)". Saya serahkan kitab ini kepada saudara Antonius dan saya akan menunjukkan pasal dan ayatnya untuk diteliti bersama.
B:     Baik, saya terima kitab Bibel yang berbahasa Inggris.
A:     Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 8 ayat 14 pada halaman 104
B:     Baik, dihalaman 104 kitab Yahya pasal 8 ayat 14 disini ada menyebutkan: "THOUGH I BEAR RECORD OF MY SELF, YET MY RECORD IS TRUE"
A:     Kalau susunan ayat ini kita salin kedalam bahasa Indonesia, adalah demikian: "Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksianku itu" Betulkah begitu artinya?
B:     Ya, betul begitu
A:     Jadi sama artinya dengan Injil yang berbahasa Indonesia di Yahya pasal 8 ayat 14, harap saudara cocokkan dulu.
B:     Betul, artinya sama kuatnya
A:     Sekarang silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 31.
B:     Disini menyebutkan : "IF BEAR WITNES OF MYSELF, MY WITNES IS NOT TRUE"
A:     Ayat ini kalau kita salin kedalam bahasa Indonesia akan demikian: "Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku itu tiada benar". Betulkah begitu?.
B:     Ya, benar
A:     Silahkan saudara periksa lebih teliti lagi di kitab Bibel yang berbahasa Inggris ini. Di satu ayat menyebutkan "IS TRUE", adalah benar, sedangkan di ayat lain menyebutkan "IS NOT TRUE", adalah tidak benar.
B:     Ya, memang berbeda
A:     Kalau begitu, di Injil yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris tidak ada perbedaan arti dan maksudnya.
B:     Betul Demikian
A:     Jadi tidak salah cetak, yang salah ialah yang mengisi kitab suci itu. Kalau betul kitab suci (Injil)  itu wahyu dari Tuhan, mustahil ayat-ayatnya akan berselisih antara yang satu dengan yang lain. Jadi kitab itu telah dicampuri oleh tangan manusia.
B:     Menurut pendapat saya, dua ayat itu bukan berlawanan, mungkin ayat yang satu dicabut, lalu kemudian diganti dengan ayat yang lain. Jelasnya , ayat yang satu di hapus diganti dengan ayat yang lain (yang baru). Setahu saya dalam ayat-ayat Al Qur’an terdapat apa yang disebut "Nasich dan Mansuch" ialah satu ayat terhapus hukumnya, lalu diganti dengan ayat yang lain (hukum yang baru).
A:     Di dalam Al Qur’an terdapat "Nasich dan Mansuch" ada disebutkan ayatnya tetapi di kitab Injil sama sekali tidak disebutkan.
B:     Dimanakah di dalam Al Qur’an yang menyebutkan ayat tentang Nasich dan Mansuch itu
A:     Sebetulnya sayalah yang harus bertanya kepada saudara, oleh karena dari saudaralah timbulnya ucapan Nasich-Mansuch itu. Akan tetapi sekalipun demikian saya tunjukkan, ialah di surat Al Baqarah ayat 106. Susunan ayat itu ada ulama yang menafsirkan tentang adanya "Nasich dan Mansuch". Sebagian lagi ada yang menafsirkan bahwa susunan ayat tersebut tidak menunjukkan adanya Nasich-Mansuch. Kalau saudara memerlukan , akan saya terangkan tafsirnya ayat tersebut.
B:     Hal itu, baiklah kita tangguhkan dulu. Tetapi sehubungan dengan dua ayat di Bibel yang tadi, saya berpendapat bukan berlawanan, melainkan satu ayat digantikan dengan ayat lain, sehingga nampaknya ada berlawanan. Bolehkah saya berikan misal.
A:     Silahkan, saudara berhak penuh berbicara dengan saya dalam pertemuan kita ini.
B:     Saya sebutkan misal: Dikeluarkan suatu peraturan, setiap pengendara sepeda diwaktu malam diharuskan memakai lampu. Kemudian datang lagi peraturan tidak boleh pakai lampu, karena ada peperangan misalnya. Disini ada dua peraturan, yang pertama: "Diharuskan memakai lampu" sedang yang kedua "Dilarang". Dua perintah itu, yang terpakai adalah yang kemudian. Demikian juga dua ayat di Bibel tadi tidak berlawanan, melainkan salah satu diantaranya sudah tidak berlaku lagi (dicabut). Ini menurut pendapat saya.
A:     Baiklah, tetapi tentunya saudara mengerti, apabila suatu peraturan yang diganti, mestinya harus diikuti penjelasan, bahwa artikel nomer sekian ayat sekian, tahun sekian dicabut, diganti dengan artikel nomer sekian dan selanjutnya. Akan tetapi dua ayat di Bibel itu, tidak ada sebutan ayat yang satu diganti , dengan lain kata dua ayat tetap berlawanan antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada penjelasan bahwa salah satu telah dicabut, atau diganti.

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon beri masukan yaaaa,,,,,