English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

Memahami peristiwa Mi'raj Rasulullah Saw (2)

Subhanallazi Asro bi'abdihi laylam minal masjidil harom mi ilal masjidil aqshollazi barokna haw lahu linuriyahu min ayatina innahu huwassami'ul basyir
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.  Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."  (QS. 17:1)  Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus dipa-hami dengan sesungguhnya, tidak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah itu ialah :
Maha Suci Allah : Dalam menyampaikan berita terjadinya peristiwa Mi'raj ini, Allah  memulainya dengan kata-kata "Subhana" (Maha suci) ... kata-kata  "Subhana" ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa  disana ada kekuatan yang jauh dari segala macam perbandingan, kekuatan  yang jauh melampaui segala kekuatan manusia dimuka bumi.
 Maka makna kata "Subhanallah" ialah bahwa Allah itu Maha Suci DzatNya,  SifatNya dan PerbuatanNya dari segala kesamaan. Kalu ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang disitu Allah mengatakan bahwa "Peristiwa itu Dia melakukan" maka kita harus mensucikan Dia dari segala undang-undang dan ketentuan yang berlaku untuk manusia, dan kita tidak  boleh mengukur perbuatan Allah itu dengan perbuatan kita. Oleh karena   itulah maka surat ini dimulaiNya dengan kata-kata "Subhana" (Maha Suci) sehingga akan timbul kesan didalam hati manusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa ajaib dan diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia.

"Subhana" berarti juga "tanzih" (mensucikan). Apabila Allah mengatakan "Subhana" berarti mensucikan perbuatan-Ku dari perbuatan-mu wahai makhluk.  Maknanya bahwa undang-undang atau ketentuan yang berlaku bagi  "Perbuatan" Allah tidak sama dengan ketentuan yang berlaku bagi  "Perbuatan" makhluk-makhlukNya.
 Yang memperjalankan :  Subjek dari "Yang memperjalankan" dalam hal ini adalah Allah, dengan kalimat : "Al-Ladzii asraabi.." Dalam ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah "Asraa" yang artinya "tawanan", berupa kata benda, noun atau isim. Dalam konteks ayat 17/1  ini, kita mengartikan "Asraabi" dengan "Memperjalankan dalam   penjagaan" sebagai kata kerja, verb atau fi'il. Hal ini dapat dibandingkan pada maksud ayat 26/52 dimana terdapat istilah yang sama  tetapi fi'il amar untuk memperjalankan Bani Israil dengan penjagaan untuk menyeberangi laut merah.

Kalimat ini memberi pengertian bahwa Nabi Muhammad Saw itu di Asraa   kan dalam pengertian di mi'rajkan oleh Allah, bukan Asraa dengan  sendirinya alias kehendak Muhammad sendiri dan juga bukan atas  kepintaran yang ada pada diri Nabi Muhammad, tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang memperjalankannya.
Hamba-Nya : Dalam ayat ini Allah tidak menyebut lafal "RasulNya" atau lafal   "Muhammad", tetapi disebutNya dengan lafal Bi'abdihi, yaitu dengan  sifat "Ubudiyah" atau Penghambaan kepada Allah yang mana hal ini merupakan pintu datangnya karunia Allah, sebab semua Nabi dan Rasul  yang nota bene merupakan panutan umat, diutus untuk membenarkan atau  meluruskan cara penghambaan kita kepada Allah.

Kata sifat "Ubudiyah" atau penghambaan ini adalah kata-kata yang  pahit, kata-kata yang sulit dan kata-kata yang dibenci oleh manusia,  apabila terjadi antara sesama makhluk, antara yang satu terhadap yang  lain, karena dengan demikian maka makhluk yang satu akan menjadi hamba  bagi makhluk yang lain. Dan ini mengharuskan sihamba mencurahkan segala baktinya, semua tenaga dan kemampuannya kepada tuannya.
Tetapi penghambaan dari makhluk terhadap Al-Khaliq justru sebaliknya,  yaitu Al-Khaliq yang dipertuan itulah yang akan memberi karunia kepada orang yang menghambakan diri kepadaNya. Karena itu maka ubudiyah disini adalah suatu kemuliaan, manakala pengabdian itu meningkat maka pemberian karunia dari Allah Yang Maha  Suci itu ditingkatkan pula.
Ini juga yang terjadi pada diri Nabi Isa as. putra Maryam yang disebutkan oleh Allah dalam surah 4:172 :  Layyastanifa almasihu ayyakuna 'abda lillahi walal mala'ikatul   mukarrobun  "AlMasih tiada enggan menjadi hamba bagi Allah, demikian pula para   malaikat yang dekat."  (QS.4:172)
 Disamping itu, kata-kata "Bi'abdihi" ini dapat dipakai untuk  memberikan jawaban penolakan atas orang yang berpendapat bahwa  perjalanan malam Nabi Muhammad Saw ini hanya terjadi dengan ruhnya  saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata-kata "abd" (hamba) itu dipakai  untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, bukan untuk ruh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang mengatakan ruh itu sebagai "abd" atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai 'abd.

Pada suatu malam :  Jelas sudah, bahwa Nabi Muhammad Saw telah diperjalankan oleh Allah pada waktu malam hari.  Lalu kenapa mesti malam hari Rasul diberangkatkan ? Dapatkah kita  jelaskan secara ilmiah, logis dan kejiwaan ?  Disini kita sudah sepakat bahwa Rasulullah diperjalankan secara logis,  secara nyata dan real, maka sekarang kita akan berangkat pada  keterangan yang juga logis dan ilmiah serta mengena kepada ilmu   kejiwaan.  Masih ingat [1]kisah Adam yang dulunya bertempat tinggal didalam  Jannah yang kita artikan sebagai kebun yang subur yang berada diluar  planet bumi pada bahagian pertama artikel saya ini ?  Sekarang coba anda perhatikan kembali ayat ke-14 dan ke-15 dari surah  An Najm (53) yang telah saya cantumkan pada bagian awal :
14. Di Sidratil Muntaha. 15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
 Dan kemudian silahkan juga memperhatikan ayat-ayat berikut yang sudah pernah kita kemukakan pada pembahasan masalah Adam yang lalu : "Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh  bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia  mengeluarkan kamu berdua dari Jannah, yang menyebabkan kamu menjadi aniaya. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan kepanasan". (QS. 20:117-119)

Rasanya cocok sekali jika kita menghubungkan antara Jannah yang   termaktub dalam ayat ke-15 surah 53 itu dengan Jannah dimana dulunya  Adam dan istri pernah tinggal sebelum "diterbangkan" keplanet bumi.  Coba perhatikan dengan baik, Jannah tempat dimana Adam berada itu  dikatakan tidak akan merasa kepanasan, dan saya mengasumsikan bahwa  Jannah itu letaknya ada di Muntaha dimana Rasulullah Muhammad Saw melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi'raj.

Jadi, Muntaha itu adalah nama sebuah tempat yang bisa juga sebuah  planet yang berada diluar angkasa dan untuk sementara bisa kita  katakan kedudukannya berada diatas orbit bumi, seperti halnya dengan  kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.
Untuk jelasnya mungkin anda bisa melihat didalam "Peta Ruang Angkasa"  yang menggambarkan posisi kedudukan planet-planet dalam tata surya  yang mengelilingi matahari dalam gugusan Bimasakti. Dimana ada dua  planet yang berkedudukan dibawah orbit bumi dan dekat dengan matahari,  yaitu Merkuri dan Venus. Planet bumi kita ini jaraknya dengan matahari adalah 150 Juta Km dengan lamanya waktu mengelilingi matahari dalam 365,25 hari.
Bandingkan dengan planet Pluto sebagai planet terjauh yang berhasil  diketahui oleh para ahli tahun 1930 sampai hari ini (1998) yang  memiliki jarak 5.900 Juta Km dari matahari, bergaris tengah hanya 6.400 Km. Jarak rata-rata Pluto dari matahari paling besar dibandingkan dengan  jarak antara matahari dengan planet lainnya. Tetapi lintasan edar   Pluto agak "unik" dan menyilang lintasan planet Neptunus. Akibatnya, Pluto kadangkala beredar/mengembara disebelah dalam lintasan orbit  Neptunus. Pluto akan mencapai titik terdekat dengan kita ditahun 1989 yang lalu,  kemudian menjauh dan titik terjauh akan dicapainya pada tahun 2113  yang akan datang. Sangat sedikit memang yang kita ketahui mengenai Pluto, namun ada  dugaan bahwa planet itu terdiri dari material yang sangat padat.
 Dan para ahli ditahun 1972 memperkirakan bahwa adanya planet diluar  lintasan Pluto, pada jarak kurang lebih 9.660 juta-juta kilometer. Gaya tarik gravitasi planet tersebutlah yang menyebabkan perubahan  kecil pada lintasan beberapa komet. Dengan cara yang sama pula  kehadiran Pluto telah diduga 15 tahun sebelum penemuannya, yaitu  setelah penelaahan atas perubahan pada lintasan orbit Neptunus.  Nazwar syamsu, seorang penulis buku-buku seri Tauhid dan logika (Sekarang dilarang beredar) yang juga menjadi salah  satu buku acuan saya didalam mengemukakan pendapat, pernah  menyimpulan, bahwa planet tersebut adalah Muntaha yang dimaksudkan  oleh Qur'an sebagai tempat Mi'rajnya Nabi Muhammad Saw.
Landasan Nazwar Syamsu berpendapat begitu karena menurutnya, planet ke-10 tersebut letak orbitnya yang berada diatas orbit planet bumi  kemudian juga jaraknya yang jauh dari matahari kita yang dicocokkannya  dengan bunyi ayat ke-119 dari surah An Najm yang menyatakan bahwa Adam  tidak akan kepanasan disana (yang diasumsikan sebagai panasnya sinar matahari), serta pasnya penomoran Qur'an dengan 7 lapis langit yang   ada diatas kita (yang diterjemahkannya dengan 7 buah planet yang mengorbit diatas bumi).
Masing-masing planet yang ada diatas orbit bumi itu ialah :     1. Mars     2. Jupiter     3. Saturnus     4. Uranus     5. Neptunus     6. Pluto     7. Muntaha
 Dan dasar dari pemahaman beliau adalah dari ayat Qur'an yang memang  banyak sekali mengungkapkan tentang adanya 7 langit atau terkadang disebut dengan tujuh jalan yang diciptakan oleh Allah Swt.
Satu diantaranya adalah sbb : "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis dan kamu  sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah   sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu   lihat sesuatu yang tidak seimbang?"  (QS. 67:3)

Dan yang menjadi alasan kenapa perjalanan yang dilakukan oleh Nabi  Muhammad Saw pada malam hari adalah jika orang berangkat meninggalkan   bumi pada siang hari, maka dia akan mengarah kepada matahari yang  menjadi pusat orbit planet-planet. Dan hal itu bukan berarti "Naik" tetapi "Turun", karena semakin dekat kepada pusat orbit atau kepusat  rotasi, maka itu berarti turun, sedangkan Muhammad menyatakan beliau telah naik waktu mengalami Asraa (perjalanan) itu. Ayat 17/11 yang sedang kita analisis ini menyatakan bahwa Muhammad  dari Masjidil Haraam dibumi naik ke Muntaha, yang mana untuk sementara  ini kita simpulkan dulu bahwa kedudukan Muntaha itu mengorbit diatas bumi dan bukan dibawah bumi. Kalau orang naik dari bumi menuju Muntaha hendaklah dia berangkat waktu malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling bawah dalam tata surya kita.
Orang mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet,  masing-masingnya mengalami perputaran.  Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi  pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang  senantiasa berputar. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan  paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin atas.

Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh.  Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari  pusat itu dikatakan semakin atas.  Akibatnya, orang yang berdiri di Equador Amerika dan orang yang berdiri dipulau Sumatera, pada waktu yang sama, akan menyatakan kakinya kebawah dan kepalanya keatas, padahal kedua orang tersebut sedang mengadu telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi   masing-masingnya ternyata benar untuk status bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini. Demikian juga jika contoh itu dipakai untuk status tata surya dimana  matahari sebagai bola api langsung bertindak jadi pusat kitaran ataupun peredaran.
Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari  matahari dinamakan semakin atas. Venus dan Mercury berada dibawah orbit bumi karena keduanya mengorbit dalam daerah yang lebih dekat dengan matahari, jadi jika ada penduduk bumi yang pergi ke Venus, Mercury atau Matahari, maka orang tersebut   turun bukan naik, karenanya[2] Venus dan Mercury tidak mungkin disebut  sebagai langit bagi planet bumi kita, sebab yang dikatakan langit  adalah sesuatu yang berada dibagian atas, tetapi benar kedua planet  itu menjadi langit bagi matahari sendiri.
Dr. Maurice Bucaille, salah seorang pakar Islam yang terkenal dengan  bukunya Bibel, Qur-an dan Sains Modern, mengemukakan bahwa AlQur'an menamakan planet dengan kata "KAUKAB", dimana kata jamaknya adalah "KAWAKIB." Begitupula dengan arti yang diberikan oleh Kamus Al-Munawwir  Arab-Indonesia Terlengkap, karangan Achmad Warson Munawwir terbitan  Pustaka progressif, menyatakan Kaukab (single) dan Kawakib (plural)  itu dengan dua arti, yaitu bisa berarti planet dan bisa juga berarti bintang. Dr. Maurice Bucaille menambahkan, bahwa bumi adalah salah satu dari  planet-planet tersebut dan jika ada orang menduga akan adanya planet  lain diluar orbit pluto (Dalam hal ini untuk gugusan Bimasakti), maka planet itu harus ada dalam sistem matahari juga.
 Saya pribadi cenderung menyetujui pendapat dari Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, seorang sarjana Islam kenamaan yang menuliskan buku Al-Qur'an tentang alam semesta (judul aslinya : On cosmic verses  in the Quran) bahwa yang disebut dengan langit atau dalam bahasa Qur'an adalah Sama', ialah :  Setiap sesuatu yang kita lihat tentang benda-benda yang berada  diangkasa, seperti matahari, bintang dan planet sampai jauh kedalam  ruang alam semesta raya, yang bersama-sama dengan bumi membentuk satu  kesatuan yang kokoh dan merupakan keseluruhan alam wujud, itulah langit.
Adapun angka 7 yang dipakai didalam AlQur'an sebanyak 24 kali adalah  untuk maksud yang bermacam-macam. Seringkali angka 7 ini berartikan "Banyak" tetapi kita umat Islam tidak tahu dengan pasti, apa maksud dengan dipakainya angka tersebut oleh Allah.   Sementara itu, bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi, angka 7  ternyata juga mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak  ditentukan. Dalam Qur'an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada  langit (Sama'), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7  jalan diatas manusia. Rasanya terlalu kaku untuk mengatakan bahwa Muntaha itu letaknya  berada diluar orbit Pluto dan merupakan planet yang ke-10 dalam  lingkungan tata surya kita atau merupakan planet ke-7 yang berada  diatas orbit bumi.  Hal ini akan saya uraikan lagi pada penjelasan mengenai arti "Masjidil Haraam dan Masjidil Aqsha".
Saya lebih cenderung mengartikannya sebagai sebuah planet yang keadaannya tidak berbeda jauh dengan bumi tempat kita tinggal saat ini, dimana disana juga ada peredaran benda-benda langit yang mengelilingi sebuah matahari. Dan yang jelas, planet "bumi" Muntaha ini letaknya diluar galaksi Bimasakti kita. Dia bisa terletak digugusan bintang mana saja didaerah alam semesta yang sangat luas. Dan pernyataan bahwa Muntaha dan Jannah yang berkedudukan diatas bumi,  itu memang benar, memang mereka berkedudukan di luar bumi.
 Juga pernyataan Allah pada ayat 2:36 mengenai kata "Ihbithu" seperti  yang pernah kita bahas pada waktu pengupasan masalah Adam pada artikel  sebelumnya dan akan kita ulangi sedikit disini adalah benar. "Pergilah !" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur'annya adalah "ih bithu", dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.",  seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain." Dan karenanya ada juga penafsir yang memakai kata "Turunlah" saja.
Allah menyuruh Adam dan istri untuk turun dari tempat yang tinggi,  yaitu Muntaha (dimana nantinya juga Muhammad akan kembali kesana dan  berada pada ufuk yang tinggi tersebut), ini bisa kita tafsirkan bahwa  saking tingginya, atau saking jauhnya letak Muntaha yang ada Jannah  tersebut, maka Allah menggunakan kata "Ih bithu" atau Turunlah ! Atau  berpindahlah dari sini kesana.
 Kembali pada permasalahan kita semula, yaitu kenapa perjalanan Nabi  Muhammad Saw itu dilakukan pada waktu malam hari dan tidak pada waktu lainnya (pagi, siang, sore).   Saya berpendapat, bahwa salah satu alasan logis lain yang bersifat kejiwaan disamping alasan yang dikemukakan oleh Nazwar Syamsu adalah  pada malam hari, keadaan diliputi oleh ketenangan, apalagi jika kita mengilas balik seperti apa kira-kira keadaan Arabia pada masa itu jika malam menjelang. Selain itu, suasana malam adalah suasana yang khyusuk didalam beribadah, suasana dimana manusia menghentikan kegiatan mereka untuk  sementara waktu dan mengistirahatkan pikiran dan jiwa mereka dari  kesibukan sehari-hari, dan merupakan suasana yang sangat hening yang  membantu menciptakan kondisi yang cocok bagi upaya mendekatkan diri  kepada Allah.
AlQur'an memberikan petunjuk yang jelas bahwa saat terbaik upaya ibadah yang berkualitas ialah pada waktu malam hari. AlQur'an mencatat suasa malam itu untuk menjalin hubungan yang terbaik dengan Allah :  "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQur-an) pada malam  kemuliaan."  (QS. 97:1)
 Untuk ibadah, shalat tahajud, saat-saat terbaik merasakan kelezatan  malam sekitar bagian ketiga menjelang fajar. Jauh dari rasa riya' dan  ujub serta takabur karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya. "Berdirilah melakukan shalat malam hari, walau jangan hendaknya  seluruh malam itu, separuhnya saja atau kurang dari itu." (QS. 73:2,3)
"Sesungguhnya bangun waktu malam itu adalah paling baik dan cocok  untuk shalat dan paling baik untuk memuji Allah." (QS. 73:6)

"Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. 10:6)
Dari Masjidil haraam ke Masjidil Aqsha :  Dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw adalah dari Masjidil Haraam,  yaitu kota Mekkah Almukarromah menuju ke Masjid Al-Aqsha. Seperti yang diketahui bersama, Masjidil Haraam adalah rumah peribadatan yang pertama kali dibangun untuk manusia oleh Allah Swt yang akhirnya dasar-dasarnya ditinggikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya, Nabi Ismail as., Tempat tersebut juga merupakan awal  bertolaknya dakwah serta tempat berdomisilinya Rasulullah Saw. Tetapi benarkah pendapat umum yang menyatakan bahwa dari Masjidil Haraam, Mekkah AlMukarromah, Nabi Muhammad Saw pernah melakukan kunjungan ke Masjidil Aqsha yang terletak di Palestina ?  Setelah sekian lama saya mencoba menyelidiki, mendalami, dan menganalisa serta mempertimbangkan dari beberapa sudut keilmuan modern dan pendapat para alim ulama, akhirnya saya berkesimpulan bahwa Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad Saw melakukan "kunjungan" itu TIDAK TERLETAK DIBUMI. Masjid Al-Aqsha sendiri waktu itu belumlah ada, yang ada di Bait Al-Maqdis di Palestina adalah Haikal Sulaiman.  Ada sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menyatakan bahwa ketika kaum Quraisy bertanya kepada Nabi Saw perihal keadaan  Bait Al-Maqdis, Beliau sempat terdiam dan bahkan bimbang, hal ini   membuktikan bahwa memang Rasul tidak pernah pergi kesana malam itu, melainkan pergi ke "Masjid Al-Aqsha" di Muntaha.
Kaum Quraisy menanyakan kepadaku tentang perjalanan Israa', aku   ditanya tentang hal-hal di Bait Al-Maqdis, tidak dapat aku menerangkannya sampai-sampai aku bimbang. Tatkala kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr lalu Allah Swt menggambarkan dimukaku keadaan di Bait Al-Maqdis dan tanda-tandanya hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan. (Imam Bukhari)

Mari sekarang sama-sama kita tinjau dulu dari segi bahasa,  Arti dari "Masjid" itu sendiri adalah tempat bersujud, dan sujud ini  adalah merupakan risalah setiap Nabi dan Rasul Allah sebelum periode Muhammad Saw.  Dari AlQuran beberapa diantaranya adalah ketika Allah memberikan  firmanNya kepada Ibrahim sewaktu meninggikan Ka'bah bersama puteranya, Ismail (2:125), Siti Maryam (3:43), Firman Allah kepada Bani Israel (2:58), adanya beberapa golongan Ahli kitab yang mengEsakan Allah (3:113), Nabi Musa dan umatnya (4:154), Nabi Daud (38:24) dan lain sebagainya.

Dari Bible : Mazmur 96:6    "Marilah kita menyembah dan bersujud; marilah kita berlutut kepada Tuhan yang menciptakan kita."
 Yoshua/Yusak 5:14    "... maka Yusak pun tersungkur dengan mukanya ketanah sambil menyembah   sujud..."
 Raja-raja I:18:42    "...tetapi Elia naik keatas kepuncak Karmel, lalu tunduk sampai ke tanah dengan mukanya ditengah-tengah lututnya."
 Bilangan 20:6    "Maka pergilah Musa dan Harun dari hadapan orang banyak itu kepintu kemah perhimpunan, lalu keduanya menyembah sujud. Maka kemuliaan Tuhan kepada mereka itu."

Kejadian 17:3    "Lalu sujudlah Abraham dengan mukanya sampai kebumi..."
    Nah, dari itu semua jelas bahwa para nabi dan umat sebelum Muhammad    Saw sudah melakukan penyembahan kepada Allah dengan cara rukuk dan    sujud. Lalu tata cara penyembahan ini disempurnakan lagi oleh Allah    kepada Muhammad Saw serta umatnya dengan cara ibadah Sholat    sebagaimana yang kita lihat sekarang.
 Jadi, kata "Masjid" sebenarnya adalah tempat yang digunakan sebagai  tempat bersujud.  Mari kita lihat juga pada kisah Ash-habul Kahfi : La nat takhiizanna 'alaihim masjida    "Sesungguhnya kami akan mendirikan masjid ditempat mereka itu".  (QS. 18:21)
Padahal kita semua tahu bahwa masjid dalam pengertian nama bagi suatu  bangunan ibadah hanya terdapat pada periode Nabi Muhammad Saw,  sementara itu kisah Ash-habul Kahfi telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.  Aqsha bukanlah nama, arti Masjidil Aqsha adalah Masjid  yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh.  Dan masih ingatkah anda tentang Jannah dimana disana Adam dihormati oleh semua Malaikat dan Jin dengan cara bersujud ?

Ya, memang itulah tempat yang saya maksudkan.  Masjidil Aqsha yang menjadi tempat tujuan Rasulullah Muhammad Saw adalah Tempat bersujudnya para Malaikat terhadap Adam sekaligus menjadi tempat bersujudnya Nabi Muhammad Saw kepada Allah pada saat  beliau menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan terdapat di Muntaha. Adam as., adalah khalifah manusia yang dipilih oleh Allah untuk planet   bumi, sekaligus menjadi nenek moyang manusia semuanya, dan Muhammad Saw adalah Nabi Allah yang terakhir untuk manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.  Allah telah mengawali penciptaan Adam selaku khalifah pertama manusia  bumi kita ini sekaligus Nabi pertama dengan meletakkannya di dalam  Jannah yang ada di Muntaha, dan menutupnya dengan pengiriman Muhammad  selaku Nabi terakhir untuk kembali melihat Kampung Halaman kita di Muntaha yang Jannah ada didekatnya.
 Cukup logis saya rasa penjelasan saya ini, dan jauh dari sifat yang mengada-ada serta tidak jelas. Perjalanan Nabi dalam Mi'raj itu selaku ujian atas kecerdasan manusia  di bidang keilmuan dan kehidupan, ayat 17/1, 53/1 s.d 18 serta ayat 17/60, dan semua itu terbatas hingga Muntaha dengan pengertian bahwa peradaban manusia ini umumnya sampai nanti tidak akan menyimpang dan tidak melampaui dari apa yang sudah dicapai oleh Muhammad Saw dalam  Mi'rajnya. Dan karenanya saya sangat tidak sependapat dengan Nazwar Syamsu yang  mengatakan bahwa Muntaha adalah planet ke-7 diatas orbit bumi dan  hanya sampai disitulah tempat manusia bisa menjelajahi angkasa raya.  Padahal Allah justru menganjurkan kepada manusia untuk dapat  menjelajahi kebagian mana saja dari langit dan bumi ini, asalkan   mereka memiliki sulthaan yang artinya kekuatan atau kesanggupan atau juga bisa diartikan tekhnologi.
 Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit   dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan". (QS. 55:33)
Dalam ayat tersebut Allah menyuruh tidak hanya kepada umat manusia saja, namun juga melingkupi umat Jin. Dan Allah tidak berkesan membuat pembatasan-pembatasan terhadap "langit-langit tertentu" yang dapat ditembusi oleh manusia dan Jin. Makanya saya lebih cenderung berpendapat bahwa Muntaha itu letaknya diluar galaksi kita sekarang ini, yang jaraknya jutaan tahun cahaya. Sesungguhnya angkasa raya itu sangatlah luas dan terdiri dari ribuan  juta galaksi.

Matahari kita adalah satu diantara 100.000 juta bintang yang berada didalam suatu putaran spiral maha besar yang kita sebut dengan Galaksi  kita. Beberapa ribu buah bintang diantaranya dapat kita saksikan pada malam  yang cerah.  Pada bagian langit atau angkasa tertentu, tampak sedemikian banyak  bintang, hingga menyerupai sejalur pita putih yang kita sebut dengan Bimasakti. Galaksi kita bergaris tengah satu juta juta Kilometer. Para astronom lebih senang menyatakan jarak sebesar itu dalam satuan tahun cahaya,  yaitu jarak yang ditempuh oleh berkas cahaya dalam ruang selama setahun.   Dengan laju 300.000 kilometer tiap detik, berkas cahaya memerlukan  waktu 100.000 tahun untuk melintasi Galaksi kita. Oleh sebab itu garis  tengah Galaksi juga dikatakan sebesar 100.000 tahun cahaya.

"Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah  Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha  Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya  benar-benar meliputi segala sesuatu."  (QS. 65:12)
 Di sini saya cenderung mengambil makna angka 7 dalam ayat Qur'an  yang menunjukkan atas langit dan bumi sebagai pengertian "Banyak" (ini sudah pernah kita bicarakan pada bahagian atas). Dan memang benar begitulah kenyataannya.  Galaksi terdekat dengan kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya.  Dan diperkirakan bahwa pada setiap galaksi akan terdapat sistem matahari sebagaimana yang ada pada galaksi bima sakti kita ini.
Dan jika setiap galaksi memiliki sistem matahari tersebut, maka  tentunya keadaan dari planet-planet yang mengitari galaksi tersebut  juga tidak akab berbeda jauh dengan keadaan planet-planet yang ada dalam wilayah galaksi Bima sakti.
 Maka untuk kesekian kalinya, benarlah firman Allah diatas, bahwa Allah telah menjadikan banyak sekali (diwakili oleh angka 7) bumi-bumi  didalam lingkungan galaksi-galaksi (7 langit) yang berada diruang angkasa. Dan dibumi-bumi tersebut juga ada kehidupan layaknya kehidupan yang  kita jumpai diplanet bumi kita ini. Dan dibumi yang paling ujung atau bumi yang terjauh itulah ada Jannah  dimana Nabi Adam dulunya tinggal dan kembali dikunjungi oleh Nabi Muhammad Saw pada saat Mi'rajnya ke Muntaha.
 Setiap bumi pasti memiliki matahari, dan bumi itu sendiri akan bergerak mengelilingi matahari tersebut. Dan Jannah, yang terdapat diMuntaha, memiliki tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang sangat rimbun sekali dan subur, dipenuhi oleh  buah-buahan segar, sehingga jika kita berada didalamnya maka kita tidak akan kepanasan serta kehausan sebagaimana firman Allah kepada Adam as.
"Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan  kepanasan di dalamnya".  (QS. 20:119)
 Pada abad ke-18, William Herschel menyatakan bahwa sebagian dari apa  yang disebut nebula pada kenyataannya adalah pulau alam semesta.  Pulau-pulau tersebut sebenarnya merupakan tatanan bintang paripurna  yang berada jauh dari galaksi kita. Makin banyak pembuktian yang  dikumpulkan oleh Astronom pada abad ke-19 mendukung teori tersebut.  Pada tahun 1917, teleskop raksasa baru di Mount Wilson, California,   memperlihatkan bahwa "nebula" Andromeda terdiri atas kumpulan bintang. Teori Herschel itu akhirnya dikukuhkan pada tahun 1923.  Kemudian Edwin Hubble menunjukkan bahwa gugusan bintang-bintang itu  terpisah ratusan ribu tahun cahaya dari bumi. Dengan ini terbukti pula  bahwa nebula Andromeda itu sebenarnya merupakan galaksi, yang sama  sekali terpisah dari tatanan bintang kita.
Sekarang manusia telah mengetahui akan adanya ribuan juta galaksi.  Beberapa dari padanya tidak mempunyai bentuk tertentu; yang lain  berbentuk spiral atau elips.   Galaksi kita, bersama 16 buah galaksi lainnya yang terangkum dalam  jarak 3 juta tahun cahaya, disebut kelompok lokal.  Disini saya berkeinginan untuk sedikit mengajak anda membaca sebuah  penuturan dari salah satu url atau site mengenai angkasa luar akan   adanya sebuah kehidupan disalah satu galaksi, dimana digalaksi  tersebut ada juga bumi yang mengitari matahari.
Saya sadar bahwa tulisan dari site tersebut masih perlu untuk  diragukan kebenarannya, namun dalam hal ini, terlepas dari benar  tidaknya apa yang dituliskan disana, setidaknya kita bisa sedikit menjadikannya sebuah lintas bacaan semata-mata. Dan tidak ada salahnya kita menghubungkannya dengan Surah 65:12 yang baru saja kita bahas. Jika saja yang menulisnya seorang Muslim, tentu saja saya akan berpikir dua tiga kali untuk menyadurnya, sebab bisa saja itu adalah  pendapatnya yang ditujukan untuk memperkuat dalil-dalil AlQur'an. Namun tidak, site ini ditulis oleh seorang yang tidak menganut Islam, malah jangan-jangan orang tersebut juga meragukan kepercayaan yang  diyakininya.  Jadi tertutup kemungkinan bahwa ada unsur-unsur tertentu yang   berhubungan dengan Islam dan upaya penegakan Islam dari penulisan tersebut.

Silahkan link ke artikel Pleiadian yang sudah saya terjemahkan beberapa diantaranya.
Yang telah Kami berkahi sekelilingnya : Dalam lafal Qur'annya adalah barokna haw lahu. Disini juga orang sering mengartikan bahwa kata haw lahu atau Kami berkahi sekelilingnya adalah diperuntukkan untuk tempat disekitar perjalanan Rasulullah tersebut.  Namun saya mengartikannya tidak demikian.
Kata "NYA" atau lafal "HAWLAHU" pada kata "Kami berkahi sekeliling"  atau "Barokna hawlahu", sebenarnya adalah ditujukan kepada diri Muhammad Saw sendiri.
Dalam bahasa Arab, kata "Haw laha" itu ditujukan untuk yang bergender   perempuan.   Kata "Haw lahuma" itu ditujukan untuk menerangkan arti "mereka", yang   maknanya lebih dari satu.   Sementara kata "Haw lahu" adalah ditujukan kepada yang bergender   jantan, dan dalam hal ini adalah diri Muhammad Saw, yang memang  sebagai seorang laki-laki.
 Jadi, Istilah "disekelilingnya" dalam ayat 17/1 ini adalah disekeliling Muhammad. Hal ini juga dibuktikan oleh istilah lain berikutnya "Untuk diperlihatkan kepadanya."
Jadi Barkah telah diadakan disekeliling Muhammad dalam peristiwa Asraa  kemasjidil Aqsha di Muntaha. Apakah Barkah atau Barokna itu ?
Barkah adalah penjagaan, yaitu penjagaan yang melingkupi keluarga Ibrahim pada ayat 11/73, atau yang menjaga Nabi Nuh dan beberapa umatnya didalam perahu hingga topan besar tidak membahayakan mereka sedikitpun pada ayat 11/48, ataupun penjagaan atas kota Mekkah   seperti yang dimaksud ayat 21/71 dan 21/81.  Malah penjagaan atau Barkah yang melingkupi diri Muhammad Saw dalam Asraa itu, ditinjau dari segi bahasa, maka bisa kita samakan   keadaannya dengan Barkah yang melingkupi bumi ini seperti tercantum pada surah 7/96.   (Lebih jelas, lihat dalam konteks ayat-ayat aslinya)

Kita ketahui bersama, disekeliling bumi terdapat pembungkus gas yang tipis dan bening yang kita sebut dengan nama Atmosfir, yang merupakan pelindung guna melindungi kehidupan   terhadap kehampaan angkasa. Tanpa atmosfir, sinar matahari yang menghanguskan akan membakar semua kehidupan pada siang hari, dan pada malam hari suhu dapat turun jauh   dibawah titik beku. Untuk mengetahui beberapa penjelasan masalah Atmosfir ini, silahkan juga anda mengunjungi Artikel Atmosfir. Jadi, Barkah ini berupakan sesuatu yang melindungi diri Nabi Muhammad Saw hingga beliau tidak terbentur pada meteorities yang berlayangan  di angkasa bebas serta memiliki udara cukup untuk pernafasan selama berada diruang angkasa bebas. Dan dapat dimungkinkan perlindungan ini berupa lapisan-lapisan Atmosfir seperti yang melingkupi bumi atau juga semacam sebuah pesawat ruang angkasa.
 Jadi bukanlah Barkah itu ditentukan untuk Palestina sebagaimana pendapat umum selama ini, apalagi jika dinisbatkan ke Bait Al-Maqdis atau Masjid Al-Aqsha yang ada di Palestina sekarang. Dan bukanlah juga Barkah itu sebagai hewan bersayap yang dikendarai Nabi dalam Asraa itu. Masalah kendaraan yang bernama Boraq ini akan kita uraikan tersendiri secara terperinci pada pembahasan mengenai Buraq. Sekarang, mari terus kita lanjutkan pembahasan ayat 17/1 yang telah banyak kita potong dengan tambahan keterangan-keterangan yang   berhubungan dengannya :
Kami perlihatkan pertanda-pertanda Kami :  Kami perlihatkan disini dapat kita synonimkan dengan "Diperlihatkan".  Yaitu, diperlihatkan kepada Muhammad yang mengandung pengertian melihat dengan mata sendiri yaitu mata konkrit bukan dalam mimpi atau ruhnya saja.
 Dan karena Muhammad mi'raj dengan tubuh kasarnya, untuk itu diperlukan  adanya Barkah, maka Barkah ini juga membuktikan bahwa Rasulullah itu  telah berangkat dari bumi dengan jasmani dan rohaninya, sebab itu  pantaslah dia dapat melakukan penglihatan dengan kedua matanya yang konkrit. Dalam membicarakan masalah Mi'raj pada surah 17 ayat 1 ini, AlQur'an   menggunakan perkataan : "Linuriyahu min aayatina" yang artinya: "untuk Kami perlihatkan   kepadanya tanda-tanda Kami" yaitu tanda-tanda kebesaran Allah (istilah Ayat adalah jamak dari Aayah).
Sementara di dalam surah 52 (An Najm) ayat 18 seperti yang kita singgung pada awal pembahasan, AlQur'an menggunakan perkataan : "Laqod ro-aa min aayati Robbihi alkubroo." yang artinya: "Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang besar-besar/hebat."  Dalam 17/1 disebutkan "Iraa-ah minallah" (Diperlihatkan oleh Allah), sedangkan didalam 53/18 dikatakan "ra-aa bi nafsihi" (melihat dengan sendirinya).
 Mari kita uraikan :
Aktifitas yang ada didalam 17/1 adalah "iraa-ah". Apakah artinya ? Iraa-ah adalah menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu, baik dengan merubah sesuatu yang diperlihatkan itu dengan disesuaikannya dengan qanun (ketentuan yang berlaku) bagi orang yang melihatnya atau juga dengan mentransfer atau mengalihkan orang yang melihatnya itu  agar ia bisa menembus qanun yang berlaku bagi sesuatu yang hendak dilihatnya itu.

Kita ambil contoh tentang mikroskop. Mikroskop tersebut dipakai untuk melihat sesuatu (benda) yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Karena kecilnya maka seseorang tidak dapat melihat benda tersebut, tetapi setelah mempergunakan mikroskop lalu ia dapat melihat benda kecil tersebut. Ini berarti menjadikan orang yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu  karena adanya lensa yang menampakkan benda-benda yang kecil menjadi besar. Disini benda kecil itu disesuaikan dengan qanun mata biasa, dimana  menurut qanun (ketentuan yang berlaku) mata biasa manusia hanya dapat melihat benda-benda yang tampak (besar) saja.
 Dengan demikian maka "iraa-ah" (memperlihatkan/menampakkan) itu dapat dengan mengadakan perubahan terhadap benda/sesuatu yang dilihatnya itu sesuai dengan qanun orang yang melihatnya sehingga ia dapat mengetahuinya, atau dengan memberikan sesuatu alat pada benda yang dilihatnya itu sehingga yang bersangkutan dapat melihatnya.  Dalam 17/1 AlQur'an mempergunakan kata-kata "Linuriyahu" (untuk kami perlihatkan), yaitu dijadikan oleh Allah bahwa Muhammad dapat melihat sesuatu yang pada asalnya ia tidak dapat melihatnya dengan sendirinya. Karena Nabi Muhammad Saw sebelumnya berada dimuka bumi dengan qanun basyariah (manusiawinya) sebagai seorang manusia yang normal, secara otomatis Nabi Muhammad Saw tidak dapat melihat bagaimana keadaan diluar angkasa sana yang juga merupakan salah satu kebesaran Allah. Maka kepada Nabi Muhammad Saw diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda   kebesaran Allah yang ada diluar planet bumi ini dengan memperjalankan beliau dengan penjagaan penuh (yang disebut dengan Barkah atau lafal Qur'annya "Baroqna") ke Muntaha yang terletak disalah satu galaksi terjauh dari galaksi bima sakti, tempat dimana dulunya Adam dan istrinya pernah tinggal dan menetap.
 Diperlihatkan kepada Nabi betapa planet bumi yang kita tempati ini  terdapat didalam sebuah tata surya yang bagaikan suatu noktah kecil diantara jutaan milyar tata surya lainnya yang juga disebut oleh para ahli dengan nama solar system. Begitulah perikeadaan Rasulullah Saw dalam peristiwa ardliyah, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj ini. Tetapi ketika Nabi Saw naik kepada ufuk (tempat) yang lebih tinggi, tepatnya ketika beliau sudah berada di Muntaha, maka terjadilah   perubahan pada dzatiyah beliau., seolah-olah beliau telah meninggalkan basyariahnya bertukar dengan dzatiyah malaikat yang bisa melihat segala sesuatu disana dengan sendirinya.
 Keadaan semacam itu juga dulunya yang pernah ada pada diri Adam dan istrinya ketika masih berada di Muntaha sebagaimana yang kita uraikan pada artikel tersebut. Suatu keadaan dimana Adam dapat melihat para malaikat, para Jin dan termasuk Iblis. Makanya untuk kasus Nabi Muhammad Saw, oleh Qur'an dikatakan : "Laqad ra-aa... (Sungguh ia telah melihat..).", dan tidak dikatakannya sebagai : "Ara'ainaahu ...(Kami perlihatkan kepadanya)"
 Jadi, pada masa perjalanan Rasul dari bumi menuju ke Muntaha, ia diperlihatkan oleh Allah akan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah yang lainnya didalam lingkungan semesta, dan begitu ia hampur mendekati tujuan, yaitu Sidratil Muntaha, Allah berfirman bahwa Muhammad "ra-aa" (melihat dengan sendirinya) .. seakan-akan Rasulullah Saw dengan qanun basyariah sebelumnya (dari bumi hingga menjelang tiba) telah mengalami perubahan dimensi, yaitu suatu penyesuaian terhadap lingkungan barunya sehingga ia bisa menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada disana (Muntaha) secara langsung.

Kita semua tahu, bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan didalam segala hal, karena yang tidak terbatas itu hanyalah Allah Swt semata.   Sebagai seorang manusia biasa, sebagai keturunan Adam as, keadaan  beliau sama seperti kita.   Untuk itu, Allah telah mengadakan penyesuaian atau membuka Ijab terhadapnya agar dapat memasuki Muntaha yang suci sekaligus menjadikannya kasyaf, melihat tembus segala sesuatunya, termasuk melihat wujud malaikat Jibril dalam rupa aslinya sebagaimana yang  dikatakan pada ayat 53:13-14. Dengan kata lain, Nabi Muhammad dikembalikan kepada fitrah manusia semula, yaitu fitrah awal yang diberikan kepada Nabi Adam as waktu  itu. Keadaan dimana Nabi Muhammad dapat melihat semua malaikat-malaikat Allah serta dapat bercakap-cakap dengan mereka.
Bahkan, dalam beberapa hadist yang sampai saat ini masih bisa dikatakan shahih dan diyakini oleh sebagian besar para ulama menyatakan bahwa Nabi Saw juga telah bertemu dengan ruh para Nabi terdahulu, seperti Adam, Musa, Ibrahim dan beberapa ruh Nabi-nabi dan Rasul lainnya, dimana beliau melakukan Shalat sebanyak 2 raka'at, menurut ketentuan shalat para Nabi itu dulunya, yaitu ruku' dan sujud.

Memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk masalah pengimaman yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ini terhadap para ruh, sementara beliau sendiri berada dalam keadaan hidup, jasmani dan ruhaninya, hal ini mengingat bahwa kedudukan Nabi Muhammad Saw yang mulia disisi Allah sekaligus sebagai penutup dari para Nabi dan sesuai pula dengan ayat yang menyatakan bahwa orang yang sudah mati itu tidaklah mati habis begitu saja, namun mereka tetap hidup (dialam penantian).

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. 2:154)
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki."  (QS. 3:169)
"Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya; Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan." (QS. 30:19)
"Menciptakan dan membangkitkan kamu tidak lain hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."   (QS. 31:28)
 Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam peperangan Badar dikuburkan dalam satu perigi oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, beliau "bertanya" kepada mereka yang telah tewas itu : "Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai Abu Jahl bin Hisyam, (seterusnya beliau menyebutkan nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per satu). Wahai penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? (Sesungguhnya) Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku."
"Rasul. Mengapa Anda berbicara dengan orang yang sudah tewas?" Tanya para sahabat. Rasul menjawab: "Ma antum hi asma' mimma aqul minhum, walakinnahum la yastathi'una an yujibuni (Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku)." (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad: 259)
 Kemudian, seperti yang juga banyak kita dapatkan didalam periwayatan hadist, bahwa Nabi Muhammad selanjutnya di Sidratil Muntaha, menuju suatu tempat agung yang Jibril sendiri, selama ini sebagai "Tangan Kanan Allah" tidak mampu menembusnya, (didalam salah satu riwayat dikatakan sebagai tempat lautan cahaya sekaligus merupakan batas terakhir bagi Jibril menghantarkan Muhammad) dilukiskan dengan gaya bahasa yang indah oleh Qur'an, seperti yang dikatakan pada ayat ke-16 hingga ayat ke-18 surah 53 :
Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda terbesar dari Tuhannya. (QS. 53:16-18). Sungguh, suatu ungkapan teramat sangat yang dicoba dilukiskan dengan  kata-kata mengenai keindahan yang begitu menawan atas apa yang sudah dilihat oleh Nabi Muhammad Saw pada waktu itu.
 Makanya tidak heran jika akhirnya ulama kembali terpecah dua di dalam memahami ayat ini, ada sebagian mereka mengatakan bahwa Nabi Saw benar-benar telah melihat Tuhan pada saat itu, namun sebagian lagi menyatakan sebaliknya. Namun saya sendiri berpendapat bahwa apa yang telah dilihat oleh Nabi  besar Muhammad Saw ketika itu tidak lain hanyalah tabir atau yang  disebut didalam bahasa Qur'annya dengan hijab sebagaimana keterangan dari Qur'an sendiri :
"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya kecuali dengan ilham atau di belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim utusan (malaikat) lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.   (QS. 42:51)

Adapun keindahan dari Hijab atau tabir inilah yang membuat Nabi  Muhammad Saw terpesona, kagum dan beribu perasaan lainnya yang  menyelimuti perasaan hatinya, sehingga pemandangan Rasul yang agung  ini tidak berpaling dari apa yang dilihatnya namun juga Beliau tidak  dapat melihat lebih jauh lagi atau melampaui tabir tersebut, sebab memang hanya sampai disanalah kemampuan mata beliau yang di izinkan Allah untuk dapat melihat.
 Benarlah kiranya pada ayat yang ke-18, AlQur'an menyebutkan bahwa Nabi  Muhammad Saw telah melihat sebagian tanda-tanda yang terbesar dari Tuhannya. Apa yang sudah dilihat oleh Rasul Saw, adalah suatu karunia yang tidak terhinggakan, melebihi segala-galanya, suatu rahmat dan nikmat yang amat sangat diinginkan oleh Nabi Musa as namun tidak kuasa ia dapati   sebagaimana yang disebutkan dalam surah 7 ayat 143. Namun karena yang dilihat oleh Nabi Muhammad Saw waktu itu adalah Hijab yang menutupi Allah, makanya disebutkan pada ayat 17 dan 18, bahwa ia telah melihat "Sebagian" dari kekuasaan Tuhan, bukan  "Semuanya".
 Dalam salah satu Hadist shahih riwayat Masruq yang dirawikan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi disebutkan : "Saya pernah bertanya kepada 'Aisyah r.a. demikian: 'Wahai Ummul   Mukminin, benarkah Nabiyullah Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya ?'  Beliau menjawab, 'Benar-benar telah berdiri bulu romaku karena mendengar apa yang engkau katakan itu. Hati-hatilah engkau dari tiga hal ini; barangsiapa yang memberitahu kepadamu tentang tiga hal ini, pastlah dia berdusta.
1. 'Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya, maka ia pasti berdusta.' Lalu 'Aisyah membaca ayat yang artinya : Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)
2. 'Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia dapat mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, pastilah ia berdusta,' Lalu 'Aisyah membacakan ayat yang artinya : Tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan besok hari. (QS. 31:34)
3. 'Barangsiapa yang mengatakan padamu bahwa ia (Rasulullah) menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka pastilah ia berdusta.' Lalu 'Aisyah membacakan ayat yang artinya :  Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.(QS. 5:67)

Tetapi, katanya meneruskan, ia pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.   (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).  Sekarang, kita akan melanjutkan pembahasan dari bagian terakhir ayat 17/1 :
 Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha melihat : Innahuu Huassami'ul Basyiir, Bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa, senantiasa melihat, mendengar, memperhatikan dan menentukan setiap gerak tindak zahir bathin dari seluruh wujud disemesta raya. Semua itu senantiasa berjalan dengan cara yang wajar melalui garis kausalita.  Tidak satupun yang terlepas dari ketentuan Allah walaupun gerak hati dalam dada setiap diri. Ayat ini berhubungan erat pula dengan 3 ayat terakhir dari surah ke-2, yaitu ayat 284 hingga 286 yang menurut beberapa hadist diberikan   kepada Nabi Saw pada saat beliau menerima perintah shalat langsung dari Allah Swt.
 Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu  menyembunyikannya, Allah akan memeriksa kamu tentang perbuatanmu itu.Dia akan mengampuni siapa yang Ia kehendaki dan menyiksa siapa yang Ia kehendaki; Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan orang-orang yang beriman; tiap-tiap seorang daripada  mereka percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan  rasul-rasul-Nya. "Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari  rasul-rasulNya", dan mereka berkata:"Kami dengar dan kami ta'at,  Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan  kesanggupannya. Ia akan mendapat apa yang diusahakannya serta mendapat  apa yang dikerjakannya. "Hai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami  jika kami lupa atau kami keliru. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  pikulkan kepada kami yang tak sanggup kami mengerjakannya. Ampunilah  kami, lindungilah kami dan kasihanilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".  (QS. 2:284-286)

Memahami peristiwa Mi'raj Rasulullah Saw (1)

Diterjemahkan dari AlQur'an surah An Najm ayat 1 s.d 18
1. Demi bintang ketika terbenam,
2. Kawanmu, (Muhammad), tidak sesat dan tidak keliru,
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.
4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
5. Yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat (yaitu Jibril),
6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli.
7. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,
9. Maka jadilah dia dekat laksana dua busur panah atau lebih dekat.
10. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah diwahyukan.
11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?
13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
14. Di Sidratil Muntaha.
15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
16. Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

Nabi Allah yang terakhir, yaitu Rasul Allah Muhammad Saw telah mengadakan perjalanan malam dari masjidil Haraam kemasjidil Aqsha dan telah menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hebat dan dahsyat dengan ditemani oleh Malaikat Jibril yang akan dilihatnya dalam wujud aslinya pada saat di Muntaha sebagaimana yang pernah dijumpai Rasulullah pertama kalinya digua Hira ketika   mendapatkan wahyu yang pertama.
 Peristiwa itu, bagi Nabi sendiri merupakan pengalaman yang paling tinggi dan sempurna dalam kehidupan kerohaniannya. Kepergiannya keatas orbit bumi sampai terus menjulang tinggi melangkahi berjuta bahkan bermilyar bintang dan benda-benda angkasa lainnya untuk pada akhirnya sampai dihadapan 'Arsy Ilahi menyaksikan kebesaran Allah baik dengan mata kepala, mata batin atau mata hatinya sehingga sangat sulit dilukiskan. Kaum alim ulama banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian  yang dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan badan kasar? Sejak jaman permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah, masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan mufassirin. Dan ini adalah hal yang sangat wajar sekali, bukankah tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara berpikir dan pengetahuan masing-masing serta perkembangan peradaban tekhnologi pada masanya? Ada sementara orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan Nabi ini terjadi dalam mimpi, padahal mimpi itu tidak perlu dibantah. Toh itu cuma mimpi. Misalnya seperti saya yang berada di Palembang, lalu saya mengatakan bahwa tadi malam saya bermimpi pergi ke London, maka tidak akan ada seorangpun yang bisa membantah saya, karena hal itu hanyalah mimpi. Orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil AlQur'an : "Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar ru'yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia." (QS. 17:60)
 Menurut mereka, lafal Ru'ya (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ya" saja) adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru'ya(h) (dalam bahasa Arabnya memakai  huruf "ta" setelah huruf "ya"). Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila Penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah Mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi Ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 17:60 diatas? Sedangkan makna Ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu  lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya.  Adakah anda pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan  perbuatan begini dan begitu ? Tidak, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu (yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa itu tidak akan membantahnya - seandainya peristiwa itu terjadi dalam mimpi).
 Sekarang mari kita bicarakan arti kata "Ru'yaa dari segi bahasa menurut undang-undang kebahasaan Arab yang berlaku.,Coba lihat kembali ucapan-ucapan jahiliah sebelum diturunkannya Al Qur-an, juga pada saat Nabi Ibrahim memandang takjub atas bintang-bintang, bulan, matahari dilangit ketika dalam pencarian jati diri Tuhannya, maka akan kita dapati bahwa kata-kata "Ru'yaa"  juga dipergunakan dalam arti "melihat dalam keadaan sadar" (melihat dengan mata kepala).  Jadi perkataan "Ru'yaa" dengan arti "melihat dalam keadaan sadar" dipakai untuk perkara-perkara yang aneh-aneh dan menakjubkan yang  biasanya terjadi dalam mimpi.  Apabila kita hendak menyatakan bahwa kita melihat sesuatu yang  biasa maka kita katakan : Ro aitu Ru'yah tetapi jika kita mengatakan sesuatu hal yang dapat dilihat dengan mata kepala (Dalam keadaan sadar) dan kita mempergunakan kata-kata "ra-aa" dengan bentuk masdar "rukyaa",  maka berarti apa yang kita katakan itu adalah hal yang luar biasa  yang umumnya hanya terjadi dalam mimpi, namun itu tidak berarti kita sedang dalam mimpi.  Sekarang kita lanjutkan dengan membicarakan kata-kata "Ja'ala",  bagaimanakah penggunaannya menurut tata bahasa ?  Saya berpendapat bahwa kata-kata "Ja'ala" ini apabila digunakan  untuk sesuatu yang belum ada kemudian menjadi ada, maka kata-kata  "Ja'ala" tersebut sama artinya dengan "Khalaqa".
 Perhatikan Firman Allah : "Waja'ala minha zau jaha" Artinya :"Dan Kami jadikan daripadanya pasangannya." Maksudnya adalah : Kami ciptakan istri Adam itu dari padanya yang mana pada waktu itu si Istri tersebut belum ada lantas kemudian menjadi ada. Tetapi apabila kata-kata "Ja'ala" ini digunakan untuk  sesuatu yang sudah ada, maka artinya ialah "Merubah". Dari kata-kata "Ja'ala" dengan arti yang kedua ini maka akan timbul dua hal, yaitu adanya "Maj'ul" (sesuatu yang dijadikan/yang dibuat) dan "Maj'ul minhu" (sesuatu yang dijadikan daripadanya akan  sesuatu yang lain). Misalnya kita katakan : Ja'altussinaibrita Artinya :Saya membuat tanah liat menjadi kendi. Maka tanah liat ini sebagai bahan (Maj'ul minhu) dan kendinya sebagai Maj'ul. Begitu juga dengan firman Allah terhadap Nabi Ibrahim :Inni Ja'iluka linnasi imama, Artinya: "Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia." (QS. 2:124), maka hal itu berarti bahwa Nabi Ibrahim sudah ada, sedangkan "Keimaman" adalah perkara    yang lain lagi. Lalu kembali lagi pada arti ayat 17:60 :"Dan tidak Kami jadikan penglihatan yang Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan..." Dijadikan apakah penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad Saw itu ? Jawabnya : Dijadikan ujian bagi manusia dimana timbul reaksi-reaksi dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang  mendustakan. Atau, kalau kata-kata "Ru'yaa" disini diartikan dengan mimpi, maka mimpi ini dapat dijadikan Ujian bagi orang lain? Karena mimpi tersebut kemudian menjadi kenyataan, dan dari kenyataan (peristiwa nyata) inilah lantas timbul Ujian. Sehingga dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mi'raj itu mula-mula dialami Rasulullah Saw dalam mimpi, kemudian dalam alam kenyataan sebagaimana hal ini dialami Rasulullah Saw pada peristiwa yang lain seperti yang difirmankan oleh Allah : "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram.." (QS. 48:27) Dimana peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian, kemudian menjadi kenyataan. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk memperlihatkan kepada ruh Muhammad Saw mengenai peristiwa Mi'raj ini dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah mengalami Mi'raj dalam mimpi dan oleh ruhnya, lalu dialaminya dalam alam kenyataan. A'isyah r.a. pernah mengatakan :  "Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak bermimpi sesuatupun melainkan mimpinya itu akan menjadi kenyataan seperti terbitnya fajar."  Sekarang, mari kita tinjau kembali secara teliti, Surah 53 yang dimulai dari ayat 1 s.d ke-18 yang telah saya cantumkan pada bagian permulaan dari artikel ini, dan perhatikan ayat-ayat yang  telah saya tebalkan dan miringkan hurufnya dan akan saya kutip kembali beberapa ayat yang berhubungan erat dengan pembahasan utama kita : 11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?
 Ayat 1 s.d 12 itu menceritakan saat pertama kali  pertemuan Nabi Muhammad Saw dengan malaikat Jibril, dimana Muhammad waktu itu sedang melakukan pengasingan diri lengkap dengan jasad fisiknya (lahir-batin) didalam gua Hira pada saat menerima wahyu pertama. Dan penglihatan terhadap Jibril ini dilakukan dengan mata kepala Rasulullah sendiri, lahir batinnya beliau melihat, serta "hati Rasul tidak pula mendustakan penglihatan matanya" Lalu pada ayat berikutnya (12), kita semua ditanya oleh Allah Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ? Jauh-jauh hari ternyata Allah sudah mempertanyakan keraguan yang ada didalam diri kita atas apa yang telah pernah dilihat oleh Rasulullah Muhammad Saw, sehingga semakin menjelaskan bahwa kejadian di Gua Hira itu adalah nyata dan kongkrit dan tidak bisa terbantahkan. Nah, selanjutnya kejadian digua Hira ini berulang kembali pada   saat di Sidratul Muntaha yang termaktub pada Surah yang sama pada ayat selanjutnya, 13-18
13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain, 14. Di Sidratil Muntaha. 17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan  tidak melampauinya. 18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya  yang paling hebat.

Rasanya sudah transparan sekali Allah menjelaskan  ayat-ayat tersebut kepada kita untuk dapat dimengerti serta dipahami bahwa semuanya berlangsung dengan logis dan real.  Tetapi memang, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, masing-masing orang dapat berbeda didalam menafsirkan setiap ayat didalam AlQur'an, mengingat memang kandungan yang ada pada AlQur'an begitu luas, indah dan mempesona selain juga begitu  ilmiah. Keilmiahan inilah yang rupa-rupanya masih agak sulit ditangkap oleh para alim ulama dahulu kala, karena memang perkembangan  peradaban tekhnologi pada masa itu belumlah lagi secanggih  sekarang ini, sehingga pernyataan manusia bisa terbang kebulan  saja masih banyak yang takjub dan terheran-heran serta tidak percaya. Memang bisa dimaklumi, penerbangan keangkasa luar dengan menggunakan pesawat terbang sendiri sebagai pelajaran struktur  jagad raya baru dicapai sekitar abad 18 Masehi. Sebelum itu cerita manusia terbang tanpa pesawat hanya dijumpai dalam cerita wayang atau cerita mengenai Nabi Sulaiman dengan karpet terbangnya atau juga mengenai cerita di Romawi dengan kuda sembraninya. Hal ini juga kiranya yang menyebabkan orang dahulu cenderung  mencocokkan beberapa arti ayat AlQur-an sedemikian rupa, sehingga bagi mereka yang selalu berkutat dengan bidang ilmiah yang  membacanya menjadi berkesan rancu, lucu dan irrasional. Padahal kita semua tahu dan sadar, AlQur-an sangat jauh dari sifat-sifat tersebut. Ayat-ayat semacam inilah yang dimaksudkan oleh Allah dengan ayat-ayat yang Mutasyabihat seperti yang saya singgung dalam Kata Pengantar Studi Kritis dalam Memahami AlQur-an Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai Mi'raj Rasul Allah  Muhammad Saw ini dengan beberapa tinjauan-tinjauan ilmiah, pada bagian kedua.

Adam Tidak Tinggal di SURGA

 (Pengupasan ilmiah tentang Jannah dan penerbangan antar planet)
Oleh : Armansyah
AlQur'an banyak sekali bercerita masalah penciptaan manusia yang pertama oleh Allah Swt, yaitu Adam hingga kronologi turunnya Adam bersama sang istri, Siti Hawa, untuk menjadi khalifah dibumi. Dalam banyak ayat, AlQur'an mengatakan bahwa tempat mula-mula Adam dan Hawa adalah disuatu tempat bernama "Jannah", yang oleh kebanyakan ahli tafsir diterjemahkan sebagai "surga", sebagaimana surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman pada hari kemudian. Tetapi ... benarkah demikian adanya ? Tidakkah akan dijumpai beberapa kejanggalan dan menimbulkan masalah yang irrasional dan bertentangan dengan akal pikiran manusia, begitu memasuki pemahaman AlQur'an lebih jauh lagi ?
 Bukankah Allah sendiri mengatakan bahwa AlQur'an itu adalah kitab petunjuk bagi orang yang bertakwa dan suatu kitab yang isinya mudah dipahami ? "Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa." (QS. 2:2)
 "Sesungguhnya Kami menjadikan AlQur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)." (QS. 43:3). Dan memang, pilihan Allah terhadap bahasa Arab sebagai bahasa Qur'an agar mudah dipahami rasanya sangat tepat sekali, karena bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan makna dan gaya bahasa serta memiliki seni keindahan tersendiri, baik dari tata bahasanya, cara pelafazannya dan lain sebagainya. Apalagi memang Rasul Muhammad Saw sendiri diutus dari kalangan bangsa Arab, yang secara otomatis bahasa Arab menjadi bahasa ibunya.

"Dan jika Kami jadikan dia /sebagai/ bacaan asing tentulah mereka bertanya : "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya ?". Apakah   /patut bahasanya/ asing dan /Rasul adalah orang/ Arab ?"   (QS. 41:44)
 Kembali kita pada permasalahan semula, yaitu mengenai kata-kata Jannah yang disebut didalam AlQur'an sebagai tempat tinggal Adam dan istrinya sebelum diturunkan kebumi, tidaklah tepat kita artikan sebagai surga. Ada pengertian lain yang lebih tepat untuk penafsiran kata Jannah ketimbang dari penafsiran surga, yaitu Kebun yang subur! Dan memang Jannah dalam bahasa Arab dapat berarti kebun dan dapat juga diartikan sebagai surga.

Dalam hal ini, A. Hassan untuk tafsir Al-Furqan-nya tetap memakai istilah Jannah untuk tempat tinggal Adam yang pertama kali, dengan menggunakan catatan kaki pada hal. 10 ...."tinggallah di Jannah (kebun atau surga) ini....". Sementara banyak pula tafsiran lain, termasuk versi Depag RI yang menggunakan pengertian surga untuk tafsiran kata Jannah. Untuk itu, mari kita bahas lebih jauh lagi dengan berdasarkan dalil-dalil Qur'an, logika dan Science modern.
 Adam diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah dibumi Dan sementara itu Adam tinggal di jannah yang terletak disuatu tempat lalu Adam dan Hawa melanggar atas skenario yang sudah ditentukan Tuhan selanjutnya Adam dan Hawa dipindahkan atau diturunkan dari Jannah itu menuju kedunia sebagaimana yang sudah dikehendaki oleh Allah semula.

"Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku   hendak jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya:   "Apakah Engkau mau menjadikan padanya makhluk yang akan membuat   bencana padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ?" Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !".   (QS. 2:30)
"Hai Adam ! tinggallah engkau dan istrimu di Jannah serta makanlah oleh kamu berdua apa-apa yang disukai, tetapi janganlah kamu mendekati Syajaratu, karena kamu akan termasuk golongan mereka yang zhalim". (QS. 7:19)

Mungkinkah Adam saat itu tinggal disurga bersama dengan Jin dan malaikat? Ingat ... Iblis adalah segolongan dari Jin. Hanya saja saat itu mereka belum ingkar, sampai pada saat perintah sujud kepada Adam. Setan dan Iblis itu adalah dua nama untuk satu mahkluk jahat. Dan Makhluk jahat ini kita klasifikasikan atas 2 :
  1 Golongan Jin   2  Golongan manusia
 "Dan ingatlah, ketika Kami memerintah kepada malaikat: "Sujudlah   kepada Adam !", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia adalah dari   golongan jin, maka ia durhaka kepada perintah Tuhannya !"  (QS. 18:50)
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, syaitan-syaitan /dari/ manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kebohongan kepada sebahagian yang lain sebagai tipu daya." (QS. 6:112)
 Sekarang jika kita memahami pengertian Jannah sebagai surga yang akan kita tempati pula pada hari akhir nanti : Apakah Adam tinggal disurga bersama jasad kasarnya? Apakah dia juga bisa melihat Tuhan ? melihat malaikat ? melihat Jin ? Bukankah Tuhan berfirman ataupun berkata-kata kepada Adam ? hal ini mengingat dalam Qur'an tidak ada disebutkan bahwa Tuhan mewahyukan kepada Adam selama dia masih didalam Jannah melalui perantara Jibril. Bukankah juga Adam melihat akan sujudnya para malaikat kepada dirinya? atau tidak? Iblis jelas sudah ingkar, tapi kenapa masih ada dalam surga yang suci? Buktinya dia masih bisa merayu Adam dan istrinya untuk mendekati Syajarah dalam terjemahan Indonesia, biasanya ditafsirkan sebagai "pohon terlarang dalam surga"
 Adakah hubungan antara Jannah tempat tinggal Adam pada mulanya itu dengan Jannah yang dikatakan terletak didekat Sidratul Muntaha, dimana Rasulullah Muhammad Saw melakukan perjalanan Mi'rajnya seperti pada surah 53:15 ?
 Dalam hal ini saya akan mencoba mengupas semua pertanyaan ini dengan gamblang dan logis, berdasarkan hal-hal yang dapat diterima oleh akal dan pikiran manusia wajar dan dapat pula dianalisis dengan ilmu pengetahuan, baik sekarang apalagi dimasa yang akan datang, InsyaAllah.

Adam pada mulanya tinggal disebuah kebun yang sangat subur yang terletak disuatu tempat yang tinggi, Adam memang bisa melihat malaikat dan Jin namun Adam tidak bisa melihat Tuhan karena halusnya zat dari Tuhan itu sendiri dan bersesuaian dengan ayat 6:103
 "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat   melihat segala penglihatan itu karena Dia amat Halus lagi Mengetahui." (QS. 6:103)
Percakapan yang terjadi antara Tuhan dengan Adam as dibatasi oleh penghalang yang dalam AlQur'an disebut dengan tabir/hijab sebagaimana pada ayat 42:51
"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya melainkan dengan ilham atau dari belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim utusan /malaikat/ lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha   Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. 42:51)
 Dialog dan sujudnya para malaikat dan Jin terhadap Adam terjadi secara real, juga terhadap ing-karnya Iblis terjadi secara nyata dihadapan Adam as dengan kata lain disaksikan oleh Adam AS. Hal ini dapat kita terima secara logis, dalam ilmu agama, batin atau tenaga dalam, ada yang disebut dengan kasyaf atau tembus pandang dimana seseorang dapat melihat tembus hal-hal ghaib yang orang lain tidak mampu melihatnya hal ini seringkali kita temukan dalam dunia sehari-hari.
 "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu benar. Dan tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menyaksikan segala sesuatu ?" (QS. 41:53)

Ayat diatas dapat dipergunakan secara umum, karena memang amat sangat banyak tanda-tanda kekuasaan dan ilmu Tuhan itu didalam diri kita selaku manusia ini, baik itu dimulai dari bentuk jasmani/phisik sampai pada anatomi tubuh bagian dalam, yang melingkupi sel-sel, tulang, darah dan sebagainya.
 Mari kita baca ayat berikut ini :
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu DAN DIKELUARKAN DARI KEADAAN SEMULA dan Kami berfirman: "Turunlah kamu ! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan".  (QS. 2:36)

Keadaan semula ini bisa juga diterjemahkan dengan terkeluar dari keadaan yang mereka sudah ada padanya. Sekarang yang menjadi pertanyaan.......keluar dari keadaan semula atau keadaan yang sudah ada pada mereka yang bagaimanakah maksudnya ?  Apakah ini bisa diartikan bahwa Adam dan Hawa dikeluarkan dari kesucian mereka, bukankah mereka sebelumnya makhluk yang suci sebelum akhirnya melanggar ?  Ataukah merupakan keluarnya mereka dari keadaan kasyaf mereka mula-mula yang dapat melihat segala sesuatu selain zat Allah yang Maha Halus.

Namun, jika kita mengatakan bahwa maksud dari dikeluarkan dari keadaan semula adalah dikeluarkannya Adam dan istrinya dari Jannah, maka hal itu kurang tepat, sebab pernyataan yang demikian, yaitu masalah pengeluaran Adam ini disebutkan pada kalimat berikutnya, pada saat Allah berfirman menyuruh mereka pergi (setelah kesalahannya diampuni oleh Allah).
 Silahkan melihat kembali ayat 2:36 tersebut dengan lebih teliti dan lihat juga Surah 20:122 dan 123 !
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah  kamu ! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi  kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai  waktu yang ditentukan".  (QS. 2:36)
"Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman:Turunlah kamu berdua dari Jannah bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka."(QS. 20:122-123)
 Pada surah 20:122 dikatakan bahwa Tuhan memilihnya (Adam), ini bias kita tafsirkan bahwa Allah memilih Adam atau dalam hal ini berperan sebagai makhluk manusia yang dekat denganNya dan merupakan makhluk yang paling mulia dari semua makhluk Allah yang ada yang sudah diciptakan oleh Allah.

Namun kata Tuhan memilihnya ini juga bisa kita tafsirkan dengan terpilihnya Adam dari makhluk-makhluk Allah yang telah lebih dulu ada dan tercipta untuk mendiami planet bumi. Dan memang benar tidak dijelaskan secara nyata bahwa Allah akan menunjuk manusia sebagai penghuni bumi, tetapi pendapat yang demikian kiranya bisa dibantah oleh surah 2:30-34 yang jelas menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan Adam sebagai makhluk yang akan memegang tampuk kekhalifahan Tuhan di bumi.

"Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya:  "Apakah Engkau mau menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ?"  Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !".  (QS. 2:30)
 "Lalu Dia mengajarkan kepada Adam keterangan-keterangan itu semuanya, kemudian Dia menunjukkan benda-benda itu kepada para Malaikat seraya berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku keterangan-keterangan ini jika memang kamu makhluk yang benar !" Mereka men-jawab: "Maha Suci Engkau! tiada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Mengetahui, Bijaksana." (QS. 2:31-32)

Catatan : Sebenarnya terjemahan "Hakim" dengan "Maha bijaksana" pada ayat terakhir 32 (Innaka Antal 'alimul Hakim) kuranglah tepat, karena arti Hakim ialah Yang mempunyai Hikmah. Hikmah adalah penciptaan dan penggunaan sesuatu yang sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. Tetapi disini diartikan dengan "Maha Bijaksana" karena dianggap arti tersebut hampir mendekati pengertian "Hakim".
Sekarang jika benar bahwa Adam dapat melihat Iblis, kenapa Adam dapat terpedaya oleh Iblis ? Bukankah Adam dapat melihat Iblis ?
Benar Adam dapat melihat Iblis pada waktu itu, tapi Iblis sendiri sejak dia menolak untuk hormat kepada Adam, sudah bersumpah kepada Tuhan untuk menyesatkan mereka dan keturunannya kelak dikemudian hari. Iblis sendiri dan juga Adam, tidak mengetahui bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Allah. Allah menyatakan bahwa Dia akan menjadikan Adam khalifah dibumi hanya kepada malaikat, bukan kepada Adam dan bukan juga kepada Jin/Iblis !
 Selanjutnya, Allah menciptakan Adam dan disuruhlah malaikat dan Jin untuk bersujud, hormat kepadanya. Salah satu golongan dari Jin, yaitu Iblis, menolak perintah Allah tersebut dengan bersombong diri bahwa dia lebih mulia ketimbang Adam dalam hal kejadiannya. Allah menegur Iblis dan Iblis memintakan penangguhan dirinya hingga hari kiamat kelak. Permintaan Iblis dikabulkan oleh Allah dan jadilah Adam diberikan ujian terhadap Iblis, sedang Iblis sendiri tidak sadar bahwa dengan godaannya itulah justru kehendak Allah akan tercapai, yaitu menjadikan Adam dan keturunannya khalifah dibumi, bukan diJannah tersebut. Inilah sedikit bukti bahwa Adam dapat melihat para Malaikat, Jin dan Iblis : Dan dia bersumpah kepada keduanya: "Sesungguhnya aku ini bagi kamu, termasuk dari mereka yang memberi nasehat." (QS. 7:21)

Bagaimanakah Iblis dapat mengucapkan sumpah pada keduanya jika dia tidak dapat dilihat oleh Adam dan istrinya ?  Belum lagi pada waktu Allah mengingatkan kepada Adam pada waktu Iblis menyatakan keingkarannya terhadap perintah Tuhan agar dia sujud, menghormat kepada Adam as, tentunya Adam menyaksikan peristiwa penolakan Iblis itu dan langsung Allah mewanti-wanti Adam terhadap makhluk itu :  Lalu Kami berkata: "Hai Adam ! sesungguhnya ini musuh bagimu dan  bagi isterimu, maka janganlah ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah, karena engkau akan menjadi susah."  (20:117)

Selanjutnya, akan saya ketengahkan satu Hadits Qudsi yang mendukung pendapat bahwa Adam dapat melihat mereka:  Abdullah bin Muhammad bercerita kepada kami, Abdur Razaq  bercerita kepada kami dari Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah  r.a. dari Nabi Saw bersabda : "Allah menciptakan Adam, tingginya  60 hasta", kemudian Allah berfirman: "Pergilah, berilah salam  kepada malaikat itu, dan dengarkan penghormatan mereka kepadamu  itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu". Adam  berkata: "Assalamu'alaikum /semoga kesejahteraan tetap atasmu/".  Mereka menjawab: "Assalamu'alaikum warahmatullah /semoga  kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu/". Mereka menambah wa  rahmatullah /dan rahmat Allah/. Setiap manusia yang masuk surga dengan bentuk seperti Adam, penciptaan itu senantiasa berkurang  sampai sekarang."

Ditahrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Bad'ul Khalqi, Bab Khalqu Adam jilid IV, hal 131 dan termaktub dalam buku Kelengkapan Hadist-Qudsi terbitan CV. Toha Putra Semarang yang aslinya diterbitkan oleh Lembaga AlQur'an dan AlHadist Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementrian Waqaf Mesir, Bab 10 : Tentang Penciptaan Adam halaman 158 s.d 175.
 Dan Adam memang berhasil diperdaya oleh Iblis untuk mendekati pohon terlarang. Tapi .... benarkah didalam Jannah atau kebun itu terdapat sebuah pohon yang terlarang untuk dimakan buahnya oleh Adam dan istri ?

Mari kita tinjau dulu arti pohon terlarang ini dari ayat aslinya : Istilah yang dipakai oleh Qur'an untuk menyatakannya adalah dengan Syajaratu atau Syajarah yang selalu ditafsirkan oleh para penafsir Qur'an dengan kata pohon. Padahal tidak demikian adanya.
 Istilah Syajaratu memiliki pengertian Pertumbuhan, dan istilah Syajarah berarti Bertumbuh bukan = pohon. Adapun yang berarti pohon ialah Syajaruh, seperti yang tercantum pada ayat 16/68, 27/60, 36/80 dan 55/6.

Istilah Syajarah atau Syajaratu yang juga berarti 'Pertumbuhan' akan kita dapati pada surah 48:18 sbb :  Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang yang beriman  itu ketika mereka berjanji setia kepadamu dibawah 'Pertumbuhan', Dia mengetahui apa yang dihati mereka lalu Dia menurunkan ketentraman atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan  kemenangan yang dekat."  (QS. 48:18)
 Pertumbuhan pada terjemahan diatas ini adalah perkembangan iman atau pertumbuhan Islam sewaktu AlQur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Waktu itu Allah memberikan ketenangan dalam hati orang-orang Islam walaupun ketika itu keadaan musuh sangat membahayakan. Hal semacam ini terjadi sebagaimana juga pada perjanjian Aqabah pertama /Bai'atul Aqabatil Ula/ yang sering disebut juga dengan nama Bai'atun Nisaa' /Perjanjian wanita/ karena dalam ba'iat itu ikut seorang wanita bernama 'Afra binti 'Abid bin Tsa'labah serta Ba'iatul Aqabah ats Tsaaniyah /Perjanjian Aqabah kedua/ yang masing-masing menyatakan kesiapan dan kesanggupan penduduk Yatsrib /Madinah/ untuk setia terhadap Nabi dan membela beliau walaupun umat Islam saat itu masih bisa dihitung dengan jari alias masih dalam tingkat pertumbuhan. Dan dengan pengertian serta perbedaan kedua arti kata itu, maka sekarang bisa diartikan sebagai dilarangnya Adam oleh Tuhan untuk melakukan persetubuhan/pertumbuhan dengan Hawa didalam Jannah tersebut, meskipun waktu itu Hawa sudah menjadi istri dari Adam. Pertumbuhan itu adalah kata lain untuk pembuahan yang terjadi akibat hubungan suami istri. Karena itulah ayat AlQur'an tidak melarang Adam 'Jangan memakan' atau 'Jangan mengambil buah pohon' tetapi yang dinyatakan kepada Adam adalah 'Jangan mendekati pertumbuhan'.

Ingat, sewaktu pertama diciptakan, Adam telah diberitahukan oleh Allah mengenai hakekat segala sesuatunya. AlQur'an memang melukiskan kejadian tersebut sedemikian rupanya melalui kalimat-kalimat yang halus dan baik sehingga menjadi sopan dan indah dengan perkataan Syajarah atau Syajaratu yang oleh para penafsir selama ini diartikan dengan pohon. Mereka dapat dibujuk oleh Iblis agar melakukan persetubuhan tersebut lalu keduanya terjebak dan terbuai akan kenikmatan tersebut sehingga ketika mereka sadar mereka mendapati bahwa tubuh mereka sudah tidak lagi terbungkus dengan pakaian karena pakaian mereka sudah terlempar kesana kemari.

Dan ini bersesuaian dengan ayat 7:22 yang menyatakan bahwa setelah mereka merasakan "buah dari pohon itu" yang bisa diartikan "hasil /buah/ dari perbuatan mereka tersebut", mereka tersentak karena menyadari telah dapat melihat aurat masing-masing. Dan mereka mulai menutupi aurat mereka dengan daun-daun yang ada dikebun tersebut secara refleks, sebab mereka tidak sempat lagi berpikir kemana pakaian mereka sebelumnya terlempar ... refkesi ini dapat saja terjadi karena begitu sadar mereka telah melanggar ketentuan dari Tuhan, saking paniknya mengambil apa saja untuk menutupi keadaan diri masing-masing, untuk selanjutnya Adam meminta ampun kepada Allah atas pelanggarannya itu. Perbuatan Adam ini dinilai oleh Tuhan sebagai orang yang tidak memiliki kemauan yang kuat untuk memenuhi perintah Allah sebagaimana ayat 20:115, meskipun memang semuanya itu adalah kehendak dari Allah agar Adam turun kebumi dan menjadi khalifah disana.
 Apa yang dilakukan oleh Adam dan istrinya itu, bukan suatu dosa sehingga semua manusia harus mewarisi dosa turunan mereka itu, Allah memang sebaik-baiknya perencana, jauh sebelum penciptaan Adam, Allah sudah berfirman akan menjadikannya sebagai khalifah dibumi, bukan di Jannah, dan Iblis tidak tahu itu sehingga dia menganggap bahwa dengan turunnya Adam kebumi, Adam akan dibenci oleh Tuhan dan akan berdosa seumur hidupnya serta akan diwarisi pula oleh keturunannya. Sama sekali TIDAK ! Allah sudah mengampuni perbuatan Adam dan istrinya itu. Adapun turunnya Adam kebumi adalah atas kehendak dan rencana Allah sendiri, bukan rencana Iblis !  Makanya hawa nafsu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang amat berbahaya bagi manusia, dari peradaban dulu hingga jaman kita sekarang ini dan telah pula diingatkan oleh Rasulullah Muhammad Saw kepada umatnya sewaktu pulang dari peperangan Badar serta banyaknya ayat AlQur'an yang mengingatkan manusia perihal pengendalian hawa nafsu ini.

Dan ini menjadi semacam peringatan keras sekaligus pelajaran berharga bagi kita sebagai anak cucu Adam, bahwa betapa sukarnya untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama kepada perempuan alias nafsu syahwat. Selanjutnya Adam bersama istrinya itu diberi amanat oleh Allah agar turun kebumi. Itu membuktikan bahwa saat itu mereka tidak berada di Bumi ! Coba perhatikan ulang surah 2:36  "Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:"Turunlah!"  (QS: 2:36)

"Turunlah" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur'annya adalah "ih bithu" , dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.", seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain." Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur'an pada turunnya Nabi Nuh dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain sebagainya.
 Sebagian dari ulama juga berpendapat bahwa mengenai turunnya Adam ini bukan dari suatu tempat tinggi, katakanlah suatu planet yang ada diluar bumi ini, tetapi turun derajat dari yang tinggi kepada yang rendah didasarkan atas keadaan Adam yang telah berdosa. Sebenarnya pendapat demikian telah ditentang oleh Qur'an dalam surah 17:70 yang menyatakan bahwa Adam dan keturunannya tetap dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah yang mulia, begitupun oleh surah 20:122 yang menjelaskan bahwa Allah telah memilihnya dan juga memberikan ampunan dan petunjuk.  Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami beri mereka kendaraan di darat dan di laut, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS. 17:70)
 Kita melihat bahwa AlQur'an disini juga tidak menjelaskan secara jelas, dimana Adam dan istrinya itu turun dan bertempat tinggal setelah diperintah oleh Allah keluar dari Jannah tersebut. Sehingga tetap akan selalu ada kemungkinan bahwa sebelum Adam berdiam di planet bumi kita ini, Adam dan istrinya telah terlebih dahulu turun dan mendiami bumi-bumi lainnya disemesta alam ini dan berketurunan disana, yang mana keturunan dari mereka ini akan menjadi Adam-adam pertama ditempat-tempat tersebut untuk selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan mereka keplanet bumi ini sebagai bumi terakhir yang belum mereka kunjungi, dan merupakan tempat mereka tinggal selama-lamanya,hingga wafatnya.

AlQur'an sendiri menyatakan bahwa ada banyak sekali terdapat bumi-bumi lainnya diluar planet bumi yang kita diami ini:  Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.(QS. 65:12)
 Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi-bumi itu semuanya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dalam kekuasaanNya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.(QS. 39:67) Kedua ayat yang kita muatkan diatas menunjukkan dengan pernyataan Allah bahwa bumi ini digandakan, sedangkan istilah "Ardhu" yang tercantum pada ayat 39:67 adalah Isim jamak atau noun plural yang dibuktikan dengan istilah "Jamii'aa" yang berarti semuanya. !

Adapun angka 7 yang dipakai didalam AlQur'an sebanyak 24 kali adalah untuk maksud yang bermacam-macam. Angka 7 ini sendiri dalam kaidah bahasa Arab dapat diartikan untuk menerangkan jumlah "Banyak"atau Tidak terhitung. Hal ini sama halnya dengan orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi yang menyatakan bahwa angka 7 mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak ditentukan. Dalam Qur'an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada langit (Sama'), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7 jalan diatas manusia.  Jadi cukup logis jika kita TIDAK menganggap bahwa Jannah itu sebagai surga yang dijanjikan kepada kita kelak, sebab jika tidak demikian, akan muncul beragam pertanyaan yang tidak terpecahkan.
 Adapun beberapa pertanyaan tersebut adalah :
1    Mungkinkah Adam dan Hawa tinggal disurga bersama Iblis penggoda dengan jasad  kasar ?
2  Lalu dimana surga tersebut ? Abstrakkah ? Konkretkah ?
3  Apakah didunia ini ? sehingga begitu disuruh turun kedunia mereka seolah hanya tinggal menjejakkan kaki melangkah seolah Doraemon yang memiliki pintu ajaibnya ?
4  Lalu bila syurga itu abstrak, bagaimana bisa Adam dan Hawa tinggal dalam suatu lingkungan abstrak sementara mereka sendiri terdiri dari materi atau benda yang berwujud ?
5  Lalu bagaimana Iblis bisa keluar dari surga pada saat Adam diusir ?
6  Jika Iblis memang sudah diusir dari surga oleh Allah sewaktu pertama kali ia ingkar atas perintah Allah bagaimana tahu-tahu Iblis bisa menggoda Adam dan Hawa yang masih disurga?
7  Sedemikian tipisnyakah shelter dari surga itu sehingga bias ditembus oleh Iblis ?
8 Apakah mereka juga makan dan minum dengan benda abstrak ?
9 Apakah pakaian mereka juga abstrak ? termasuk daun-daun Jannah yang untuk menutupi tubuh kasar mereka ?
10 Apakah benda-benda yang dikenal oleh Adam yang diajarkan oleh Allah 2:31 adalah abstrak?
 Sementara surga itu sendiri sebagaimana yang disyaratkan oleh Qur'an sebagai suatu tempat yang kekal, dimana tidak satupun dari makhluk yang bisa keluar dari dalamnya dan tidak akan ada larangan apa-apa disana karena statusnya adalah sebagai tempat yang suci dan tempat kebebasan. "Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (QS. 2:82)
 Lainnya lagi, Adam sudah diajarkan oleh Allah perihal nama-nama benda yang ada pada Jannah tersebut dan itu adalah konkret sebagaimana pula dengan diri dan keberadaan Adam, Hawa dan lingkungannya adalah nyata. Lalu ketika mereka ada dibumi, toh Adam dan istrinya terbukti tidak terlalu kaget dengan lingkungan barunya sebab dia sudah mengenal lingkungan itu karena memang lingkungan bumi tidak berbeda jauh dengan Jannah tempatnya tinggal pertama kali.

Masalah udara contoh lainnya ... jelas bahwa udara ditempat Adam tinggal dulu adalah sama dengan udara dibumi ini sebagai zat pernafasannya, begitupula keadaan tanah tempat mereka berpijak. Mengenai keadaan Jannah ini, mari kita lihat petunjuk Allah dalam AlQur'an : "Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah, yang menyebabkan kamu menjadi aniaya. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. dan sesung-guhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa kepanasan". (QS. 20:117-119)

Apakah dalam surga ada matahari sehingga Adam dapat merasa panas ? Jelasnya bahwa Jannah itu terletak disuatu tempat diluar planet bumi dan tempat dimana orang tidak akan pernah merasa lapar dan haus sebab didalam Jannah alias kebun yang subur itu ada banyak buah-buahan pengusir rasa lapar dan dahaganya serta tidak akan terkena panas matahari yang mengorbit didekatnya akibat kerindangan dari pohon-pohon yang ada didalam kebun itu sendiri. Juga tidak akan telanjang karena banyak sekali bahan yang dapat dijadikan sebagai pakaian penutup aurat.

Selanjutnya, Adam dan istrinya dikirim kebumi dengan kendaraan tertentu dari Jannah tersebut yang juga dikitari oleh Barkah disekeliling mereka sebagaimana juga terjadi pada Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin pada waktu peristiwa Mi'rajnya. Masalah Barkah dan perjalanan Nabi Saw ini kita bahas secara panjang lebar pada Mi'raj Nabi Muhammad ke Muntaha (Pengupasan surah An Najm 1 s.d 18) serta Mi'raj Nabi Muhammad ke Muntaha (Pengupasan surah Al Israa 1) yang juga akan diikuti dengan Mengungkap tentang Buraq, kendaraan penjelajah inter dimensi.

Kita kembali pada Adam dan Hawa, ketika mereka tiba diplanet bumi kita ini, pesawat/ kendaraan mereka itu dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan Hawa untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan.) Atau bisa juga jika kita tetap beranalogi bahwa dari Jannah itu Adam dan istrinya langsung diturunkan keplanet bumi kita ini tanpa adanya persinggahan dibumi-bumi lainnya, mereka didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan Hawa untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah. Hal ini dapat kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan dibumi dari Jannah (menurut salah satu riwayat sekitar 200 tahunan; Wallahu'alam)

Jelasnya saya berpendapat bahwa semuanya terjadi secara logis, sesuai dengan sifat dari AlQur'an yang mengutamakan kelogisannya. Memang benar, bahwa manusia sudah mengalami penerbangan antar planet atau tata surya, jauh sebelum apa yang disebut dengan Apollo atau Stasiun Mir dibuat oleh Amerika dan Rusia. Nabi Adam as bersama istrinya (Siti Hawa), adalah dua orang manusia ciptaan pertama Tuhan yang juga merupakan manusia pertama kalinya melakukan perjalanan antar planet atau juga antar dimensi, yang selanjutnya diteruskan oleh Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin sebagai Nabi dan Rasul Allah sekaligus sebagai manusia pilot pelopor penjelajahan ruang angkasa di masa lalu dari keturunan Bani Adam.

Tentunya, penjabaran saya ini akan semakin membuat kontroversi yang berkepanjangan dari semua rekan-rekan, tetapi cobalah anda menyimak dengan teliti satu persatu secara perlahan semua apa yang saya tuliskan disini, dan anda ikuti alur pemikiran saya dengan cermat. Dan untuk sementara ini saya baru menggunakan satu Hadist yang berupa Hadist Qudsi sebagai dalil pendukung, sebab saya masih melakukan penggalian terhadap AlQur'an sebagai satu-satunya sumber ilmu yang pasti karena merupakan wahyu Allah yang terjaga kesuciannya serta berfungsi sebagai dalil yang tidak terbantahkan !

Sampai saat ini, rasanya masih belum begitu banyak rahasia-rahasia yang terkandung didalam Qur'an dapat dipecahkan oleh manusia, meskipun wahyu Allah itu diturunkan sudah lebih daripada 14 abad yang lalu !!!  Qur'an masih tetap berupa kitab yang penuh misteri, baik ditinjau dari sudut ilmiah apalagi dari sudut ayat yang menerangkan tentang hal-hal ghaib. Jadi makanya saya lebih condong mengatakan bahwa arti Jannah disana adalah kebun yang terletak disuatu tempat diluar bumi alias outerspace !  Dan ini tidak bertentangan dengan semua ayat Qur'an manapun juga, sebab sebagai suatu tempat yang nyata yang terletak diluar planet bumi, Jannah alias kebun yang subur itu tentunya siapapun masih dapat memasukinya, karena dia tidak bersifat kekal.
 Satu hal lainnya yang semakin menguatkan pendapat ini adalah pernyataan pada surah Al-Jin 72:9 :  "...Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu." (QS. 72:9)
 Ayat ini dapat kita hubungkan dengan pembahasan kita ini bahwa pada masa lalu, memang benar kaum Malaikat, kaum Jin serta manusia (yang waktu itu Adam dan istrinya) berkumpul dalam suatu tempat yang bernama Jannah yang terletak di suatu tempat dilangit. Tetapi dengan diturunkannya Adam bersama Hawa kebumi dan diusirnya Iblis dari sana maka tempat tersebut diberikan penjagaan seperti yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72 tersebut.
"...kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api." (QS. 72:8)
"...Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai." (QS. 72:9) Ayat-ayat tersebut bersesuaian dengan surah Al-Mulk ayat 5, sekaligus menjadi penjelas apakah panah-panah api itu :  "Sesungguhnya telah Kami hiasi angkasa dunia itu dengan  bintang-bintang menyala dan Kami jadikan dia hal yang diancamkan untuk syaitan, dan Kami sediakan semua itu untuk mereka selaku  siksaan yang membakar."  (QS. 67:5)
 Mari sekarang kita berbicara sedikit mengenai masalah bintang yang menyangkut pengetahuan dan science modern. Bintang-bintang adalah seperti matahari, benda-benda samawi yang menjadi wadah fenomena fisik bermacam-macam, yang diantaranya yang paling mudah dilihat adalah pembuatan cahaya. Bintang-bintang berbeda ukuran dan sifatnya, beberapa buah bintang lebih kecil daripada bumi, yang lainnya beribu kali lebih besar. Karena bintang memancarkan panas dan cahaya, astronom pernah salah menduga dengan mengira adanya pembakaran dalam bintang (pendapat ini dikemukakan oleh William Thomson, ahli fisika Skotlandia yang juga memiliki gelar Lord Kelvin).
 Energi bintang dihasilkan karena pengubahan hidrogen (dalam AlQur'an disebut dengan istilah ALMAA' yang sering diartikan orang dengan Air) menjadi helium. Proses semacam ini yang menghasilkan sejumlah besar energi (dinamai Reaksi Nuklir), reaksi semacam itu terdapat dalam bom hidrogen. Tetapi reaksi dalam bintang berlangsung dengan laju tetap, karenanya energi yang terpancar keluar dapat dikatakan konstan sepanjang jutaan tahun.

Bintang, bahasa Arabnya Najm disebutkan dalam Qur'an 13 kali, kata jamaknya adalah Nujum; akar kata dari berarti Nampak. Sementara gugusan bintang sendiri yang disebut oleh manusia jaman sekarang dengan galaksi, oleh Qur'an disebut sebagai Al-Buruj (tertuang sebagai nama surah ke-85), dan bintang pada waktu malam diberi sifat dalam Qur'an dengan kata Thaariq, artinya yang membakar, dan membakar diri sendiri serta yang menembus. Disini menembus kegelapan waktu malam. Kata yang sama Thaariq, juga dipakai untuk menunjukkan bintang-bintang yang berekor; ekor itu adalah hasil pembakaran didalamnya.

Untuk memberi gambaran yang tepat mengenai bintang yang disifati oleh AlQur'an sebagai Thaariq, bisa kita perhatikan dalam ayat berikut :  "Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu ? yaitu bintang yang cahayanya  menembus."  (QS. 86:1-3).  Bintang-bintang terbentuk dalam kabut-kabut debu dan gas yang amat besar (Nebula), permulaan terbentuknya bintang diawali dengan penumpukan debu dan gas yang tertarik oleh gaya tarik kesuatu tempat dalam nebula. Gaya yang kuat itu mendorong debu dan gas menjadi sebuah bola raksasa; ditiap tempat gaya itu mendorong kearah pusat bola. Walhasil, tekanan dipusat membesar, dan akibatnya suhu meninggi pula. (Alasan ini pula yang membuat pompa angin memanas setelah dipergunakan memompa ban sepeda). Karena itulah pusat bola menjadi panas. Dan dengan makin mengecilnya bola akibat gaya tarik yang terus menerus menekan debu dan gas kepusat, menaiklah tekanan dan suhu dipusat bola. Selang beberapa waktu kemudian gas tersebut menjadi panas menyala dan lahirlah bintang baru.
 Ini pulalah kiranya yang diartikan oleh AlQur'an dalam 67:5 dengan kata bintang menyala.
Jika hidrogen sebuah bintang habis terpakai, reaksi gaya baru segera mengikutinya dan suhu ditengah bintang naik, karenanya bintang menggelembung hingga menjadi raksasa atau maha raksasa. Bersamaan dengan itu terjadi pula perubahan lain. Bintang besar dapat meledak, bercahaya 100 juta kali lebih terang dari matahari. Dan bintang yang meledak itu dinamakan dengan Supernova. Nah, sekarang, mari kita mulai membahas ...... dimanakah letaknya Jannah atau kebun tempat Adam dan istrinya dulu itu tinggal diluar bumi ? Apakah dalam planet-planet diatas orbit bumi (seperti Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto dan planet-planet lainnya yang kedudukannya berada diatas orbit bumi yang belum diketahui/ditemukan) ? Atau juga terletak diluar galaksi Bima Sakti kita ini ? Adakah disebutkan oleh Qur'an ? dan bisakah kita kesana ?
 Hal ini mengingat bahwa Bima Sakti hanyalah satu dari sekian banyaknya (ribuan juta) galaksi yang ada didalam alam semesta (Pustaka Pengetahuan Modern : Bintang dan Planet hal.13)
Judul asli : Stars and Planets By Keith Wicks, Grolier International Inc 1989 dan dialih bahasakan oleh Prof. Dr. Bambang Hidayat (Guru besar Astronomi di ITB dan Direktur Observatorium Bosscha, ITB), Editing oleh Ganaco NV, Bandung dan penerbitan oleh PT. Widyadara, Jakarta.

Untuk mengetahui masalah Jannah yang dimaksudkan sebagai kebun yang subur tempat dimana dulunya Nabi Adam bersama istrinya tinggal, kita akan menyinggung masalah Mi'raj yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw.