English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

Memahami peristiwa Mi'raj Rasulullah Saw (2)

Subhanallazi Asro bi'abdihi laylam minal masjidil harom mi ilal masjidil aqshollazi barokna haw lahu linuriyahu min ayatina innahu huwassami'ul basyir
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.  Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."  (QS. 17:1)  Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus dipa-hami dengan sesungguhnya, tidak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah itu ialah :
Maha Suci Allah : Dalam menyampaikan berita terjadinya peristiwa Mi'raj ini, Allah  memulainya dengan kata-kata "Subhana" (Maha suci) ... kata-kata  "Subhana" ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa  disana ada kekuatan yang jauh dari segala macam perbandingan, kekuatan  yang jauh melampaui segala kekuatan manusia dimuka bumi.
 Maka makna kata "Subhanallah" ialah bahwa Allah itu Maha Suci DzatNya,  SifatNya dan PerbuatanNya dari segala kesamaan. Kalu ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang disitu Allah mengatakan bahwa "Peristiwa itu Dia melakukan" maka kita harus mensucikan Dia dari segala undang-undang dan ketentuan yang berlaku untuk manusia, dan kita tidak  boleh mengukur perbuatan Allah itu dengan perbuatan kita. Oleh karena   itulah maka surat ini dimulaiNya dengan kata-kata "Subhana" (Maha Suci) sehingga akan timbul kesan didalam hati manusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa ajaib dan diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia.

"Subhana" berarti juga "tanzih" (mensucikan). Apabila Allah mengatakan "Subhana" berarti mensucikan perbuatan-Ku dari perbuatan-mu wahai makhluk.  Maknanya bahwa undang-undang atau ketentuan yang berlaku bagi  "Perbuatan" Allah tidak sama dengan ketentuan yang berlaku bagi  "Perbuatan" makhluk-makhlukNya.
 Yang memperjalankan :  Subjek dari "Yang memperjalankan" dalam hal ini adalah Allah, dengan kalimat : "Al-Ladzii asraabi.." Dalam ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah "Asraa" yang artinya "tawanan", berupa kata benda, noun atau isim. Dalam konteks ayat 17/1  ini, kita mengartikan "Asraabi" dengan "Memperjalankan dalam   penjagaan" sebagai kata kerja, verb atau fi'il. Hal ini dapat dibandingkan pada maksud ayat 26/52 dimana terdapat istilah yang sama  tetapi fi'il amar untuk memperjalankan Bani Israil dengan penjagaan untuk menyeberangi laut merah.

Kalimat ini memberi pengertian bahwa Nabi Muhammad Saw itu di Asraa   kan dalam pengertian di mi'rajkan oleh Allah, bukan Asraa dengan  sendirinya alias kehendak Muhammad sendiri dan juga bukan atas  kepintaran yang ada pada diri Nabi Muhammad, tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang memperjalankannya.
Hamba-Nya : Dalam ayat ini Allah tidak menyebut lafal "RasulNya" atau lafal   "Muhammad", tetapi disebutNya dengan lafal Bi'abdihi, yaitu dengan  sifat "Ubudiyah" atau Penghambaan kepada Allah yang mana hal ini merupakan pintu datangnya karunia Allah, sebab semua Nabi dan Rasul  yang nota bene merupakan panutan umat, diutus untuk membenarkan atau  meluruskan cara penghambaan kita kepada Allah.

Kata sifat "Ubudiyah" atau penghambaan ini adalah kata-kata yang  pahit, kata-kata yang sulit dan kata-kata yang dibenci oleh manusia,  apabila terjadi antara sesama makhluk, antara yang satu terhadap yang  lain, karena dengan demikian maka makhluk yang satu akan menjadi hamba  bagi makhluk yang lain. Dan ini mengharuskan sihamba mencurahkan segala baktinya, semua tenaga dan kemampuannya kepada tuannya.
Tetapi penghambaan dari makhluk terhadap Al-Khaliq justru sebaliknya,  yaitu Al-Khaliq yang dipertuan itulah yang akan memberi karunia kepada orang yang menghambakan diri kepadaNya. Karena itu maka ubudiyah disini adalah suatu kemuliaan, manakala pengabdian itu meningkat maka pemberian karunia dari Allah Yang Maha  Suci itu ditingkatkan pula.
Ini juga yang terjadi pada diri Nabi Isa as. putra Maryam yang disebutkan oleh Allah dalam surah 4:172 :  Layyastanifa almasihu ayyakuna 'abda lillahi walal mala'ikatul   mukarrobun  "AlMasih tiada enggan menjadi hamba bagi Allah, demikian pula para   malaikat yang dekat."  (QS.4:172)
 Disamping itu, kata-kata "Bi'abdihi" ini dapat dipakai untuk  memberikan jawaban penolakan atas orang yang berpendapat bahwa  perjalanan malam Nabi Muhammad Saw ini hanya terjadi dengan ruhnya  saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata-kata "abd" (hamba) itu dipakai  untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, bukan untuk ruh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang mengatakan ruh itu sebagai "abd" atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai 'abd.

Pada suatu malam :  Jelas sudah, bahwa Nabi Muhammad Saw telah diperjalankan oleh Allah pada waktu malam hari.  Lalu kenapa mesti malam hari Rasul diberangkatkan ? Dapatkah kita  jelaskan secara ilmiah, logis dan kejiwaan ?  Disini kita sudah sepakat bahwa Rasulullah diperjalankan secara logis,  secara nyata dan real, maka sekarang kita akan berangkat pada  keterangan yang juga logis dan ilmiah serta mengena kepada ilmu   kejiwaan.  Masih ingat [1]kisah Adam yang dulunya bertempat tinggal didalam  Jannah yang kita artikan sebagai kebun yang subur yang berada diluar  planet bumi pada bahagian pertama artikel saya ini ?  Sekarang coba anda perhatikan kembali ayat ke-14 dan ke-15 dari surah  An Najm (53) yang telah saya cantumkan pada bagian awal :
14. Di Sidratil Muntaha. 15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
 Dan kemudian silahkan juga memperhatikan ayat-ayat berikut yang sudah pernah kita kemukakan pada pembahasan masalah Adam yang lalu : "Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh  bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia  mengeluarkan kamu berdua dari Jannah, yang menyebabkan kamu menjadi aniaya. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan kepanasan". (QS. 20:117-119)

Rasanya cocok sekali jika kita menghubungkan antara Jannah yang   termaktub dalam ayat ke-15 surah 53 itu dengan Jannah dimana dulunya  Adam dan istri pernah tinggal sebelum "diterbangkan" keplanet bumi.  Coba perhatikan dengan baik, Jannah tempat dimana Adam berada itu  dikatakan tidak akan merasa kepanasan, dan saya mengasumsikan bahwa  Jannah itu letaknya ada di Muntaha dimana Rasulullah Muhammad Saw melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi'raj.

Jadi, Muntaha itu adalah nama sebuah tempat yang bisa juga sebuah  planet yang berada diluar angkasa dan untuk sementara bisa kita  katakan kedudukannya berada diatas orbit bumi, seperti halnya dengan  kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.
Untuk jelasnya mungkin anda bisa melihat didalam "Peta Ruang Angkasa"  yang menggambarkan posisi kedudukan planet-planet dalam tata surya  yang mengelilingi matahari dalam gugusan Bimasakti. Dimana ada dua  planet yang berkedudukan dibawah orbit bumi dan dekat dengan matahari,  yaitu Merkuri dan Venus. Planet bumi kita ini jaraknya dengan matahari adalah 150 Juta Km dengan lamanya waktu mengelilingi matahari dalam 365,25 hari.
Bandingkan dengan planet Pluto sebagai planet terjauh yang berhasil  diketahui oleh para ahli tahun 1930 sampai hari ini (1998) yang  memiliki jarak 5.900 Juta Km dari matahari, bergaris tengah hanya 6.400 Km. Jarak rata-rata Pluto dari matahari paling besar dibandingkan dengan  jarak antara matahari dengan planet lainnya. Tetapi lintasan edar   Pluto agak "unik" dan menyilang lintasan planet Neptunus. Akibatnya, Pluto kadangkala beredar/mengembara disebelah dalam lintasan orbit  Neptunus. Pluto akan mencapai titik terdekat dengan kita ditahun 1989 yang lalu,  kemudian menjauh dan titik terjauh akan dicapainya pada tahun 2113  yang akan datang. Sangat sedikit memang yang kita ketahui mengenai Pluto, namun ada  dugaan bahwa planet itu terdiri dari material yang sangat padat.
 Dan para ahli ditahun 1972 memperkirakan bahwa adanya planet diluar  lintasan Pluto, pada jarak kurang lebih 9.660 juta-juta kilometer. Gaya tarik gravitasi planet tersebutlah yang menyebabkan perubahan  kecil pada lintasan beberapa komet. Dengan cara yang sama pula  kehadiran Pluto telah diduga 15 tahun sebelum penemuannya, yaitu  setelah penelaahan atas perubahan pada lintasan orbit Neptunus.  Nazwar syamsu, seorang penulis buku-buku seri Tauhid dan logika (Sekarang dilarang beredar) yang juga menjadi salah  satu buku acuan saya didalam mengemukakan pendapat, pernah  menyimpulan, bahwa planet tersebut adalah Muntaha yang dimaksudkan  oleh Qur'an sebagai tempat Mi'rajnya Nabi Muhammad Saw.
Landasan Nazwar Syamsu berpendapat begitu karena menurutnya, planet ke-10 tersebut letak orbitnya yang berada diatas orbit planet bumi  kemudian juga jaraknya yang jauh dari matahari kita yang dicocokkannya  dengan bunyi ayat ke-119 dari surah An Najm yang menyatakan bahwa Adam  tidak akan kepanasan disana (yang diasumsikan sebagai panasnya sinar matahari), serta pasnya penomoran Qur'an dengan 7 lapis langit yang   ada diatas kita (yang diterjemahkannya dengan 7 buah planet yang mengorbit diatas bumi).
Masing-masing planet yang ada diatas orbit bumi itu ialah :     1. Mars     2. Jupiter     3. Saturnus     4. Uranus     5. Neptunus     6. Pluto     7. Muntaha
 Dan dasar dari pemahaman beliau adalah dari ayat Qur'an yang memang  banyak sekali mengungkapkan tentang adanya 7 langit atau terkadang disebut dengan tujuh jalan yang diciptakan oleh Allah Swt.
Satu diantaranya adalah sbb : "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis dan kamu  sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah   sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu   lihat sesuatu yang tidak seimbang?"  (QS. 67:3)

Dan yang menjadi alasan kenapa perjalanan yang dilakukan oleh Nabi  Muhammad Saw pada malam hari adalah jika orang berangkat meninggalkan   bumi pada siang hari, maka dia akan mengarah kepada matahari yang  menjadi pusat orbit planet-planet. Dan hal itu bukan berarti "Naik" tetapi "Turun", karena semakin dekat kepada pusat orbit atau kepusat  rotasi, maka itu berarti turun, sedangkan Muhammad menyatakan beliau telah naik waktu mengalami Asraa (perjalanan) itu. Ayat 17/11 yang sedang kita analisis ini menyatakan bahwa Muhammad  dari Masjidil Haraam dibumi naik ke Muntaha, yang mana untuk sementara  ini kita simpulkan dulu bahwa kedudukan Muntaha itu mengorbit diatas bumi dan bukan dibawah bumi. Kalau orang naik dari bumi menuju Muntaha hendaklah dia berangkat waktu malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling bawah dalam tata surya kita.
Orang mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet,  masing-masingnya mengalami perputaran.  Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi  pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang  senantiasa berputar. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan  paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin atas.

Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh.  Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari  pusat itu dikatakan semakin atas.  Akibatnya, orang yang berdiri di Equador Amerika dan orang yang berdiri dipulau Sumatera, pada waktu yang sama, akan menyatakan kakinya kebawah dan kepalanya keatas, padahal kedua orang tersebut sedang mengadu telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi   masing-masingnya ternyata benar untuk status bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini. Demikian juga jika contoh itu dipakai untuk status tata surya dimana  matahari sebagai bola api langsung bertindak jadi pusat kitaran ataupun peredaran.
Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari  matahari dinamakan semakin atas. Venus dan Mercury berada dibawah orbit bumi karena keduanya mengorbit dalam daerah yang lebih dekat dengan matahari, jadi jika ada penduduk bumi yang pergi ke Venus, Mercury atau Matahari, maka orang tersebut   turun bukan naik, karenanya[2] Venus dan Mercury tidak mungkin disebut  sebagai langit bagi planet bumi kita, sebab yang dikatakan langit  adalah sesuatu yang berada dibagian atas, tetapi benar kedua planet  itu menjadi langit bagi matahari sendiri.
Dr. Maurice Bucaille, salah seorang pakar Islam yang terkenal dengan  bukunya Bibel, Qur-an dan Sains Modern, mengemukakan bahwa AlQur'an menamakan planet dengan kata "KAUKAB", dimana kata jamaknya adalah "KAWAKIB." Begitupula dengan arti yang diberikan oleh Kamus Al-Munawwir  Arab-Indonesia Terlengkap, karangan Achmad Warson Munawwir terbitan  Pustaka progressif, menyatakan Kaukab (single) dan Kawakib (plural)  itu dengan dua arti, yaitu bisa berarti planet dan bisa juga berarti bintang. Dr. Maurice Bucaille menambahkan, bahwa bumi adalah salah satu dari  planet-planet tersebut dan jika ada orang menduga akan adanya planet  lain diluar orbit pluto (Dalam hal ini untuk gugusan Bimasakti), maka planet itu harus ada dalam sistem matahari juga.
 Saya pribadi cenderung menyetujui pendapat dari Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, seorang sarjana Islam kenamaan yang menuliskan buku Al-Qur'an tentang alam semesta (judul aslinya : On cosmic verses  in the Quran) bahwa yang disebut dengan langit atau dalam bahasa Qur'an adalah Sama', ialah :  Setiap sesuatu yang kita lihat tentang benda-benda yang berada  diangkasa, seperti matahari, bintang dan planet sampai jauh kedalam  ruang alam semesta raya, yang bersama-sama dengan bumi membentuk satu  kesatuan yang kokoh dan merupakan keseluruhan alam wujud, itulah langit.
Adapun angka 7 yang dipakai didalam AlQur'an sebanyak 24 kali adalah  untuk maksud yang bermacam-macam. Seringkali angka 7 ini berartikan "Banyak" tetapi kita umat Islam tidak tahu dengan pasti, apa maksud dengan dipakainya angka tersebut oleh Allah.   Sementara itu, bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi, angka 7  ternyata juga mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak  ditentukan. Dalam Qur'an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada  langit (Sama'), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7  jalan diatas manusia. Rasanya terlalu kaku untuk mengatakan bahwa Muntaha itu letaknya  berada diluar orbit Pluto dan merupakan planet yang ke-10 dalam  lingkungan tata surya kita atau merupakan planet ke-7 yang berada  diatas orbit bumi.  Hal ini akan saya uraikan lagi pada penjelasan mengenai arti "Masjidil Haraam dan Masjidil Aqsha".
Saya lebih cenderung mengartikannya sebagai sebuah planet yang keadaannya tidak berbeda jauh dengan bumi tempat kita tinggal saat ini, dimana disana juga ada peredaran benda-benda langit yang mengelilingi sebuah matahari. Dan yang jelas, planet "bumi" Muntaha ini letaknya diluar galaksi Bimasakti kita. Dia bisa terletak digugusan bintang mana saja didaerah alam semesta yang sangat luas. Dan pernyataan bahwa Muntaha dan Jannah yang berkedudukan diatas bumi,  itu memang benar, memang mereka berkedudukan di luar bumi.
 Juga pernyataan Allah pada ayat 2:36 mengenai kata "Ihbithu" seperti  yang pernah kita bahas pada waktu pengupasan masalah Adam pada artikel  sebelumnya dan akan kita ulangi sedikit disini adalah benar. "Pergilah !" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur'annya adalah "ih bithu", dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.",  seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain." Dan karenanya ada juga penafsir yang memakai kata "Turunlah" saja.
Allah menyuruh Adam dan istri untuk turun dari tempat yang tinggi,  yaitu Muntaha (dimana nantinya juga Muhammad akan kembali kesana dan  berada pada ufuk yang tinggi tersebut), ini bisa kita tafsirkan bahwa  saking tingginya, atau saking jauhnya letak Muntaha yang ada Jannah  tersebut, maka Allah menggunakan kata "Ih bithu" atau Turunlah ! Atau  berpindahlah dari sini kesana.
 Kembali pada permasalahan kita semula, yaitu kenapa perjalanan Nabi  Muhammad Saw itu dilakukan pada waktu malam hari dan tidak pada waktu lainnya (pagi, siang, sore).   Saya berpendapat, bahwa salah satu alasan logis lain yang bersifat kejiwaan disamping alasan yang dikemukakan oleh Nazwar Syamsu adalah  pada malam hari, keadaan diliputi oleh ketenangan, apalagi jika kita mengilas balik seperti apa kira-kira keadaan Arabia pada masa itu jika malam menjelang. Selain itu, suasana malam adalah suasana yang khyusuk didalam beribadah, suasana dimana manusia menghentikan kegiatan mereka untuk  sementara waktu dan mengistirahatkan pikiran dan jiwa mereka dari  kesibukan sehari-hari, dan merupakan suasana yang sangat hening yang  membantu menciptakan kondisi yang cocok bagi upaya mendekatkan diri  kepada Allah.
AlQur'an memberikan petunjuk yang jelas bahwa saat terbaik upaya ibadah yang berkualitas ialah pada waktu malam hari. AlQur'an mencatat suasa malam itu untuk menjalin hubungan yang terbaik dengan Allah :  "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQur-an) pada malam  kemuliaan."  (QS. 97:1)
 Untuk ibadah, shalat tahajud, saat-saat terbaik merasakan kelezatan  malam sekitar bagian ketiga menjelang fajar. Jauh dari rasa riya' dan  ujub serta takabur karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya. "Berdirilah melakukan shalat malam hari, walau jangan hendaknya  seluruh malam itu, separuhnya saja atau kurang dari itu." (QS. 73:2,3)
"Sesungguhnya bangun waktu malam itu adalah paling baik dan cocok  untuk shalat dan paling baik untuk memuji Allah." (QS. 73:6)

"Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. 10:6)
Dari Masjidil haraam ke Masjidil Aqsha :  Dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw adalah dari Masjidil Haraam,  yaitu kota Mekkah Almukarromah menuju ke Masjid Al-Aqsha. Seperti yang diketahui bersama, Masjidil Haraam adalah rumah peribadatan yang pertama kali dibangun untuk manusia oleh Allah Swt yang akhirnya dasar-dasarnya ditinggikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya, Nabi Ismail as., Tempat tersebut juga merupakan awal  bertolaknya dakwah serta tempat berdomisilinya Rasulullah Saw. Tetapi benarkah pendapat umum yang menyatakan bahwa dari Masjidil Haraam, Mekkah AlMukarromah, Nabi Muhammad Saw pernah melakukan kunjungan ke Masjidil Aqsha yang terletak di Palestina ?  Setelah sekian lama saya mencoba menyelidiki, mendalami, dan menganalisa serta mempertimbangkan dari beberapa sudut keilmuan modern dan pendapat para alim ulama, akhirnya saya berkesimpulan bahwa Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad Saw melakukan "kunjungan" itu TIDAK TERLETAK DIBUMI. Masjid Al-Aqsha sendiri waktu itu belumlah ada, yang ada di Bait Al-Maqdis di Palestina adalah Haikal Sulaiman.  Ada sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menyatakan bahwa ketika kaum Quraisy bertanya kepada Nabi Saw perihal keadaan  Bait Al-Maqdis, Beliau sempat terdiam dan bahkan bimbang, hal ini   membuktikan bahwa memang Rasul tidak pernah pergi kesana malam itu, melainkan pergi ke "Masjid Al-Aqsha" di Muntaha.
Kaum Quraisy menanyakan kepadaku tentang perjalanan Israa', aku   ditanya tentang hal-hal di Bait Al-Maqdis, tidak dapat aku menerangkannya sampai-sampai aku bimbang. Tatkala kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr lalu Allah Swt menggambarkan dimukaku keadaan di Bait Al-Maqdis dan tanda-tandanya hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan. (Imam Bukhari)

Mari sekarang sama-sama kita tinjau dulu dari segi bahasa,  Arti dari "Masjid" itu sendiri adalah tempat bersujud, dan sujud ini  adalah merupakan risalah setiap Nabi dan Rasul Allah sebelum periode Muhammad Saw.  Dari AlQuran beberapa diantaranya adalah ketika Allah memberikan  firmanNya kepada Ibrahim sewaktu meninggikan Ka'bah bersama puteranya, Ismail (2:125), Siti Maryam (3:43), Firman Allah kepada Bani Israel (2:58), adanya beberapa golongan Ahli kitab yang mengEsakan Allah (3:113), Nabi Musa dan umatnya (4:154), Nabi Daud (38:24) dan lain sebagainya.

Dari Bible : Mazmur 96:6    "Marilah kita menyembah dan bersujud; marilah kita berlutut kepada Tuhan yang menciptakan kita."
 Yoshua/Yusak 5:14    "... maka Yusak pun tersungkur dengan mukanya ketanah sambil menyembah   sujud..."
 Raja-raja I:18:42    "...tetapi Elia naik keatas kepuncak Karmel, lalu tunduk sampai ke tanah dengan mukanya ditengah-tengah lututnya."
 Bilangan 20:6    "Maka pergilah Musa dan Harun dari hadapan orang banyak itu kepintu kemah perhimpunan, lalu keduanya menyembah sujud. Maka kemuliaan Tuhan kepada mereka itu."

Kejadian 17:3    "Lalu sujudlah Abraham dengan mukanya sampai kebumi..."
    Nah, dari itu semua jelas bahwa para nabi dan umat sebelum Muhammad    Saw sudah melakukan penyembahan kepada Allah dengan cara rukuk dan    sujud. Lalu tata cara penyembahan ini disempurnakan lagi oleh Allah    kepada Muhammad Saw serta umatnya dengan cara ibadah Sholat    sebagaimana yang kita lihat sekarang.
 Jadi, kata "Masjid" sebenarnya adalah tempat yang digunakan sebagai  tempat bersujud.  Mari kita lihat juga pada kisah Ash-habul Kahfi : La nat takhiizanna 'alaihim masjida    "Sesungguhnya kami akan mendirikan masjid ditempat mereka itu".  (QS. 18:21)
Padahal kita semua tahu bahwa masjid dalam pengertian nama bagi suatu  bangunan ibadah hanya terdapat pada periode Nabi Muhammad Saw,  sementara itu kisah Ash-habul Kahfi telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.  Aqsha bukanlah nama, arti Masjidil Aqsha adalah Masjid  yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh.  Dan masih ingatkah anda tentang Jannah dimana disana Adam dihormati oleh semua Malaikat dan Jin dengan cara bersujud ?

Ya, memang itulah tempat yang saya maksudkan.  Masjidil Aqsha yang menjadi tempat tujuan Rasulullah Muhammad Saw adalah Tempat bersujudnya para Malaikat terhadap Adam sekaligus menjadi tempat bersujudnya Nabi Muhammad Saw kepada Allah pada saat  beliau menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan terdapat di Muntaha. Adam as., adalah khalifah manusia yang dipilih oleh Allah untuk planet   bumi, sekaligus menjadi nenek moyang manusia semuanya, dan Muhammad Saw adalah Nabi Allah yang terakhir untuk manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.  Allah telah mengawali penciptaan Adam selaku khalifah pertama manusia  bumi kita ini sekaligus Nabi pertama dengan meletakkannya di dalam  Jannah yang ada di Muntaha, dan menutupnya dengan pengiriman Muhammad  selaku Nabi terakhir untuk kembali melihat Kampung Halaman kita di Muntaha yang Jannah ada didekatnya.
 Cukup logis saya rasa penjelasan saya ini, dan jauh dari sifat yang mengada-ada serta tidak jelas. Perjalanan Nabi dalam Mi'raj itu selaku ujian atas kecerdasan manusia  di bidang keilmuan dan kehidupan, ayat 17/1, 53/1 s.d 18 serta ayat 17/60, dan semua itu terbatas hingga Muntaha dengan pengertian bahwa peradaban manusia ini umumnya sampai nanti tidak akan menyimpang dan tidak melampaui dari apa yang sudah dicapai oleh Muhammad Saw dalam  Mi'rajnya. Dan karenanya saya sangat tidak sependapat dengan Nazwar Syamsu yang  mengatakan bahwa Muntaha adalah planet ke-7 diatas orbit bumi dan  hanya sampai disitulah tempat manusia bisa menjelajahi angkasa raya.  Padahal Allah justru menganjurkan kepada manusia untuk dapat  menjelajahi kebagian mana saja dari langit dan bumi ini, asalkan   mereka memiliki sulthaan yang artinya kekuatan atau kesanggupan atau juga bisa diartikan tekhnologi.
 Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit   dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan". (QS. 55:33)
Dalam ayat tersebut Allah menyuruh tidak hanya kepada umat manusia saja, namun juga melingkupi umat Jin. Dan Allah tidak berkesan membuat pembatasan-pembatasan terhadap "langit-langit tertentu" yang dapat ditembusi oleh manusia dan Jin. Makanya saya lebih cenderung berpendapat bahwa Muntaha itu letaknya diluar galaksi kita sekarang ini, yang jaraknya jutaan tahun cahaya. Sesungguhnya angkasa raya itu sangatlah luas dan terdiri dari ribuan  juta galaksi.

Matahari kita adalah satu diantara 100.000 juta bintang yang berada didalam suatu putaran spiral maha besar yang kita sebut dengan Galaksi  kita. Beberapa ribu buah bintang diantaranya dapat kita saksikan pada malam  yang cerah.  Pada bagian langit atau angkasa tertentu, tampak sedemikian banyak  bintang, hingga menyerupai sejalur pita putih yang kita sebut dengan Bimasakti. Galaksi kita bergaris tengah satu juta juta Kilometer. Para astronom lebih senang menyatakan jarak sebesar itu dalam satuan tahun cahaya,  yaitu jarak yang ditempuh oleh berkas cahaya dalam ruang selama setahun.   Dengan laju 300.000 kilometer tiap detik, berkas cahaya memerlukan  waktu 100.000 tahun untuk melintasi Galaksi kita. Oleh sebab itu garis  tengah Galaksi juga dikatakan sebesar 100.000 tahun cahaya.

"Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah  Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha  Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya  benar-benar meliputi segala sesuatu."  (QS. 65:12)
 Di sini saya cenderung mengambil makna angka 7 dalam ayat Qur'an  yang menunjukkan atas langit dan bumi sebagai pengertian "Banyak" (ini sudah pernah kita bicarakan pada bahagian atas). Dan memang benar begitulah kenyataannya.  Galaksi terdekat dengan kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya.  Dan diperkirakan bahwa pada setiap galaksi akan terdapat sistem matahari sebagaimana yang ada pada galaksi bima sakti kita ini.
Dan jika setiap galaksi memiliki sistem matahari tersebut, maka  tentunya keadaan dari planet-planet yang mengitari galaksi tersebut  juga tidak akab berbeda jauh dengan keadaan planet-planet yang ada dalam wilayah galaksi Bima sakti.
 Maka untuk kesekian kalinya, benarlah firman Allah diatas, bahwa Allah telah menjadikan banyak sekali (diwakili oleh angka 7) bumi-bumi  didalam lingkungan galaksi-galaksi (7 langit) yang berada diruang angkasa. Dan dibumi-bumi tersebut juga ada kehidupan layaknya kehidupan yang  kita jumpai diplanet bumi kita ini. Dan dibumi yang paling ujung atau bumi yang terjauh itulah ada Jannah  dimana Nabi Adam dulunya tinggal dan kembali dikunjungi oleh Nabi Muhammad Saw pada saat Mi'rajnya ke Muntaha.
 Setiap bumi pasti memiliki matahari, dan bumi itu sendiri akan bergerak mengelilingi matahari tersebut. Dan Jannah, yang terdapat diMuntaha, memiliki tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang sangat rimbun sekali dan subur, dipenuhi oleh  buah-buahan segar, sehingga jika kita berada didalamnya maka kita tidak akan kepanasan serta kehausan sebagaimana firman Allah kepada Adam as.
"Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan  kepanasan di dalamnya".  (QS. 20:119)
 Pada abad ke-18, William Herschel menyatakan bahwa sebagian dari apa  yang disebut nebula pada kenyataannya adalah pulau alam semesta.  Pulau-pulau tersebut sebenarnya merupakan tatanan bintang paripurna  yang berada jauh dari galaksi kita. Makin banyak pembuktian yang  dikumpulkan oleh Astronom pada abad ke-19 mendukung teori tersebut.  Pada tahun 1917, teleskop raksasa baru di Mount Wilson, California,   memperlihatkan bahwa "nebula" Andromeda terdiri atas kumpulan bintang. Teori Herschel itu akhirnya dikukuhkan pada tahun 1923.  Kemudian Edwin Hubble menunjukkan bahwa gugusan bintang-bintang itu  terpisah ratusan ribu tahun cahaya dari bumi. Dengan ini terbukti pula  bahwa nebula Andromeda itu sebenarnya merupakan galaksi, yang sama  sekali terpisah dari tatanan bintang kita.
Sekarang manusia telah mengetahui akan adanya ribuan juta galaksi.  Beberapa dari padanya tidak mempunyai bentuk tertentu; yang lain  berbentuk spiral atau elips.   Galaksi kita, bersama 16 buah galaksi lainnya yang terangkum dalam  jarak 3 juta tahun cahaya, disebut kelompok lokal.  Disini saya berkeinginan untuk sedikit mengajak anda membaca sebuah  penuturan dari salah satu url atau site mengenai angkasa luar akan   adanya sebuah kehidupan disalah satu galaksi, dimana digalaksi  tersebut ada juga bumi yang mengitari matahari.
Saya sadar bahwa tulisan dari site tersebut masih perlu untuk  diragukan kebenarannya, namun dalam hal ini, terlepas dari benar  tidaknya apa yang dituliskan disana, setidaknya kita bisa sedikit menjadikannya sebuah lintas bacaan semata-mata. Dan tidak ada salahnya kita menghubungkannya dengan Surah 65:12 yang baru saja kita bahas. Jika saja yang menulisnya seorang Muslim, tentu saja saya akan berpikir dua tiga kali untuk menyadurnya, sebab bisa saja itu adalah  pendapatnya yang ditujukan untuk memperkuat dalil-dalil AlQur'an. Namun tidak, site ini ditulis oleh seorang yang tidak menganut Islam, malah jangan-jangan orang tersebut juga meragukan kepercayaan yang  diyakininya.  Jadi tertutup kemungkinan bahwa ada unsur-unsur tertentu yang   berhubungan dengan Islam dan upaya penegakan Islam dari penulisan tersebut.

Silahkan link ke artikel Pleiadian yang sudah saya terjemahkan beberapa diantaranya.
Yang telah Kami berkahi sekelilingnya : Dalam lafal Qur'annya adalah barokna haw lahu. Disini juga orang sering mengartikan bahwa kata haw lahu atau Kami berkahi sekelilingnya adalah diperuntukkan untuk tempat disekitar perjalanan Rasulullah tersebut.  Namun saya mengartikannya tidak demikian.
Kata "NYA" atau lafal "HAWLAHU" pada kata "Kami berkahi sekeliling"  atau "Barokna hawlahu", sebenarnya adalah ditujukan kepada diri Muhammad Saw sendiri.
Dalam bahasa Arab, kata "Haw laha" itu ditujukan untuk yang bergender   perempuan.   Kata "Haw lahuma" itu ditujukan untuk menerangkan arti "mereka", yang   maknanya lebih dari satu.   Sementara kata "Haw lahu" adalah ditujukan kepada yang bergender   jantan, dan dalam hal ini adalah diri Muhammad Saw, yang memang  sebagai seorang laki-laki.
 Jadi, Istilah "disekelilingnya" dalam ayat 17/1 ini adalah disekeliling Muhammad. Hal ini juga dibuktikan oleh istilah lain berikutnya "Untuk diperlihatkan kepadanya."
Jadi Barkah telah diadakan disekeliling Muhammad dalam peristiwa Asraa  kemasjidil Aqsha di Muntaha. Apakah Barkah atau Barokna itu ?
Barkah adalah penjagaan, yaitu penjagaan yang melingkupi keluarga Ibrahim pada ayat 11/73, atau yang menjaga Nabi Nuh dan beberapa umatnya didalam perahu hingga topan besar tidak membahayakan mereka sedikitpun pada ayat 11/48, ataupun penjagaan atas kota Mekkah   seperti yang dimaksud ayat 21/71 dan 21/81.  Malah penjagaan atau Barkah yang melingkupi diri Muhammad Saw dalam Asraa itu, ditinjau dari segi bahasa, maka bisa kita samakan   keadaannya dengan Barkah yang melingkupi bumi ini seperti tercantum pada surah 7/96.   (Lebih jelas, lihat dalam konteks ayat-ayat aslinya)

Kita ketahui bersama, disekeliling bumi terdapat pembungkus gas yang tipis dan bening yang kita sebut dengan nama Atmosfir, yang merupakan pelindung guna melindungi kehidupan   terhadap kehampaan angkasa. Tanpa atmosfir, sinar matahari yang menghanguskan akan membakar semua kehidupan pada siang hari, dan pada malam hari suhu dapat turun jauh   dibawah titik beku. Untuk mengetahui beberapa penjelasan masalah Atmosfir ini, silahkan juga anda mengunjungi Artikel Atmosfir. Jadi, Barkah ini berupakan sesuatu yang melindungi diri Nabi Muhammad Saw hingga beliau tidak terbentur pada meteorities yang berlayangan  di angkasa bebas serta memiliki udara cukup untuk pernafasan selama berada diruang angkasa bebas. Dan dapat dimungkinkan perlindungan ini berupa lapisan-lapisan Atmosfir seperti yang melingkupi bumi atau juga semacam sebuah pesawat ruang angkasa.
 Jadi bukanlah Barkah itu ditentukan untuk Palestina sebagaimana pendapat umum selama ini, apalagi jika dinisbatkan ke Bait Al-Maqdis atau Masjid Al-Aqsha yang ada di Palestina sekarang. Dan bukanlah juga Barkah itu sebagai hewan bersayap yang dikendarai Nabi dalam Asraa itu. Masalah kendaraan yang bernama Boraq ini akan kita uraikan tersendiri secara terperinci pada pembahasan mengenai Buraq. Sekarang, mari terus kita lanjutkan pembahasan ayat 17/1 yang telah banyak kita potong dengan tambahan keterangan-keterangan yang   berhubungan dengannya :
Kami perlihatkan pertanda-pertanda Kami :  Kami perlihatkan disini dapat kita synonimkan dengan "Diperlihatkan".  Yaitu, diperlihatkan kepada Muhammad yang mengandung pengertian melihat dengan mata sendiri yaitu mata konkrit bukan dalam mimpi atau ruhnya saja.
 Dan karena Muhammad mi'raj dengan tubuh kasarnya, untuk itu diperlukan  adanya Barkah, maka Barkah ini juga membuktikan bahwa Rasulullah itu  telah berangkat dari bumi dengan jasmani dan rohaninya, sebab itu  pantaslah dia dapat melakukan penglihatan dengan kedua matanya yang konkrit. Dalam membicarakan masalah Mi'raj pada surah 17 ayat 1 ini, AlQur'an   menggunakan perkataan : "Linuriyahu min aayatina" yang artinya: "untuk Kami perlihatkan   kepadanya tanda-tanda Kami" yaitu tanda-tanda kebesaran Allah (istilah Ayat adalah jamak dari Aayah).
Sementara di dalam surah 52 (An Najm) ayat 18 seperti yang kita singgung pada awal pembahasan, AlQur'an menggunakan perkataan : "Laqod ro-aa min aayati Robbihi alkubroo." yang artinya: "Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang besar-besar/hebat."  Dalam 17/1 disebutkan "Iraa-ah minallah" (Diperlihatkan oleh Allah), sedangkan didalam 53/18 dikatakan "ra-aa bi nafsihi" (melihat dengan sendirinya).
 Mari kita uraikan :
Aktifitas yang ada didalam 17/1 adalah "iraa-ah". Apakah artinya ? Iraa-ah adalah menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu, baik dengan merubah sesuatu yang diperlihatkan itu dengan disesuaikannya dengan qanun (ketentuan yang berlaku) bagi orang yang melihatnya atau juga dengan mentransfer atau mengalihkan orang yang melihatnya itu  agar ia bisa menembus qanun yang berlaku bagi sesuatu yang hendak dilihatnya itu.

Kita ambil contoh tentang mikroskop. Mikroskop tersebut dipakai untuk melihat sesuatu (benda) yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Karena kecilnya maka seseorang tidak dapat melihat benda tersebut, tetapi setelah mempergunakan mikroskop lalu ia dapat melihat benda kecil tersebut. Ini berarti menjadikan orang yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu  karena adanya lensa yang menampakkan benda-benda yang kecil menjadi besar. Disini benda kecil itu disesuaikan dengan qanun mata biasa, dimana  menurut qanun (ketentuan yang berlaku) mata biasa manusia hanya dapat melihat benda-benda yang tampak (besar) saja.
 Dengan demikian maka "iraa-ah" (memperlihatkan/menampakkan) itu dapat dengan mengadakan perubahan terhadap benda/sesuatu yang dilihatnya itu sesuai dengan qanun orang yang melihatnya sehingga ia dapat mengetahuinya, atau dengan memberikan sesuatu alat pada benda yang dilihatnya itu sehingga yang bersangkutan dapat melihatnya.  Dalam 17/1 AlQur'an mempergunakan kata-kata "Linuriyahu" (untuk kami perlihatkan), yaitu dijadikan oleh Allah bahwa Muhammad dapat melihat sesuatu yang pada asalnya ia tidak dapat melihatnya dengan sendirinya. Karena Nabi Muhammad Saw sebelumnya berada dimuka bumi dengan qanun basyariah (manusiawinya) sebagai seorang manusia yang normal, secara otomatis Nabi Muhammad Saw tidak dapat melihat bagaimana keadaan diluar angkasa sana yang juga merupakan salah satu kebesaran Allah. Maka kepada Nabi Muhammad Saw diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda   kebesaran Allah yang ada diluar planet bumi ini dengan memperjalankan beliau dengan penjagaan penuh (yang disebut dengan Barkah atau lafal Qur'annya "Baroqna") ke Muntaha yang terletak disalah satu galaksi terjauh dari galaksi bima sakti, tempat dimana dulunya Adam dan istrinya pernah tinggal dan menetap.
 Diperlihatkan kepada Nabi betapa planet bumi yang kita tempati ini  terdapat didalam sebuah tata surya yang bagaikan suatu noktah kecil diantara jutaan milyar tata surya lainnya yang juga disebut oleh para ahli dengan nama solar system. Begitulah perikeadaan Rasulullah Saw dalam peristiwa ardliyah, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj ini. Tetapi ketika Nabi Saw naik kepada ufuk (tempat) yang lebih tinggi, tepatnya ketika beliau sudah berada di Muntaha, maka terjadilah   perubahan pada dzatiyah beliau., seolah-olah beliau telah meninggalkan basyariahnya bertukar dengan dzatiyah malaikat yang bisa melihat segala sesuatu disana dengan sendirinya.
 Keadaan semacam itu juga dulunya yang pernah ada pada diri Adam dan istrinya ketika masih berada di Muntaha sebagaimana yang kita uraikan pada artikel tersebut. Suatu keadaan dimana Adam dapat melihat para malaikat, para Jin dan termasuk Iblis. Makanya untuk kasus Nabi Muhammad Saw, oleh Qur'an dikatakan : "Laqad ra-aa... (Sungguh ia telah melihat..).", dan tidak dikatakannya sebagai : "Ara'ainaahu ...(Kami perlihatkan kepadanya)"
 Jadi, pada masa perjalanan Rasul dari bumi menuju ke Muntaha, ia diperlihatkan oleh Allah akan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah yang lainnya didalam lingkungan semesta, dan begitu ia hampur mendekati tujuan, yaitu Sidratil Muntaha, Allah berfirman bahwa Muhammad "ra-aa" (melihat dengan sendirinya) .. seakan-akan Rasulullah Saw dengan qanun basyariah sebelumnya (dari bumi hingga menjelang tiba) telah mengalami perubahan dimensi, yaitu suatu penyesuaian terhadap lingkungan barunya sehingga ia bisa menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada disana (Muntaha) secara langsung.

Kita semua tahu, bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan didalam segala hal, karena yang tidak terbatas itu hanyalah Allah Swt semata.   Sebagai seorang manusia biasa, sebagai keturunan Adam as, keadaan  beliau sama seperti kita.   Untuk itu, Allah telah mengadakan penyesuaian atau membuka Ijab terhadapnya agar dapat memasuki Muntaha yang suci sekaligus menjadikannya kasyaf, melihat tembus segala sesuatunya, termasuk melihat wujud malaikat Jibril dalam rupa aslinya sebagaimana yang  dikatakan pada ayat 53:13-14. Dengan kata lain, Nabi Muhammad dikembalikan kepada fitrah manusia semula, yaitu fitrah awal yang diberikan kepada Nabi Adam as waktu  itu. Keadaan dimana Nabi Muhammad dapat melihat semua malaikat-malaikat Allah serta dapat bercakap-cakap dengan mereka.
Bahkan, dalam beberapa hadist yang sampai saat ini masih bisa dikatakan shahih dan diyakini oleh sebagian besar para ulama menyatakan bahwa Nabi Saw juga telah bertemu dengan ruh para Nabi terdahulu, seperti Adam, Musa, Ibrahim dan beberapa ruh Nabi-nabi dan Rasul lainnya, dimana beliau melakukan Shalat sebanyak 2 raka'at, menurut ketentuan shalat para Nabi itu dulunya, yaitu ruku' dan sujud.

Memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk masalah pengimaman yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ini terhadap para ruh, sementara beliau sendiri berada dalam keadaan hidup, jasmani dan ruhaninya, hal ini mengingat bahwa kedudukan Nabi Muhammad Saw yang mulia disisi Allah sekaligus sebagai penutup dari para Nabi dan sesuai pula dengan ayat yang menyatakan bahwa orang yang sudah mati itu tidaklah mati habis begitu saja, namun mereka tetap hidup (dialam penantian).

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. 2:154)
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki."  (QS. 3:169)
"Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya; Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan." (QS. 30:19)
"Menciptakan dan membangkitkan kamu tidak lain hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."   (QS. 31:28)
 Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam peperangan Badar dikuburkan dalam satu perigi oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, beliau "bertanya" kepada mereka yang telah tewas itu : "Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai Abu Jahl bin Hisyam, (seterusnya beliau menyebutkan nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per satu). Wahai penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? (Sesungguhnya) Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku."
"Rasul. Mengapa Anda berbicara dengan orang yang sudah tewas?" Tanya para sahabat. Rasul menjawab: "Ma antum hi asma' mimma aqul minhum, walakinnahum la yastathi'una an yujibuni (Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku)." (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad: 259)
 Kemudian, seperti yang juga banyak kita dapatkan didalam periwayatan hadist, bahwa Nabi Muhammad selanjutnya di Sidratil Muntaha, menuju suatu tempat agung yang Jibril sendiri, selama ini sebagai "Tangan Kanan Allah" tidak mampu menembusnya, (didalam salah satu riwayat dikatakan sebagai tempat lautan cahaya sekaligus merupakan batas terakhir bagi Jibril menghantarkan Muhammad) dilukiskan dengan gaya bahasa yang indah oleh Qur'an, seperti yang dikatakan pada ayat ke-16 hingga ayat ke-18 surah 53 :
Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda terbesar dari Tuhannya. (QS. 53:16-18). Sungguh, suatu ungkapan teramat sangat yang dicoba dilukiskan dengan  kata-kata mengenai keindahan yang begitu menawan atas apa yang sudah dilihat oleh Nabi Muhammad Saw pada waktu itu.
 Makanya tidak heran jika akhirnya ulama kembali terpecah dua di dalam memahami ayat ini, ada sebagian mereka mengatakan bahwa Nabi Saw benar-benar telah melihat Tuhan pada saat itu, namun sebagian lagi menyatakan sebaliknya. Namun saya sendiri berpendapat bahwa apa yang telah dilihat oleh Nabi  besar Muhammad Saw ketika itu tidak lain hanyalah tabir atau yang  disebut didalam bahasa Qur'annya dengan hijab sebagaimana keterangan dari Qur'an sendiri :
"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya kecuali dengan ilham atau di belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim utusan (malaikat) lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.   (QS. 42:51)

Adapun keindahan dari Hijab atau tabir inilah yang membuat Nabi  Muhammad Saw terpesona, kagum dan beribu perasaan lainnya yang  menyelimuti perasaan hatinya, sehingga pemandangan Rasul yang agung  ini tidak berpaling dari apa yang dilihatnya namun juga Beliau tidak  dapat melihat lebih jauh lagi atau melampaui tabir tersebut, sebab memang hanya sampai disanalah kemampuan mata beliau yang di izinkan Allah untuk dapat melihat.
 Benarlah kiranya pada ayat yang ke-18, AlQur'an menyebutkan bahwa Nabi  Muhammad Saw telah melihat sebagian tanda-tanda yang terbesar dari Tuhannya. Apa yang sudah dilihat oleh Rasul Saw, adalah suatu karunia yang tidak terhinggakan, melebihi segala-galanya, suatu rahmat dan nikmat yang amat sangat diinginkan oleh Nabi Musa as namun tidak kuasa ia dapati   sebagaimana yang disebutkan dalam surah 7 ayat 143. Namun karena yang dilihat oleh Nabi Muhammad Saw waktu itu adalah Hijab yang menutupi Allah, makanya disebutkan pada ayat 17 dan 18, bahwa ia telah melihat "Sebagian" dari kekuasaan Tuhan, bukan  "Semuanya".
 Dalam salah satu Hadist shahih riwayat Masruq yang dirawikan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi disebutkan : "Saya pernah bertanya kepada 'Aisyah r.a. demikian: 'Wahai Ummul   Mukminin, benarkah Nabiyullah Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya ?'  Beliau menjawab, 'Benar-benar telah berdiri bulu romaku karena mendengar apa yang engkau katakan itu. Hati-hatilah engkau dari tiga hal ini; barangsiapa yang memberitahu kepadamu tentang tiga hal ini, pastlah dia berdusta.
1. 'Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya, maka ia pasti berdusta.' Lalu 'Aisyah membaca ayat yang artinya : Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)
2. 'Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia dapat mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, pastilah ia berdusta,' Lalu 'Aisyah membacakan ayat yang artinya : Tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan besok hari. (QS. 31:34)
3. 'Barangsiapa yang mengatakan padamu bahwa ia (Rasulullah) menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka pastilah ia berdusta.' Lalu 'Aisyah membacakan ayat yang artinya :  Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.(QS. 5:67)

Tetapi, katanya meneruskan, ia pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.   (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).  Sekarang, kita akan melanjutkan pembahasan dari bagian terakhir ayat 17/1 :
 Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha melihat : Innahuu Huassami'ul Basyiir, Bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa, senantiasa melihat, mendengar, memperhatikan dan menentukan setiap gerak tindak zahir bathin dari seluruh wujud disemesta raya. Semua itu senantiasa berjalan dengan cara yang wajar melalui garis kausalita.  Tidak satupun yang terlepas dari ketentuan Allah walaupun gerak hati dalam dada setiap diri. Ayat ini berhubungan erat pula dengan 3 ayat terakhir dari surah ke-2, yaitu ayat 284 hingga 286 yang menurut beberapa hadist diberikan   kepada Nabi Saw pada saat beliau menerima perintah shalat langsung dari Allah Swt.
 Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu  menyembunyikannya, Allah akan memeriksa kamu tentang perbuatanmu itu.Dia akan mengampuni siapa yang Ia kehendaki dan menyiksa siapa yang Ia kehendaki; Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan orang-orang yang beriman; tiap-tiap seorang daripada  mereka percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan  rasul-rasul-Nya. "Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari  rasul-rasulNya", dan mereka berkata:"Kami dengar dan kami ta'at,  Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan  kesanggupannya. Ia akan mendapat apa yang diusahakannya serta mendapat  apa yang dikerjakannya. "Hai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami  jika kami lupa atau kami keliru. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  pikulkan kepada kami yang tak sanggup kami mengerjakannya. Ampunilah  kami, lindungilah kami dan kasihanilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".  (QS. 2:284-286)

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon beri masukan yaaaa,,,,,