English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

Kamus Tasawuf

Diambil dari buku "KAMUS TASAWUF" Dr. M. Solihin, M.Ag. & Drs. Rosihon Anwar, M.Ag.

ABD AL-HADI : adalah putra Muhammad Aidrus Qa'im ad-Din. Ia lahir sebelum ayahnya diangkat menjadi Sultan Buton (1824-1851). Corak pemahaman dan pengamalan tasawufnya dapat dibaca dalam tulisan-tulisannya. Abd Hadi mempunyai pemikiran tentang pentingnya syari'at dalam bertasawuf. Jadi untuk sampai pada rahasia alam gaib, yang dapat dicapai melalui tarekat, kita harus berangkat dari syari'at. Dengan demikian, tanpa menjalani syari'at seseorang tidak dapat sampai pada tujuan bertasawuf.


ABD AL-RA'UF AL-SINKILI : Al-Sinkili adalah seorang ulama dan mufti besar Kerajaan Aceh pada abad ke-17. Nama lengkapnya adalah Syekh Abd al-Ra'uf bin Ali al-Fansuri. Ia sempat menerima ba'iat Tarekat Syathiriah disamping ilmu-ilmu sufi yang lain.
Menurut Hasyimi, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra, al-Sinkili berasal dari Persia yang datang ke Samudra Pasai pada akhir abad ke-13 dan kemudian menetap di Fansur, Barus sebuah kota pelabuhan tua di pantai barat Sumatra.
Berkenaan dengan perjalanan rohaninya, al-Sinkili telah boleh memakai "khirqah" yaitu sebvagai pertanda telah lulus dalam pengujian secara suluk. Ia telah diberi selendang berwarna putih oleh gurunya sebagai pertanda pula bahwa ia telah dilantik sebagai Khalifah Mursyid dalam Tarekat Syathariyah. Yang berarti pula ia boleh membai'at orang lain. Telah diakui bahwa ia mempunyai silsilah yang bersambung dari gurunya hingga kepada Nabi Muhammad SAW.
Tarekat Syathariyah sendiri mengalami pengembangan mulai dari Sumatera Barat menyusur Sumatera Selatan dan berkembang pula hingga ke Cirebon Jawa Barat.
Sebelum al-Sinkili membawa ajaran tasawufnya, di Aceh telah berkembang ajaran tasawuf falsafi, yaitu tasawuf wujudiyyah yang kemudian dikenal dengan nama Wahdat al-Wujud. Al-Sinkili berusaha merekonsiliasi antara tasawuf dan syariat. Ajaran tasawufnya menganut paham satu-satunya wujud hakiki, yakni Allah. Sedangkan alam ciptaan-Nya bukanlah wujud hakiki.
Dzikir, dalam pandangan al-Sinkili merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengannya hati selalu mengingat Allah, tujuan dzikir adalah mencapai fana' (tidak ada wujud selain wujud Allah), berarti wujud yang berdzikir bersatu dengan wujud-Nya, sehingga yang mengucapkan dzikir adalah Dia.
Ajaran tasawuf al-Sinkili yang lain bertalian dengan martabat perwujudan Tuhan. Menurutnya ada tiga martabat perwujudan Tuhan. Pertama, martabat ahadiyyah atau la ta'ayyun, yang mana alam pada waktu itu masih merupakan hakikat gaib yang masih berada di dalam ilmu Tuhan. Kedua, martabat wahdah atau ta'ayyun awwal, yang mana sudah tercipta haqiqah Muhammadiyyah yang potensial bagi terciptanya alam. Ketiga, martabat wahdiyyah atau ta'ayyuntsani, yang disebut juga dengan 'ayan tsabitah, dan dari sinilah alam tercipta. Menurutnya, ucapan "Aku Engkau, Kami Engkau, dan Engkau Ia" hanya benar pada tingkat wahdah atau ta'ayyun awwal karena unsur Tuhan dan unsur manusia pada tingkat itu belum dapat dibedakan. Tapi pada tingkatan wahidiyyah atau ta'ayyun tsani, alam sudah memiliki sifatnya sendiri, tetapi Tuhan adalah cermin bagi insan kamil dan sebaliknya. Bagi al-Sinkili, jalan untuk mengesankan Tuhan adalah dengan dzikir la ilaha illa'llah sampai tercipta fana'

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon beri masukan yaaaa,,,,,