English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

Mengapa Ada Banyak Agama Di DUNIA

Seorang manusia tidak bisa memilih, di negeri mana ia dilahirkan, dan siapa orang tuanya. Yang ia dapatkan hanyalah kenyataan, bahwa di negerinya, kebanyakan orang memeluk agama atau keyakinan (ideologi) tertentu, dan orang tuanyapun mendidiknya sejak kecil dengan suatu pandangan hidup tertentu. Namun hampir setiap manusia yang normal ternyata memiliki suatu naluri (instinkt), yakni suatu saat akan menanyakan, apakah keyakinan yang dianutnya saat itu benar atau salah. Dia akan mulai membandingkan  ajaran-ajaran agama atau ideologi yang dikenalnya. Bagaimanapun juga  keberhasilan pencariannya ini sangat bergantung dari informasi yang datang  ke padanya. Kalau informasi pengganggu (noise) yang datang kepadanya  terlalu kuat, misalnya adanya teror atau propaganda yang gencar dari  pihak-pihak tertentu, bisa jadi sebelum menemukan kebenaran itu, ia sudah  berhenti pada keyakinan tertentu yang dianggapnya enak (meski sebenarnya  sesat).

MEMBANDINGKAN SUMBER AJARAN TIAP AGAMA (Aspek theologis)
Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari  oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia  adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah  konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang  memiliki pengalaman yang mirip. Maka tak heran, bahwa untuk beberapa  pengertian yang sering kita dengar saja (seperti "demokrasi", "hak asasi  manusia", dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda)  dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda  pula pemahamannya.

Karena itu pulalah, ada ajaran yang cepat ditelan musim. Seseorang yang   memegang ajaran seperti ini, jelas suatu saat akan goyah. Sebagai contoh  adalah kaum komunis. Usia ajaran ini ternyata tidak bertahan lebih dari  satu abad. Demikian pula dengan ajaran banyak sekte keagamaan atau aliran kepercayaan. Untuk menghindari ajaran yang salah, manusia pertama-tama harus melihat sumber ajaran itu. Apakah ajaran itu bersumber dari dasar-dasar yang rapuh?

Dalam hal ini, agama-agama yang sudah cukup tua agak "mengundang" untuk  dipelajari, karena mereka menunjukkan sudah "tahan bantingan" untuk kurun  waktu yang sangat lama. Namun demikian tetap perlu dipertanyakan, akankah  ajaran-ajaran "kuno" ini mampu survive menghadapi zaman post moden dengan  kehebatan pemikirannya seperti dewasa ini?
Di zaman modern ini orang tidak bisa begitu saja "dikelabuhi". Kita tidak bisa begitu saja bilang: "Agama X ini benar, karena kitab sucinya bilang  begitu .... ". Dan: "Kitab ini benar, karena masih asli dari pembawanya. Dan kebenaran pembawa ajaran ini dijamin di kitab itu...". Logika "circular" (berputar-putar) ini tidak bisa memuaskan kehausan iman manusia modern. Suatu "teori kebenaran" hanya akan bertahan, kalau ia tidak  bisa difalsifikasi (tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah). Hal ini karena  suatu proses falsifikasi, cukup memerlukan satu bukti. Sedang suatu proses  pembenaran, memerlukan seluruh bukti, yang tentu saja sulit, karena kita  sering tidak tahu, berapa jumlah bukti yang dibutuhkan.
 Suatu ajaran bisa dianggap benar, bila ia:
     * stabil intern - ajarannya harmoni, tidak bertentangan satu dengan yang lain.
     * stabil extern - ajarannya tidak bisa disalahkan dengan bukti-bukti dari luar (misalnya dengan fakta-fakta ilmu alam).
 Dalam hal ini tentu saja kita harus bertolak dari ajaran yang murni (ajaran  Das Sollen), yakni yang ada di sumber-sumber ajaran itu sendiri (kitab-kita  suci), dan bukan ajaran yang sedang dipraktekkan oleh pemeluknya, yang  mungkin saja tidak mempraktekkan ajarannya dengan benar (ajaran Das Sein).

MEMBANDINGKAN ISI AJARAN TIAP AGAMA (Aspek ethis)
Selain mengkaji keabsahan sumber ajaran, suatu langkah pembandingan antar  ajaran adalah juga melihat seberapa jauh isi suatu ajaran mengcover  permasalahan kehidupan manusia. Apakah suatu ajaran hanya menekankan di  satu sisi saja (misalnya sisi duniawi saja, atau sisi rohani saja), ataukah  bersifat menyeluruh, baik duniawi maupun rohani?
Suatu agama yang tidak bersifat menyeluruh akan mengakibatkan dualisme  dalam pemikiran. Di satu sisi orang harus berfikir agamis, di sisi lain  orang harus memilih jalan pragmatis, yang tak jarang bertentangan dengan  fikiran agamis itu.

  Mungkinkah melegitimasi ajaran suatu agama dengan agama lainnya.
 Sering pemeluk suatu ajaran mencoba meligitimasi kebenaran ajarannya dengan  mengutip statement ajaran lain. Yang perlu ditinjau adalah, sejauh mana percobaan legitimasi ini dapat  dinalar dengan logika. Memang, tidak menutup kemungkinan, bahwa suatu hal  yang baru membenarkan teori lama yang sudah ada. Penerbangan ke bulan  menambah bukti kebenaran teori bahwa bumi itu bulat. Namun bila penganut  teori lama melegitimasi diri dengan bukti-bukti baru, sementara mereka  menganggap orang yang percaya pada bukti-bukti baru itu keliru, tentu ada  yang tidak logis di sini.
Bila ada ajaran A, B, dan C, yang timbulnya di dunia urut satu demi satu,  maka A hanya bisa membenarkan B, bila penganut A nantinya harus berganti  menjadi penganut B. Inilah yang terjadi dengan ajaran Muhammad, yang sudah diramalkan dalam Kitab Taurat dan Injil.
Hal yang sebaliknya, yaitu A membenarkan diri dengan B, namun tidak menjadi  penganut B, tentu akan janggal sekali. Karena itu, penganut agama sebelum  Islam, tidak layak membenarkan dirinya dengan menggunakan ajaran Islam,  bila mereka tidak lalu beralih menjadi muslim.  Namun ajaran yang lebih baru tidak tentu lebih benar. Karena itu, terhadap  ajaran C, bisa saja B membenarkan (dengan konsekuensi penganut B berubah  menjadi C dan meninggalkan B), atau menganggap C bagian dari B (jadi B dan  C sama-sama benar), atau C salah. Hal ini berlaku terhadap agama-agama yang  timbul setelah kenabian Muhammad. Ketika ajaran Qadiyan muncul, ada orang  Islam yang pindah menjadi Qadiyan (dan keluar dari Islam), ada yang  menganggap Qadiyan bagian dari Islam, ada pula yang menolaknya, karena  menganggap keliru.

MENGAPA ADA BANYAK AGAMA
Orang sering menganggap mudah fenomena ini dengan mengatakan: "Banyak jalan menuju Tuhan" atau "Sungai-sungai kelihatan berbeda kalau dilihat hulunya,  namun satu kalau dilihat muaranya". Pada prinsipnya mereka menganggap semua  agama baik dan benar, dan karena itu tidak perlu dipersoalkan.  Memang kita tidak akan debat kusir soal agama. Namun kita tentu akan menjaga, minimal keluarga kita, agar menganut ajaran yang benar.
"Banyak jalan menuju Tuhan". Koq tahu? Kalau dikatakan "Banyak jalan menuju  Roma" kita tentu bisa menerima, karena banyak informasi dari sana, dan  mungkin ada kawan kita sendiri yang pernah ke Roma dan pulang bercerita ke  kita. Namun kepada Tuhan? Orang-orang yang pergi menghadap Tuhan (artinya  mati), ternyata tidak pernah kembali lagi. Orang yang menghadap Tuhan dan  kembali lagi ya para nabi itu. Lagi pula toh tidak semua jalan itu lempang  dan lurus. Kalau ada banyak jalan menuju Tuhan, kenapa kita tidak memilih  jalan yang lurus, jelas dan tidak penuh duri-duri penyesat?

Demikian juga, memang agama-agama di dunia ini bisa diibaratkan dengan  sungai-sungai. Namun ternyata ada sungai yang tidak bermuara di laut, namun  di danau garam (sungai Jordan misalnya). Atau sungai-sungai itu tercemar di  perjalanan, dipakai untuk irigasi dsb, sehingga tidak pernah mencapai laut.  Ajaran-ajaran yang benar dari Tuhan memang merupakan sungai-sungai yang  mengalir ke muara yang sama. Namun ajaran-ajaran yang sesat, yang  dibuat-buat manusia, tidak akan mencapai Tuhan, karena yang dituju memang  bukan Tuhan. Di zaman modern ini banyak "agama kontemporer" semacam ini.  Ada yang memuja Mao Tse Tung, Lenin ataupun (John) Lennon. Bukankah  kapitalisme, komunisme maupun kult musik tertentu sering disebut sebagai  agama abad-20?

EVOLUSI ISLAM
Sementara itu, beberapa ajaran agama yang klasik (seperti Hindu, Budha, Yahudi, Nasrani dll) bisa jadi memang berasal dari seorang utusan Tuhan di  zaman dulu. Kondisi dan situasi yang berbeda saat ajaran itu diturunkan,  membuat ajaran yang diperlukan juga berbeda. Sedang kebudayaan manusia  mengalami perkembangan (evolusi).
 Akhirnya evolusi itu sampai pada satu titik, di mana suatu ajaran yang  bersifat universal (sesuai untuk seluruh manusia) dan komprehensif (sesuai  untuk seluruh masa) tiba saatnya. Ibarat sungai, ajaran berbagai agama yang  ada di dunia ini laksana anak-anak sungai yang mengalir ke sebuah sungai  yang besar.

Agama-agama selain Islam sesungguhnya hanya diperuntukkan untuk suatu kaum  tertentu, di daerah tertentu dan pada masa tertentu. Hal ini disebutkan  oleh kitab-kitab mereka, yang merupakan tanda-tanda dari Tuhan yang sampai  pada saat ini - di luar soal bahwa banyak kitab-kitab itu kini tidak lagi  teruji autentitasnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon beri masukan yaaaa,,,,,