English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

Keaslian dan Kebenaran

Keaslian tidak selalu Kebenaran. Dan Kebenaran tidak selalu memerlukan  bukti sejarah yang asli. Hampir setiap orang Indonesia pasti mengenal lagu  Indonesia Raya. Tapi masih adakah naskah asli Indonesia Raya yang digubah  W.R. Supratman itu?   Naskah asli itu ternyata tidak terlalu penting, bila lagu tersebut tidak  pernah dilupakan, karena dilagukan atau didengar oleh jutaan orang  Indonesia, hampir setiap hari. Demikian juga yang terjadi dengan Al-Qur'an.  Sebenarnya tidak penting, apakah naskah Al-Qur'an yang asli ditulis ketika  Nabi masih hidup itu masih ada atau tidak. (Naskah yang ada hingga saat ini  adalah naskah yang ditulis pada zaman Abu Bakar). Al-Qur'an dihafalkan,  dibaca dalam shalat, dan didengarkan di mana-mana oleh ratusan juta ummat  Islam di dunia setiap hari. Kalau ada yang mencoba merangkai kata-kata baru  di dalam Al-Qur'an, pasti akan ketahuan, seperti kita juga pasti akan tahu, bila ada selipan kata-kata baru dalam lagu Indonesia Raya. 

MENCAPAI KEIMANAN DENGAN LOGIKA
Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh  kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada  Islam (tauhid) bisa diharapkan, seperti halnya seorang fisikawan yang telah  yakin akan keakuratan instrumennya, sehingga ia pun segera berbuat sesuatu,  begitu instrumen itu mengabarkan existensi radiasi atom yang tidak pernah  bisa dideteksi oleh indera fisikawan itu sendiri.

FITRAH MANUSIA
Sejak adanya manusia, manusia memiliki berbagai ciri-ciri (fitrah) yang  membedakannya dari mahluk lain. Manusia memiliki intuisi untuk memilih dan  tidak mau menyerah pada hukum-hukum alam begitu saja. Manusia bisa  mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan nalurinya, misal makan meski  sudah kenyang (karena menghormati tuan rumah), atau tidak melawan meski  disakiti (karena menjaga perasaan orang). Hal ini tidak ada pada binatang.  Seekor kucing yang sudah kenyang tak mau lagi mencicipi makanan yang enak  sekalipun.  Manusia memiliki kemampuan mewariskan kepada manusia lain (atau  keturunannya) hal-hal baru yang telah dipelajarinya. Inilah asal peradaban  manusia. Hal ini tidak terdapat pada binatang. Seekor kera yang terlatih  main musik dalam circus tidak akan mampu melatih kera lainnya. Seekor kera  hanya bisa melatih seekor anak kera pada hal-hal yang memang nalurinya  (memanjat, mencari buah).  Kesamaan manusia dengan binatang hanya pada kebutuhan eksistensialnya (makan, minum, istirahat dan melanjutkan keturunan).

MANUSIA MENCARI HAKEKAT HIDUPNYA
Manusia yang telah terpenuhi kebutuhan eksistensialnya akan mulai   mempertanyakan, untuk apa sebenarnya hidup itu. Hal ini karena manusia  memiliki kebebasan memilih, mau hidup atau mati. Karena faktor non  naluriahnya, manusia bisa putus asa dan bunuh diri, sementara tidak ada  binatang yang bunuh diri kecuali hal itu dilakukannya dalam rangka  mempertahankan eksistensinya juga (pada lebah misalnya).  Pertanyaan tentang hakekat hidup ini yang memberi warna pada kehidupan manusia, yang tercermin dalam kebudayaan, yang digunakannya untuk mencapai  kepuasan ruhaninya.

MANUSIA MEMBUTUHKAN TUHAN
Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak  di tengah samudra, sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan),  fitrah manusia akan menyuruh untuk mengharapkan suatu keajaiban.  Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit,  sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan  petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan  seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia  cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.  Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari "sesembahan".  Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah  jimat pusaka. Pada kasus kedua, "sesembahan" itu bisa berupa raja  (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.

 TANDA-TANDA EKSISTENSI TUHAN
Di luar masalah di atas, perhatian manusia terhadap alam sekitarnya  membuatnya bertanya, "Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana  jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat  semilyar atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum-hukum  alam bisa seteratur ini".
Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka  cepat lari pada "sesembahan" mereka setiap ada fenomena yang tak bisa  mereka mengerti (misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan  alam kemudian mampu mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan jawaban, mengapa semua bisa terjadi.
Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak mampu mendapatkan jawaban  itu pada alam, karena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh  yang jelas ada pada peristiwa kematian. Meski beberapa saat setelah  kematian, materi pada jasad tersebut praktis belum berubah, tapi  keteraturan yang membuat jasad tersebut bertahan, telah punah, sehingga  jasad itu mulai membusuk.

Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu  "sesembahan" (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka  seiring dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa  pasti ada "sesuatu" yang di belakang itu semua, "sesuatu" yang di belakang  dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, "sesuatu" yang di belakang semua  hukum alam.
"Sesuatu" itu, bila memiliki sifat-sifat ini:
  1. Maha Kuasa   2. Tidak tergantung pada yang lain   3. Tak dibatasi ruang dan waktu   4. Memiliki keinginan yang absolut
maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin zat tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat  akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain.

 TUHAN BERKOMUNIKASI VIA UTUSAN
Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manusia hanya  memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga  terhingga. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia  hanya memiliki kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan  adalah tak terhingga (infinity). Karena itu, manusia hanya mungkin  memikirkan sedikit dari "jejak-jejak" eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah  percuma, memikirkan sesuatu yang di luar "perspektif" kita.  Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau "memperkenalkan"  diri-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan  benar. Ada manusia yang "disapa" Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada  juga yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena  kebanyakan manusia memang tidak siap untuk "disapa" oleh Tuhan.

 UTUSAN TUHAN DIBEKALI TANDA-TANDA
Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda  yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa  tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal  yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam  semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji,  apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa  mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat  seorang ahli listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji  avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar  pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur  yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang  fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin  melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus  menerima apa adanya, bila instrumen tersebut mengabarkan jumlah radiasi  yang melebihi batas, sehingga misalnya reaktor nuklirnya harus segera  dimatikan dulu.  Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya  galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya  adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam  bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke  zaman purba.
 Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut "iman". Sebenarnya tak ada  bedanya, antara "iman" pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan  "iman"-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena  bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak  bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda  yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.

MENGUJI AUTENTITAS TANDA-TANDA DARI TUHAN
Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan  absolut, yang hanya dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan  sendiri). Sesuai dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh  peradaban yang ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu  sebagai keahliannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!
 Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang  diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia  tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.  Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa  disembuhkan, meski masyarakatnya merupakan yang termaju dalam ilmu  pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena  kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib.
 Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah  Al-Quran. Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesusasteraan Arab, tempat  para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan meski pada saat itu semua  orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua  puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Muhammad hanya mengatakan, ayat itu  bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.  Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pesat,  terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang  saling bertentangan satu sama lain. Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang  tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.
Di sisi lain, fenomena pembawa ajaran itu juga menunjukkan sisi  autentitasnya. Meski mereka:
*     orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, juga tidak join dengan penguasa atau yang bisa menjamin kesuksesannya;
*     menyebarkan ajaran yang melawan arus, bertentangan dengan tradisi yang lazim di masyarakatnya;
mereka berhasil dengan ajarannya, dan keberhasilan ini sudah diramalkan  lebih dulu pula, dan semua itu dikatakannya karena Tuhanlah yang  menolongnya.

 KONSEKWENSI SETELAH MEYAKINI AUTENTITAS TANDA-TANDA KENABIAN MUHAMMAD
Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan  menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa  itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang  disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang teruji  autentis berasal dari Muhammad.  Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari  Allah, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu  bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman. 

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon beri masukan yaaaa,,,,,