English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebuah Perjalanan

↑ Grab this Headline Animator





Promote Your Blog

SEJARAH PEMBENTUKAN MUSHAF AL-QUR'AN

MENURUT AHLI SEJARAH NON-MUSLIM
dikutip dari SEJARAH HIDUP MUHAMMAD oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

PENDAPAT MUIR
Sebenarnya apa yang diterangkan kaum  Orientalis  dalam  hal ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh  Sir William Muir dalam The Life of  Mohammad  supaya  mereka   yang  sangat  berlebih-lebihan  dalam  memandang sejarah dan dalam memandang diri mereka yang  biasanya  menerima  begitu   saja   apa   yang  dikatakan  orang  tentang  pemalsuan  dan   perubahan Qur'an itu, dapat  melihat  sendiri.  Muir  adalah seorang  penganut Kristen yang teguh dan yang juga berdakwah   untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan  setiap   kesempatan  melakukan  kritik  terhadap Nabi dan Qur'an, dan   berusaha memperkuat kritiknya.

Ketika bicara tentang  Qur'an  dan  akurasinya  yang  sampai   kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:
 "Wahyu  Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca beberapa   ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang  bersifat  umum  atau  khusus. Melakukan pembacaan ini adalah   wajib dan sunah, yang dalam arti agama adalah perbuatan baik   yang  akan  mendapat  pahala  bagi yang melakukannya. Inilah   sunah pertama yang sudah merupakan konsensus. Dan  itu  pula   yang  telah  diberitakan  oleh  wahyu.  Oleh karena itu yang   hafal Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu  banyak   sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka   pada awal masa kekuasaan Islam itu ada  yang  dapat  membaca   sampai  pada  ciri-cirinya  yang  khas.  Tradisi  Arab telah   membantu pula mempermudah pekerjaan  ini.  Kecintaan  mereka   luar  biasa  besarnya. Oleh karena untuk memburu segala yang   datang  dari  para  penyairnya  tidak  mudah  dicapai,  maka   seperti  dalam  mencatat  segala  sesuatu  yang  berhubungan   dengan nasab keturunan  dan  kabilah-kabilah  mereka,  sudah   biasa  pula  mereka  mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran   hati mereka sendiri. Oleh karena  itu  daya  ingat  (memori)   mereka  tumbuh  dengan  subur. Kemudian pada masa itu mereka   menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup.   Begitu  kuatnya  daya  ingat  sahabat-sahabat Nabi, disertai   pula  dengan  kemauan  yang  luar  biasa  hendak  nnenghafal   Qur'an,  sehingga  mereka,  bersama-sama  dengan  Nabi dapat   mengulang kembali dengan ketelitian yang  meyakinkan  sekali   segala  yang  diketahui  dari  pada  Nabi  sampai pada waktu mereka membacanya itu."

"Sungguhpun dengan tenaga yang sudah menjadi ciri khas  daya   ingatnya   itu,  kita  juga  bebas  untuk  tidak  melepaskan   kepercayaan kita  bahwa  kumpulan  itu  adalah  satu-satunya   sumber. Tetapi ada alasan kita yang akan membuat kita yakin,   bahwa sahabat-sahabat Nabi  menulis  beberapa  macam  naskah   selama  masa  hidupnya  dari  berbagai  macam  bagian  dalam Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an   itu  ditulis.  Pada  umumnya  tulis-menulis  di  Mekah sudah   dikenal orang jauh sebelum masa  kerasulan  Muhammad.  Tidak   hanya  seorang  saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan   kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan  perang  Badr  yang   dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang   jauh sebelum masa kerasulan Muhammad.  Tidak  hanya  seorang   saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan   surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat  mengajarkan   tulis-menulis   kepada   kaum  Anshar  di  Medinah,  sebagai   imbalannya  mereka  dibebaskan. Meskipun  penduduk  Medinah   dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak   juga  di  antara  mereka  yang  pandai  tulis-menulis  sejak   sebelum  Islam.  Dengan adanya kepandaian menulis ini, mudah   saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa  ayat-ayat   yang  dihafal  menurut  ingatan  yang sangat teliti itu, itu   juga yang dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."

"Kemudian kitapun mengetahui, bahwa Muhammad telah  mengutus   seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah   menganut Islam,  supaya  mengajarkan  Qur'an  dan  mendalami   agama.  Sering  pula  kita  membaca, bahwa ada utusan-utusan   yang    pergi    membawa    perintah    tertulis    mengenai   masalah-masalah  agama  itu.  Sudah tentu mereka membawa apa   yang  diturunkan  oleh  wahyu,  khususnya  yang berhubungan dengan  upacara-upacara  dan peraturan-peraturan Islam serta   apa yang harus dibaca selama melakukan ibadat."



PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN NABI
"Qur'an  sendiripun  menentukan  adanya  itu  dalam   bentuk   tulisan.  Begitu  juga  buku-buku  sejarah  sudah menentukan   demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya Umar,  tentang   adanya   sebuah   naskah  Surat  ke-20  [Surah  Taha]  milik   saudaranya yang perempuan dan keluarganya. Umar masuk  Islam   tiga  atau  empat  tahun  sebelum Hijrah.  Kalau  pada masa   permulaan Islam wahyu itu ditulis dan saling  dipertukarkan,   tatkala  jumlah  kaum  Muslimin  masih sedikit dan mengalami   pelbagai macam siksaan, maka sudah dapat dipastikan  sekali,   bahwa  naskah-naskah tertulis itu sudah banyak jumlahnya dan   sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai puncak   kekuasaannya  dan  kitab  itu  sudah  menjadi  undang-undang   seluruh bangsa Arab."

BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA NABI
"Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan  demikian   juga  halnya  kemudian  sesudah  Nabi wafat; tetap tercantum   dalam kalbu kaum  mukmin.  Berbagai  macam  bagiannya  sudah tercatat  belaka dalam naskah-naskah yang makin hari makin   bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu  sudah  seharusnya   benar-benar  cocok.  Pada  waktu itu pun Qur'an sudah sangat   dilindungi sekali, meskipun  pada  masa  Nabi  masih  hidup,   dengan  keyakinan  yang  luarbiasa  bahwa  itu  adalah kalam   Allah. Oleh karena  itu  setiap  ada  perselisihan  mengenai   isinya,  untuk  menghindarkan  adanya  perselisihan demikian   itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam  hal  ini  ada   beberapa  contoh  pada  kita:  'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin   Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi  wafat,  bila   ada  perselisihan,  selalu  kembali  kepada  teks yang sudah   tertulis dan  kepada  ingatan  sahabat-sahabat  Nabi   yang   terdekat serta penulis-penulis wahyu."

PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH PERTAMA
"Sesudah  selesai  menghadapi  peristiwa  Musailima dalam   perang Ridda penyembelihan Yamama telah  menyebabkan  kaum   Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka   yang telah menghafal Qur'an dengan  baik.  Ketika  itu  Umar   merasa  kuatir  akan  nasib  Qur'an dan teksnya itu; mungkin  nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka  yang   telah  menyimpannya  dalam  ingatan itu, mengalami suatu hal   lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah  Abu  Bakr  dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan   terhadap mereka yang sudah hafal  Qur'an  itu  akan  terjadi  lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak  lagi dari mereka  yang  akan  hilang.  Menurut  hemat  saya,  cepat-cepatlah kita    bertindak dengan   memerintahkan   pengumpulan Qur'an."
"Abu Bakar segera  menyetujui  pendapat  itu.  Dengan  maksud   tersebut  ia  berkata  kepada Zaid bin Thabit, salah seorang   Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang  cerdas  dan   saya  tidak  meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada   Rasulullah  s.a.w.  dan  kau  mengikuti  Qur'an  itu;   maka   sekarang kumpulkanlah.''
"Oleh  karena  pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar   dugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali.  Ia  masih  meragukan   gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain   melakukannya. Akan tetapi akhirnya  ia  mengalah  juga  pada   kehendak  Abu  Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai   berusaha  sungguh-sungguh  mengumpulkan   surah-surah dan bagian-bagiannya  dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia  mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas  batu   putih,   dan   yang  dihafal  orang.  Setengahnya  ada  yang   menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya  dari  yang  ada   pada  lembaran-lembaran,  tulang-tulang  bahu dan rusuk unta   dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."

"Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun  terus-menerus,   mengumpulkan   semua   bahan-bahan  serta  menyusun  kembali   seperti yang ada sekarang ini, atau seperti  yang  dilakukan  Zaid  sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian   orang mengatakan. Sesudah  naskah  pertama  lengkap  adanya,   oleh  Umar  itu  dipercayakan  penyimpanannya kepada Hafsha,   puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang  sudah  dihimpun  oleh   Zaid  ini  tetap  berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks   yang otentik dan sah.
"Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca,   yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau   karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah  itu   yang  disalin  dari  naskah  Zaid.  Dunia Islam cemas sekali   melihat hal ini. Wahyu  yang  didatangkan  dari  langit  itu   "satu,"  lalu  dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang   pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan,  juga  melihat adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak."

MUSHAF USMAN
"Karena  banyaknya  dan  jauhnya  perbedaan  itu,  ia merasa  gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman  turun   tangan.  "Supaya  jangan  ada  lagi orang berselisih tentang   kitab  mereka  sendiri  seperti   orang-orang   Yahudi   dan   Nasrani."   Khalifahpun  dapat  menerima  saran  itu.  Untuk   menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin  Thabit  dimintai   bantuannya  dengan  diperkuat  oleh tiga orang dari Quraisy.   Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha  lalu  dibawa,  dan   cara  membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran   Islam itupun dikemukakan, lalu  semuanya  diperiksa  kembali   dengan  pengamatan  yang  luarbiasa,  untuk  kali  terakhir.   Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya  dari   Quraisy  itu,  ia  lebih condong pada suara mereka mengingat   turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan   wahyu   itu   diturunkan   dengan  tujuh  dialek  Arab  yang   bermacam-macam."
"Selesai dihimpun, naskah-naskah  menurut  Qur'an  ini  lalu   dikirimkan  ke seluruh kota persekemakmuran. Yang selebihnya   naskah-naskah itu dikumpulkan lagi  atas  perintah  Khalifah   lalu dibakar. Sedang naskah yang pertama dikembalikan kepada   Hafsha."
 PERSATUAN ISLAM ZAMAN USMAN
"Maka yang sampai kepada kita adalah Mushhaf  Usman.  Begitu   cermat  pemeliharaan  atas Qur'an itu, sehingga hampir tidak   kita dapati -bahkan  memang  tidak  kita  dapati-  perbedaan   apapun dari naskah-naskah yang tak terbilang banyaknya, yang   tersebar ke seluruh  penjuru  dunia  Islam  yang  luas  itu.   Sekalipun akibat terbunuhnya Usman sendiri - seperempat abad   kemudian sesudah Muhammad wafat - telah  menimbulkan  adanya   kelompok-kelompok  yang marah dan memberontak sehingga dapat   menggoncangkan kesatuan dunia Islam -  dan  memang  demikian adanya  - namun Qur'an yang satu, itu juga yang selalu tetap   menjadi Qur'an bagi semuanya. Demikianlah, Islam yang  hanya   mengenal satu kitab itu ialah bukti yang nyata sekali, bahwa   apa yang ada di depan kita sekarang ini  tidak  lain  adalah   teks  yang  telah  dihimpun  atas perintah Usman yang malang itu.
Agaknya di seluruh dunia ini tak ada sebuah kitabpun selain   Qur'an  yang  sampai empatbelas  abad  lamanya  tetap lengkap   dengan teks yang begitu murni  dan  cermatnya.  Adanya  cara   membaca  yang  berbeda-beda  itu sedikit sekali untuk sampai   menimbulkan keheranan. Perbedaan ini kebanyakannya  terbatas   hanya  pada  cara  mengucapkan  huruf  hidup  saja atau pada   tempat-tempat tanda berhenti, yang sebenarnya  timbul  hanya   belakangan  saja  dalam  sejarah,  yang  tak ada hubungannya   dengan Mushhaf Usman."

"Sekarang, sesudah ternyata  bahwa  Qur'an  yang  kita  baca   ialah  teks  Mushhaf  Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah kita  bahas  lagi:  Adakah  teks  ini  yang  memang   persis bentuknya  seperti  yang  dihimpun  oleh Zaid sesudah adanya   persetujuan menghilangkan segi perbedaan dalam cara  membaca   yang  hanya  sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula penting   itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali,   bahwa  memang  demikian.Tidak ada dalam berita-berita lama atau yang patut dipercaya  yang  melemparkan kesangsian   terhadap  Usman  sedikitpun,  bahwa  dia  bermaksud mengubah  Qur'an guna memperkuat tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah   kemudian  menuduh  bahwa  dia mengabaikan beberapa ayat yang   mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat  diterima   akal.  Ketika  Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan   pihak Alawi  (golongan  Mu'awiya  dan  golongan  Ali)  belum   terjadi  sesuatu  perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam   masa  itu   benar-benar   kuat   tanpa   ada   bahaya   yang   mengancamnya.  Di  samping  itu  juga  Ali  belum melukiskan   tuntutannya dalam bentuknya yang lengkap.  Jadi  tak  adalah   maksud-maksud   tertentu  yang  akan  membuat  Usman  sampai   melakukan pelanggaran yang akan  sangat  dibenci  oleh  kaum   Muslimin  itu.  Orang-orang  yang  memahami  dan hafal benar   Qur'an  seperti  yang  mereka  dengar  sendiri  waktu   Nabi   membacanya  mereka  masih  hidup  tatkala Usman mengumpulkan   Mushhaf itu. Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan  Ali  itu   sudah   ada,   tentu   terdapat   juga   teksnya  di  tangan   pengikut-pengikutnya yang banyak itu. Dua  alasan  ini  saja   sudah  cukup untuk menghapus setiap usaha guna menghilangkan  ayat-ayat  itu.  Lagi  pula,  pengikut-pengikut  Ali   sudah   berdiri  sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka mengangkat   Ali sebagai Pengganti."

Dapatkah diterima akal - pada waktu kemudian  mereka  sudah   memegang kekuasaan - bahwa mereka akan sudi menerima Qur 'an   yang sudah terpotong-potong, dan  terpotong  yang  disengaja   pula untuk menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun   begitu mereka tetap membaca Qur'an  yang  juga  dibaca  oleh   lawan-lawan mereka. Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka   akan menentangnya. Bahkan Ali sendiripun telah memerintahkan   supaya  menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya. Malah ada   diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya   dengan tangannya sendiri."
"Memang  benar  bahwa  para  pemberontak  itu  telah membuat   pangkal pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan   Qur'an  lalu  memerintahkan  supaya semua naskah dimusnahkan   selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada   langkah-langkah  Usman  dalam  hal  itu  saja,  yang menurut   anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di  balik  itu   tidak  seorangpun yang menunjukkan adanya usaha mau mengubah   atau menukar isi Qur'an. Tuduhan  demikian  pada  waktu  itu   adalah suatu usaha perusakan terang-terangan. Hanya kemudian   golongan Syi'ah saja yang mengatakan itu  untuk  kepentingan   mereka sendiri."

"Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan dengan meyakinkan,   bahwa Mushhaf Usman itu tetap dalam  bentuknya  yang  persis   seperti  yang  dihimpun  oleh  Zaid bin Thabit, dengan lebih   disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu  dengan   dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan jauh-jauh bacaan-bacaan   selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar  di  seluruh   daerah itu."
 MUSHAF USMAN CERMAT DAN LENGKAP
"Tetapi  sungguhpun begitu masih ada suatu soal penting lain   yang  terpampang  di  depan   kita,   yakni:   adakah   yang   dikumpulkan  oleh  Zaid itu merupakan bentuk yang sebenarnya   dan  lengkap  seperti  yang  diwahyukan   kepada   Muhammad?   Pertimbangan-pertimbangan  di  bawah  ini  cukup  memberikan   keyakinan, bahwa itu adalah susunan  sebenarnya  yang  telah   selengkapnya dicapai waktu itu:"

"Pertama  -  Pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan   Abu Bakr. Sedang Abu Bakr seorang  sahabat  yang  jujur  dan   setia kepada Muhammad. Juga dia adalah orang yang sepenuhnya   beriman pada kesucian sumber Qur'an, orang yang  hubungannya   begitu  erat  sekali dengan Nabi selama waktu duapuluh tahun   terakhir dalam hayatnya, serta  kelakuannya  dalam  khilafat   dengan cara yang begitu sederhana, bijaksana dan bersih dari   gejala ambisi, sehingga baginya  memang  tak  adalah  tempat   buat  mencari  kepentingan lain. Ia beriman sekali bahwa apa   yang diwahyukan kepada kawannya itu adalah wahyu dari Allah,   sehingga  tujuan utamanya ialah memelihara pengumpulan wahyu   itu semua dalam keadaan murni sepenuhnya."  Pernyataan semacam ini berlaku juga terhadap Umar yang sudah   menyelesaikan   pengumpulan   itu   pada  masa  khilafatnya.   Pernyataan semacam ini juga yang berlaku terhadap semua kaum   Muslimin  waktu  itu,  tak ada perbedaan antara para penulis   yang membantu  melakukan  pengumpulan  itu,  dengan  seorang   mu'min  biasa  yang  miskin, yang memiliki wahyu tertulis di   atas tulang-tulang atau daun-daunan, lalu  membawanya  semua   kepada    Zaid.    Semangat   mereka   semua   sama,   ingin   memperlihatkan kalimat-kalimat dan  kata-kata  seperti  yang   dibacakan  oleh  Nabi,  bahwa itu adalah risalah dari Tuhan.   Keinginan  mereka  hendak  memelihara  kemurnian  itu  sudah   menjadi  perasaan  semua  orang,  sebab tak ada sesuatu yang   lebih dalam tertanam dalam jiwa mereka  seperti  rasa  kudus   yang  agung  itu,  yang  sudah  mereka  percayai  sepenuhnya   sebagai    firman    Allah.    Dalam     Qur'an     terdapat   peringatan-peringatan   bagi   barangsiapa  yang  mengadakan   kebohongan  atas  Allah  atau  menyembunyikan  sesuatu  dari   wahyuNya.  Kita  tidak  akan dapat menerima, bahwa pada kaum   Muslimin yang  mula-mula  dengan  semangat  mereka  terhadap   agama  yang  begitu  rupa mereka sucikan itu, akan terlintas   pikiran yang akan membawa akibat  begitu  jauh  membelakangi   iman."

"Kedua  -  Pengumpulan tersebut selesai selama dua atau tiga   tahun sesudah Muhammad wafat. Kita  sudah  melihat  beberapa   orang  pengikutnya,  yang  sudah  hafal  wahyu  itu  di luar   kepala, dan setiap Muslim sudah hafal sebagian,  juga  sudah   ada   serombongan   ahli-ahli   Qur'an  yang  ditunjuk  oleh   pemerintah dan dikirim ke segenap penjuru daerah Islam  guna   melaksanakan  upacara-upacara dan mengajar orang memperdalam   agama. Dari mereka semua itu terjalinlah suatu  mata  rantai   penghubung  antara wahyu yang dibaca Muhammad pada waktu itu   dengan yang dikumpulkan oleh Zaid. Kaum Muslimin bukan  saja   bermaksud jujur dalam mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushhaf   itu,  tapi  juga  mempunyai  segala  fasilitas  yang   dapat   menjamin    terlaksananya    maksud    tersebut,    menjamin   terlaksananya segala yang sudah terkumpul dalam  kitab  itu,   yang ada di tangan mereka sesudah dengan teliti dan sempurna   dikumpulkan."

"Ketiga - Juga  kita  mempunyai  jaminan  yang  lebih  dapat   dipercaya  tentang  ketelitian dan kelengkapannya itu, yakni   bagian-bagian Qur'an yang tertulis,  yang  sudah  ada  sejak  masa  Muhammad  masih  hidup,  dan  yang  sudah tentu jumlah   naskahnyapun sudah banyak sebelum  pengumpulan  Qur'an  itu.   Naskah-naskah  demikian  ini  kebanyakan sudah ada di tangan   mereka semua yang dapat membaca. Kita mengetahui, bahwa  apa   yang  dikumpulkan Zaid itu sudah beredar di tangan orang dan   langsung dibaca sesudah pengumpulannya.  Maka  logis  sekali   kita mengambil kesimpulan, bahwa semua yang terkandung dalam   bagian-bagian itu, sudah tercakup belaka.  Oleh  karena  itu   keputusan mereka semua sudah tepat pada tempatnya. Tidak ada   suatu sumber yang sampai kepada kita yang menyebutkan, bahwa   para  penghimpun  itu  telah melalaikan sesuatu bagian, atau   sesuatu ayat, atau kata-kata, ataupun apa yang  terdapat  di   dalamnya  itu,  berbeda  dengan  yang ada dalam Mushhaf yang   sudah dikumpulkan itu. Kalau yang demikian ini  memang  ada,   maka tidak bisa tidak tentu terlihat juga, dan tentu dicatat   pula dalam dokumen-dokumen lama yang sangat cermat itu;  tak   ada sesuatu yang diabaikan sekalipun yang kurang penting."

"Keempat Isi  dan  susunan  Qur'an itu  jelas sekali menunjukkan cermatnya pengumpulan.   Bagian-bagian   yang   bermacam-macarn  disusun  satu  sama  lain  secara sederhana   tanpa dipaksa-paksa atau dibuat-buat."   "Tak ada bekas tangan yang mencoba  mau  mengubah  atau  mau   memperlihatkan  keahliannya  sendiri. Itu menunjukkan adanya   iman dan kejujuran sipenghimpun dalam  menjalankan  tugasnya   itu. Ia tidak berani lebih daripada mengambil ayat-ayat suci   itu seperti apa adanya,  lalu  meletakkannya  yang  satu  di   samping yang lain."

"Jadi  kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan meyakinkan   sekali ialah, bahwa Mushhaf Zaid dan Usman itu  bukan  hanya   hasil  ketelitian  saja,  bahkan - seperti beberapa kejadian   menunjukkan - adalah juga lengkap, dan  bahwa  penghimpunnya  tidak bermaksud mengabaikan apapun dari wahyu itu. Juga kita   dapat meyakinkan, berdasarkan bukti-bukti yang  kuat,  bahwa   setiap  ayat  dari  Qur'an  itu, memang sangat teliti sekali   dicocokkan seperti yang dibaca oleh Muhammad."
Panjang juga kita mengutip kalimat-kalimat Sir William  Muir   seperti  yang  disebutkan  dalam  kata pengantar The Life of   Mohammad (p.xiv-xxix) itu. Dengan apa yang sudah kita  kutip   itu  tidak  perlu  lagi  rasanya  kita  menyebutkan  tulisan   Lammens atau  Von  Hammer  dan  Orientalis  lain  yang  sama sependapat. Secara positif   mereka memastikan  tentang   persisnya Qur'an yang kita baca sekarang,  serta  menegaskan   bahwa  semua  yang  dibaca  oleh  Muhammad adalah wahyu yang   benar  dan  sempurna  diterima  dari  Tuhan.  Kalaupun   ada   sebagian   kecil   kaum   Orientalis  berpendapat  lain  dan   beranggapan bahwa Qur'an sudah mengalami  perubahan,  dengan   tidak menghiraukan alasan-alasan logis yang dikemukakan Muir  dan sebagian besar  Orientalis,  yang  telah  mengutip  dari   sejarah  Islam  dan  dari  sarjana-sarjana  Islam,  maka itu   adalah suatu dakwaan yang hanya didorong  oleh  rasa  dengki   saja terhadap Islam dan terhadap Nabi.

Betapapun   pandainya   tukang-tukang   tuduh  itu  menyusun   tuduhannya,  namun  mereka  tidak  dapat  meniadakan   hasil   penyelidikan  ilmiah  yang  murni. Dengan caranya itu mereka   takkan dapat menipu kaum Muslimin, kecuali  beberapa  pemuda   yang  masih  beranggapan  bahwa  penyelidikan yang bebas itu   mengharuskan mereka mengingkari masa lampau mereka  sendiri,   memalingkan  muka  dari kebenaran karena sudah terbujuk oleh   kepalsuan yang indah-indah. Mereka percaya kepada semua yang   mengecam   masa   lampau  sekalipun  pengecamnya  itu  tidak   mempunyai dasar kebenaran ilmiah dan sejarah.
Dalam Surah Yunus ayat 90-92, Al-Qur'an menyatakan bahwa pada suatumasa nanti bangkai Fir'aun yang tenggelam sewaktu mengejar Nabi Musa as akan dikembalikan kepada manusia (dapat disaksikan dengan mata kepala) untuk menjadi bukti akan kebenaran dan kebesaran ayat-ayat Allah itu. "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. 10:90-92)

Perlu diketahui, bahwa ayat ini turun setelah 21 abad masa Fir'aun. Orang sudah tidak tahu lagi dimana batang tubuh Fir'aun. Tetapi sungguh menakjubkan, bahwa setelah terpendam selama lebih kurang 40 abad, yaitu tepatnya tanggal 6 Juli 1879 para ilmuwan Archeologi telah berhasil menemukan batang tubuh Fir'aun, dan hal ini sekaligus menemukan bukti akan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Allah, bukan ciptaan Nabi Muhammad Saw !
 Berikut akan saya kutipkan tulisan Yoesof Sou'yb dalam majalah 'Harmonis' tentang kesesuaian antara Surah Yunus 90-92 dengan kenyataan sejarah yang menggemparkan itu.
Wahyu Ilahi yang diturunkan pada abda ke-7 Masehi itu menegaskan bahwa badan Pharaoh/Fir'aun yang telah menjadi korban, akan diselamatkan sebagai pertanda bagi orang belakangan. Dalam ayat asli berbunyi : 'nunajji-ka bi badani-ka'. Sedangkan The Holy Bible tidak bercerita bahwa badan Fir'aun/Pharaoh itu diselamatkan untuk pertanda bagi orang belakangan, pada Exodus 14:29-30 hanya diceritakan mengenai sbb :  'Tetapi segala Bani Israel itu telah berjalan diatas kekeringan tanah ditengah-tengah laut, maka karir nya menjadi dewala (dinding tembok) bagi mereka pada sebelah kanan-kirinya, demikianlah dilepaskan Tuhan segala orang Israel pada hari itu juga dari tangan orang Mesir, maka dilihat orang Israel segala orang Mesir itu mati terhantar dipantai laut.'
 The Holy Bible hanya menceritakan tentang kematian anak-anak Israel (Pharaoh beserta pasukannya), tetapi tidak bercerita bahwa tubuh Pharaoh/Fir'aun diselamatkan untuk pertanda dan pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka. Sekarang mari kita sedikit menyinggung pada saat Nabi Saw menceritakan wahyu Allah ini. Penduduk Mekkah semenjak masa yang panjang sebelum Nabi Muhammad Saw telah menciptakan tradisi dagang.
 Pada musim panas (al-shaif) kafilah-kafilah dagang berangkat ke Utara (Mesir, Palestina, Syria, Irak, Iran) dan pada musim dingin (al-syitak) kafilah-kafilah dagang bergerak keselatan (Yaman, Ethiopia). Jadi penduduk Mekkah pada masa Nabi Muhammad Saw itu sudah tidak merasa asing terhadap keadaan di Mesir pada masa itu. Piramid-piramid raksasa, kuil-kuil raksasa, tiang-tiang obleisk dan Spinx, semua itu cuma saksi bisu yang tiada bisa bercerita apapun kepada manusia, apalagi akan menjumpai dan menyaksikan batang tubuh Pharaoh masa itu.
Coba anda merenung sejenak dalam imajinasi anda, betapa sambutan penduduk Mekkah terhadap pemberitaan Nabi besar Muhammad Saw bahwa jenasah Fir'aun diselamatkan oleh Tuhan sebagai pertanda bagi orang-orang belakangan !
 Dalam abad ke-19 dengan kunci batu-Rosetta, yang pada akhirnya berheasil diterjemahkan huruf-huruf Demotik dan Hiroglipik pada batu-Rosetta itu oleh Jean Francois Champollion (1790-1832 M), maka coretan-coretan cakar ayam pada dinding-dinding Pyramid, dinding-dinding kuil dan tiang-tiang obelisk, mulai bercerita tentang masa silam. Jika menjelang abad ke-19 pengetahuan manusia tentang sejarah Cuma sampai abad ke-4 sebelum Masehi, maka sejak abad ke-19 pengetahuan sejarah telah menjangkau masa tiga puluh abad sebelum masehi. Tetapi jasad Pharaoh dari setiap dinasti, yang dikisahkan sedemikian rupa oleh tiang-tiang obelisk dan dinding-dinding piramid belum juga dijumpai.
 Expedisi berbagai bangsa bagaikan kena rangsang untuk mengerahkan kegiatan dan pembiayaan untuk menemukannya. Pada tanggal 6 Juli 1879 terjadilah apa yang dipandang 'peristiwa terbesar' bagi dunia sejarah. The Historian's History of The World vol.1 edisi 1926, dalam puluhan halamannya melukiskan peristiwa terbesar itu dengan sangat indahnya dan panjang lebar. Ir. Muhammad Ahmad Abdar-Rasul, seorang Arkeolog Mesir yang mengabdikan hidupnya untuk melakukan riset tanpa jemu-jemunya, telah berhasil pada akhirnya memberikan petunjuk kepada ekspedisi ilmiah Jerman - Mesir yang berada dibawah pimpinan Messrs, Emil Brugsch dan Ahmad Effendi Kamal itu, yaitu sebuah lubang kecil yang terletak tinggi pada dinding batu karang di 'lembah raja-raja' (Valley of Kings) dalam wilayah Mesir atas. Dengan peralatan dan tenaga manusia yang dipersiapkan sedemikian rupa pada tanggal 6 Juli 1879 dilakukan penerobosan kedalam relung sempit yang berceruk-ceruk dan berliku-liku itu, dan pada suatu ruangan besar yang terletak jauh disebelah dalam dijumpailah sekian puluh mummi dari para Pharaoh, termasuk mummi Rhamses II (Fir'aun) yang hidup pada masa Nabi Musa as, yaitu Pharaoh terbesar dan teragung dalam sejarah dinasti-dinasti Pharaoh ditanah Mesir.

Buku sejarah terbesar yang puluhan jilid tebalnya terbitan 'Encyclopedia Britannica Inc' menyimpulkan penemuan terbesar itu pada halaman 155 dengan kalimat :
Tiada suatuoun didalam penemuan baru yang lebih menggemparkan dan mendadak membawa dunia kuno kepada dunia sekarang ini daripada penemuan jenasah yang sesungguhnya dari pharaoh-pharaoh dalam bentuk daging dan darah, yang dipersiapkan untuk kita secara menakjubkan sekali oleh kepintaran luar biasa dari ahli rempah-rempah yang membalutnya. Penemuan itu telah menutup jurang antara masa purba dengan masa baru bagai pancaran kilat malam hari dari balik mendung keatas bumi.
Buku sejarah yang terpandang karya terbesar dunia itu telah memperdengarkan sambutan demikian hangat dan kagum akan penemuan itu, yang berarti secara sadar atau tidak telah menyambut demikian hangat dan kagum akan kebenaran sebuah wahyu Ilahi dalam Al-Qur'an.
 B. Kisah Romawi
Pernyataan tentang kekalahan pasukan Romawi oleh pasukan Persia yang terdapat dalam permulaan Surah Ar-Rum.
Pada tahun 325, raja Konstantin memeluk agama Kristen, dan menjadikan agama ini sebagai agama negara yang resmi (Awal dari terbentuknya konsili Nicea yang mengesahkan Trinitas). Secara spontan, rakyat Romawipunbanyak yang memeluk agama tersebut, sementara itu kekaisaran Persia, penyembah matahari, menolak untuk memeluk agama tersebut. Adapun raja yang memegang tampuk kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-7 M adalah Maurice, seorang raja yang kurang memperhatikan masalah kenegaraan dan politik. Oleh karenanya angkatan bersenjatanya pun kemudian mengadakan kudeta di bawah pimpinan panglimanya yang bernama Pochas.
Setelah mengadakan kudeta, Pochas naik tahta dan menghukum keluarga raja dengan cara yang kejam. Serta mengirim seorang duta ke Persia, yang pada waktu itu dipegang oleh Kisra Chorus II, putra Kisra Anu Syirwan yang adil.
Pada waktu Kisra tahu kejadian kudeta di Romawi, Kisra sangat marah karena Kisra pernah berhutang budi pada Maurice yang sekaligus juga mertuanya itu. Kemudian Kisra memerintahkan untuk memenjarakan duta besar Romawi, serta menyatakan tidak mengakui pemerintahan Romawi yang baru.
Akhirnya Kisra Chorus melancarkan peperangan terhadap Romawi. Angkatan perangnya merayap melintasi sungai Euphrat menuju Syam. Dalam serangan ini Pochas tidak dapat mempertahankan diri terhadap angkatan perang Persia yang telah menguasai kota Antiochia dan El Quds.

Sementara itu penguasa Romawi didaerah jajahan Afrika juga mengirimkan pasukan besar dibawah pimpinan puteranya, yaitu Heraklius. Bertolaklah pasukan tersebut dengan diam-diam melalui jalan laut, sehingga Pochas tidak tahu kedatangan mereka. Tanpa menghadapi perlawanan sama sekali, Heraklius akhirnya berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas. Walaupun Heraklius berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas, namun Heraklius tidak berhasil menahan badai pasukan Persia. Sehingga Romawi kehilangan daerah jajahannya dan tinggallah kekaisaran Romawi di ibukota saja. Penduduk yang tinggal di ibukota penuh diliputi rasa kekhawatiran akan serangan pasukan Persia yang akan memasuki ibukota.
Setelah berlangsung peperangan selama enam tahun, kaisar Persia mau mengadakan perdamaian dengan Heraklius tetapi dengan satu syarat, Heraklius harus menyerahkan seribu talent emas, seribu talent perak, seribu pakaian dari sutera, seribu kuda dan seribu gadis perawan kepada Kisra.
 Sementara pada ibukota Persia dan Romawi terjadi peristiwa tersebut, maka pada bangsa dipusat ibukota Jazirah Arabia, yaitu di Mekkah Almukarromah, terjadi pula hal yang serupa. Dikota tersebut terdapat orang-orang Majusi Persia, penyembah matahari dan api, dan orang-orang Romawi yang beriman kepada ajaran Isa (walau sudah diselewengkan).
Orang Islam dan orang-orang Romawi mengharapkan kemenangan mereka atas orang-orang kafir dan musyrikin, sebagaimana halnya mereka mengharapkan kekalahan orang-orang kafir Mekkah dan orang Persia, sebab mereka merupakan penyembah benda-benda materi. Sementara orang-orang Nasrani, meskipun sebagian dari mereka sudah menyimpang dari ajaran Isa Putra Maryam adalah merupakan saudara dan sahabat terdekat kaum Muslimin.
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rabib-rabib, (juga) karena sesungguhnya merekatidak menyombongkan diri." (QS. 5:82)
Dengan demikian, pertarungan yang terjadi antara orang-orang Persia dan Romawi menjadi lambang luar pertarungan antara orang-orang Islam dan musuh-musuhnya di Mekkah. Maka pada waktu Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi pada tahun 616 dan berhasil menguasai seluruh wilayah sebelah Timur negara Romawi, orang-orang Musyrikin pun mendapat kesempatan untuk menghina kaum Muslimin dengan mengatakan : 'Saudara kami berhasil mengalahkan saudara kamu. Demikian pula yang akan kami lakukan kepadamu jika kamu tidak mau mengikuti kami, meninggalkan agama kamu yang baru (Islam).'
Dalam keadaan yang menyakitkan itu, kaum Muslimin Mekkah sedang dalam kondisi yang paling lemah dan buruk dalam segi materi, sampai kemudian turun wahyu Allah kepada Nabi Besar Muhammad Saw :
 "Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. 30:1-6)

Sungguh turunnya wahyu ini kepada Nabi Saw merupakan suatu ujian mental dan Spiritual bagi semua sahabat-sahabat beliau. Jika apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw ini tidak terbukti, maka sudah bias diramalkan akan kehancuran kepercayaan mereka terhadap diri orang yang selama ini mereka percayai dan mereka kasihi.
Beberapa tahun kemudian, Heraklius membuat suatu rencana yang luar biasa untuk mengalahkan Persia. Heraklius tahu bahwa kekuatan angkatan laut Persia sangat lemah, oleh karena itu dia menyiapkan kapal-kapal untuk menyerang Persia dari belakang. Dia bertolak bersama-sama dengan sisa-sisa pasukannya lewat Laut Hitam ke Armenia, dan melakukan serangan kilat terhadap pasukan Persia. Menghadapi serangan mendadak itu, pasukan Persia tidak mampu bertahan dan lari bercerai berai.

Di Asia kecil, Persia memiliki pasukan yang besar. Tetapi Heraklius menyerangnya dengan tiba-tiba dengan kapal-kapal perangnya, dan berhasil menghancurkan pasukan Persia. Setelah memperoleh kemenangan yang besar itu, kembalilah Heraklius keibukota Konstantinopel lewat jalan laut. Setelah dua peperangan diatas, Heraklius melakukan peperangan yang lain melawan Persia pada tahun 623, 624 dan 625. Akibat peperangan tersebut, pasukan Persia terpaksa menarik diri dari seluruh tanah Romawi, dan Heraklius berada pada pusat yang memungkinkan baginya untuk menembus kejantung kekaisaran Persia. Akhirnya perang yang terakhir terjadi pada bulan Desember 627 disepanjang sungai Dajlah.

Pada waktu Kisra Chorus tidak dapat menahan arus tentara Romawi, ia melarikan diri dari istananya, tetapi kemudian ditahan oleh puteranya 'Siroes' dan dimasukkan ke dalam penjara. Puteranya ini membunuh 18 orang saudara-saudaranya yang lain didepan mata sang ayah, Kisra Chorus. Pada hari kelima, Kisra meninggal dunia dalam penjara.
 Selanjutnya Siroes pun terbunuh oleh salah seorang saudara kandungnya sendiri yang masih hidup. Maka mulailah pembunuhan-pembunuhan dilingkungan istana. Dalam masa 4 tahun, sudah 9 raja yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam situasi yang demikian buruk ini, jelas Persia tidak mungkin dapat melanjutkan peperangannya melawan kerajaan Romawi.
Maka akhirnya Kavadh II, salah seorang putera kisra Chorus yang masih hidup, meminta damai dan mengusulkan pengunduran diri pasukan Persia dari tanah Romawi. Pada bulan Maret tahun 628 M, Heraklius kembali kekonstantinopel dengan pesta besar-besaran. Umat Islampun yang mendengar kemenangan saudara-saudaranya para orang-orang Romawi ini melakukan tasbih dan syukur kepada Allah Swt. Semakin mendalamlah keyakinan dan kesetiaan mereka kepada Rasulullah Saw.
 Edward Gibbon memperkecil arti ramalan Al-Qur'an dengan menghubungkannya dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Muhammad Saw kepada Kisra Choros II. Tetapi hal ini terbantahkan dengan melihat waktu turunnya ayat tersebut kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya. Surat dari Nabi Saw tersebut dikirim pada tahu ke-7 H, setelah perdamaian Hudaibiah, atau pada tahun 628 M. Sementara Qur'an Surah Ar-Ruum ayat 1-6 yang memuat ramalan tersebut turun pada tahun 616 M, lama sebelum terjadinya Hijrah Nabi dan sahabat-sahabatnya. Jadi antara kedua peristiwa itu terdapat jarak 12 tahun.
Hal ini pun dimuat oleh buku 'Encyclopedia of Religion and Ethics'. 

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon beri masukan yaaaa,,,,,